BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Penampakan beruang madu yang serang 15 Unggas di Desa Gunung Antasari Tanahbumbu Kalsel
Tim gabungan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Tanah Bumbu berhasil mengevakuasi seekor beruang madu jantan yang meresahkan warga Desa Gunung Antasari, Kecamatan Simpang Empat, Jumat (21/8/2026) dini hari.
Satwa liar berbobot sekitar 50 kilogram tersebut terjebak masuk ke dalam perangkap besi yang dipasang petugas sekitar pukul 03.00 WITA usai mengincar pemukiman penduduk.
Upaya penangkapan ini merupakan respons cepat petugas atas keresahan masyarakat setempat yang kehilangan belasan ekor hewan ternak secara misterius dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Penutupan Permanen Resmi Dicabut, Pendakian Gunung Halau-Halau HST Tunggu Kesepakatan
Baca juga: Api Teror Pemukiman di Kusan Hilir Tanahbumbu, Satu Rumah Ludes Terbakar
Kepala Satpol PP dan Damkar Tanah Bumbu, Syaikul Ansyari, mengonfirmasi bahwa perburuan beruang madu berawal dari laporan warga mengenai serangan terhadap hewan peliharaan mereka sejak Rabu lalu.
"Awalnya kami mendapati laporan bahwa ada ternak warga yang diserang oleh beruang tersebut. Total ada 15 ekor ayam dan itik milik warga yang menjadi korbannya," kata Syaikul di Batulicin, Jumat.
Menerima aduan tersebut, personel Damkar langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemetaan jalur perlintasan yang kerap dilalui satwa pemakan segala itu.
Petugas kemudian memasang jebakan khusus di titik-titik krusial yang diduga menjadi perlintasan utama sang beruang menuju kandang ternak warga.
"Tim kami datang dan melakukan pemetaan di mana saja beruang tersebut berpotensi lewat, lalu memasang jebakan. Sekitar jam 03.00 WITA kami mendapat laporan beruang sudah tertangkap di perangkap," ujar Syaikul.
Syaikul memastikan bahwa selama meneror pemukiman Gunung Antasari, satwa dilindungi tersebut hanya mengincar hewan ternak dan tidak sampai melukai warga sekitar.
"Untuk mengganggu manusia alhamdulillah tidak ada, akan tetapi mereka mengganggu ternak warga," tuturnya.
Ia menambahkan, seluruh tahapan evakuasi dijalankan dengan cermat agar keselamatan warga terlindungi tanpa mencederai kondisi fisik satwa tersebut.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak mendekati atau mencoba menangkap sendiri apabila kembali menemukan satwa liar di sekitar pemukiman. Segera laporkan kepada petugas agar evakuasi dilakukan dengan aman," ucap Syaikul.
Usai diamankan dari pemukiman, beruang madu tersebut langsung diserahterimakan kepada pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Burung Sewangi Wilayah Batulicin, Muhammad Tejar, menyatakan bahwa satwa tersebut akan dititipkan sementara ke lembaga konservasi lokal.
"Untuk sementara, beruang ini akan dititiprawatkan di Lembaga Konservasi Jhonlin Lestari sambil menunggu arahan pimpinan terkait langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan dilepasliarkan kembali ke habitatnya," kata Tejar.
Terganggu Manusia
Kasus penangkapan beruang jantan berbobot 50 kilogram di Desa Gunung Antasari pada Jumat (21/8/2026) dini hari menjadi catatan interaksi negatif ketiga yang ditangani BKSDA sepanjang tahun 2026.
Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Burung Sewangi Wilayah Batulicin, Muhammad Tejar, mengungkapkan tren konflik satwa liar ini terus berulang di beberapa titik wilayah Tanah Bumbu.
"Di tahun 2025 kemarin ada 7 laporan yang masuk ke pihak kami, sementara di tahun 2026 ini sudah ada tiga laporan, yaitu di Desa Selaselilau dan Gunung Antasari," kata Tejar, Jumat (21/8/2026).
Tejar menjelaskan, pola gangguan satwa di setiap desa memiliki karakteristik berbeda, mulai dari merusak komoditas perkebunan hingga memangsa hewan ternak warga.
