Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 2 untuk sementara disuspensi setelah 96 siswa SMP Negeri 6 Boyolali mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penghentian sementara operasional SPPG tersebut dilakukan sembari menunggu hasil asesmen dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan pada para siswa.
Ketua Satgas MBG Boyolali, M. Syawaludin, mengatakan keputusan suspensi telah disampaikan oleh pihak koordinator wilayah (Korwil).
"SPPG ini sementara disuspensi, sambil nanti menunggu asesmen dari BGN kapan operasional," kata Syawaludin, saat ditemui di SPPG Siswodupuran, Jumat (21/8/2026).
SPPG Siswodipuran 2 sebelumnya melayani 2.426 penerima manfaat yang tersebar di 12 sekolah dan satu posyandu.
Namun, dari ribuan penerima manfaat tersebut, dugaan kejadian keracunan hanya dilaporkan terjadi di SMPN 6 Boyolali.
"SPPG Siswodipuran 2 ini melayani sebanyak 2.426 penerima manfaat. Melayani 12 sekolah, satu posyandu. Yang kejadiannya cuma di SMPN 6 Boyolali," ujarnya.
Syawaludin mengatakan penyebab pasti munculnya keluhan pada siswa belum dapat dipastikan. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah gejala tersebut memang berkaitan dengan makanan MBG.
Ia menyebut secara teknis SPPG Siswodipuran 2 telah memenuhi persyaratan. Namun, sampel makanan yang dikonsumsi siswa tetap diamankan untuk menjalani pemeriksaan.
"Kuncinya apa yang menjadi penyebab, karena yang saya tahu untuk satgas secara teknis sebetulnya ini memenuhi syarat semua. Cuma mungkin persoalannya harus kita lakukan Labkesda," katanya.
Menurut Syawaludin, setiap SPPG memang diwajibkan menyimpan sampel makanan selama tiga hari sebagai cadangan apabila terjadi persoalan yang membutuhkan pemeriksaan.
"Ada ketentuan semua SPPG harus punya cadangan untuk diamankan selama tiga hari dan ini sampelnya sudah kita ambil, sudah kita kirim ke Labkesda Semarang," ungkapnya.
Baca juga: Guru SMPN 6 Boyolali Ternyata Ikut Cicipi MBG, Akui Jamur Terasa Kecut Hingga Ayam Berbau
Pemeriksaan dilakukan di Labkesda Semarang karena fasilitas laboratorium di daerah dinilai terbatas.
Sementara itu, Dinas Kesehatan bersama Satgas MBG telah melakukan penyisiran terhadap siswa yang mengalami keluhan.
Syawaludin menyebut terdapat 96 siswa yang mengalami sakit perut hingga diare. Dari jumlah tersebut, 17 siswa telah mendapatkan penanganan dan obat-obatan.
"Kebetulan hari ini sudah melakukan antisipasi penyisiran. Kebetulan sampelnya 17 siswa memang perutnya sakit, kita aja, diare lah istilahnya. Ini sudah kita berikan penanganan pemberian obat-obatan," ujarnya.
Penanganan dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami para siswa.
Meski SPPG Siswodipuran 2 dihentikan sementara, distribusi MBG kepada 2.426 penerima manfaat tidak ikut dihentikan.
Mulai Senin (24/8/2026), penyaluran makanan akan dialihkan kepada SPPG lain agar kebutuhan MBG di 12 sekolah dan satu posyandu tetap terpenuhi.
"Sehingga mulai Senin nanti penerima manfaat 2.426 nanti sudah dilakukan pembagian. Sementara ditanggung, dilayani oleh SPPG yang lain," kata Syawaludin.
Baca juga: Fakta Menarik Kasus Keracunan di SMPN 6 Boyolali : Satu Kelas Aman dari Diare Pasca Tak Konsumsi MBG
Sebanyak 14 SPPG akan berbagi tugas menggantikan pelayanan SPPG Siswodipuran 2.
"Ada 14 SPPG yang bagi tugas untuk melayani MP-PG di 12 sekolah, satu posyandu, mulai Senin itu," jelasnya.
Syawaludin memastikan jumlah tersebut mencukupi untuk melayani sekitar 2.400 penerima manfaat yang sebelumnya mendapat makanan dari SPPG Siswodipuran 2.
"14 SPPG ini cukup. Dibagi 2.400, kalau dibagi 12 kan cukup ringan," pungkasnya.