"Untuk kasus kali ini tidak ada kerusakan perkebunan, namun penanganan sebelumnya di Desa Selaselilau, beruang memakan umbut kebun sawit milik warga," ujarnya.
Mengenai fenomena beruang yang mengincar belasan unggas warga di Gunung Antasari, Tejar menilai hal itu dipicu oleh naluri teritorial saat satwa merasa ruang geraknya tersentuh aktivitas manusia.
“Terkait hewan yang mati akibat serangan ini, kemungkinan beruang merasa ada hewan lain yang masuk ke wilayah kekuasaannya,” tutur Tejar.
Saat ini beruang jantan tersebut telah dievakuasi ke Lembaga Konservasi Jhonlin Lestari untuk menjalani perawatan sementara sebelum dikembalikan ke habitat aslinya.
Tips Keselamatan Saat Bertemu Beruang, Hindari Kontak Mata
Beruang memang bukan hewan yang biasa ditemui di Indonesia. Hewan ini biasanya banyak dijumpai di Amerika Serikat atau Rusia.
Di Indonesia, kamu mungkin tidak perlu khawatir bertemu dengan beruang yang dikenal buas dan membahayakan.
Namun andai ada rencana bertualang di alam ketika berkunjung ke AS atau Rusia, maka sebaiknya kamu memiliki wawasan seputar bagaimana mengantisipasi serangan beruang.
Tips selamat dari serangan beruang
Berikut ini adalah tips seputar keselamatan dari serangan beruang dilansir dari CNN Travel, Rabu (12/06/2024):
1. Jaga jarak
Jangan mendekati beruang dan beri cukup ruang bagi mereka untuk menjauh dari Anda. Jaga jarak minimal 91 meter untuk beruang di Yellowstone dan 61 meter untuk beruang hitam di Taman Nasional Shenandoah, AS.
2. Bicaralah dengan tenang
Jika bertemu dengan beruang, bicaralah dengan tenang dan rendah untuk mengidentifikasi diri Anda sebagai manusia.
3. Berjalan bersama kelompok
Lebih aman untuk berjalan bersama kelompok karena akan tercium bau dan lebih bising, sehingga kemungkinan beruang tidak akan mendekat.
4. Gendong anak kecil atau anjing
Jika membawa anak kecil atau anjing, sebaiknya gendonglah untuk menghindari potensi konflik dengan beruang.
5. Hindari kontak mata langsung
Jangan menatap mata beruang secara langsung dan menjauhlah secara perlahan, menyamping jika memungkinkan.
Tips saat beruang mendekat
Jika beruang mulai mendekati Anda dengan agresif, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Berdiri tegak
Jika yang mendekat adalah beruang grizzly atau beruang hitam, jangan lari atau memanjat pohon. Berdiri tegak di hadapan mereka.
Beruang Grizzly. Hewan yang dapat bertahan hidup dari perubahan iklim.
2. Buat suara keras
Buatlah suara keras dengan berteriak, membenturkan panci dan wajan, atau menggunakan klakson untuk menakut-nakuti beruang.
3. Pura-pura mati
Jika berhadapan dengan beruang grizzly yang tidak mau mundur dan serangan akan segera terjadi, Anda disarankan untuk berpura-pura mati.
Penting untuk membedakan antara beruang hitam dan beruang grizzly. Beruang hitam memiliki wilayah jelajah yang lebih luas daripada beruang grizzly. Selain itu, bentuk wajah dan punuk di pundak juga dapat membedakan keduanya.
Tips saat berkemah di area beruang
Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan saat berkemah di daerah beruang adalah:
Gunakan loker penyimpanan makanan jika tersedia di perkemahan dan area piknik.
Hindari menyimpan makanan di dalam tenda atau kendaraan.
Buanglah sampah di tempat sampah yang tahan beruang.
Selain itu, penting untuk tidak memberi makanan kepada beruang, karena hal ini dapat menyebabkan masalah kronis dan bahkan kematian bagi beruang tersebut.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk tetap aman saat berada di daerah beruang, seperti membawa semprotan beruang dan senjata api jika diperlukan. Namun, penting untuk berlatih penggunaannya terlebih dahulu sebelum pergi ke alam liar.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin/kompas.com)