Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Fenomena kecanduan gadget pada anak dinilai semakin mengkhawatirkan dan tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
Penggunaan gadget yang berlebihan berpotensi memengaruhi kehidupan sosial, proses belajar, hingga perkembangan psikologis anak.
Karena itu, kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan dinilai penting untuk mengendalikan penggunaan teknologi di kalangan anak-anak.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da'im, saat hadir dalam serial Podcast Ngobrol Bareng Dewan di Studio TribunJatim Network.
Podcast tersebut secara khusus membahas peran sekolah dan orang tua dalam mengatasi kecanduan gadget pada anak.
Merujuk data WHO dan UNICEF yang disampaikan Suli, rata-rata waktu anak menggunakan gadget pascapandemi Covid-19 mencapai sekitar lima hingga tujuh jam dalam sehari.
Baca juga: Wabup Trenggalek Dorong Orang Tua Bangun Kedekatan dengan Anak agar Tak Ketergantungan Gadget
Menurutnya, durasi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak kini menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.
"Kecanduan gadget pada anak saat ini sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan. Karena apa? Karena gadget ini bukan sekadar lagi sebagai alat komunikasi atau media belajar, tetapi telah menjadi ruang hidup kedua," kata Suli saat hadir di Studio TribunJatim Network dalam serial Podcast Ngobrol Bareng Dewan.
Podcast ini memang digelar secara khusus dengan pembahasan tentang Peran Sekolah dan Orang Tua Dalam Mengatasi Kecanduan Gadget Anak.
Suli memandang hal ini mengkhawatirkan, karena jika dibandingkan dengan kehidupan sosial, anak-anak saat ini justru cenderung senang bermain gadget.
Fenomena semacam ini tentu sangat gampang dilihat di masyarakat saat ini. Suli memandang bahwa fenomena ini merupakan PR yang tidak bisa kita anggap sederhana.
Baca juga: Dorong Industri Kreatif Jatim Makin Tumbuh, DPRD Jatim Usul Ajang Fesyen Libatkan Pelajar SMK
Apalagi dalam perspektif psikologi perkembangan, kondisi ini disebut sebagai behavioral addiction.
Yaitu, ketergantungan perilaku yang memicu dopamin berlebihan di otak akibat stimulasi digital. Sehingga tak bisa dianggap sebagai persoalan sederhana.
Karena yang terjadi adalah ketergantungan secara terus-menerus dan dampaknya secara sosial serta kejiwaan tercipta oleh gadget yang dia pegang.
"Kalau separuh dari kehidupan sehari-harinya digunakan untuk menggunakan gadget, kebutuhan belajarnya kebagian berapa, peningkatan kualitas dirinya kebagian berapa?," ujar Suli yang juga merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.
Baca juga: Biar Tidak Bosan, DPRD Jatim Usul Wawasan Kebangsaan untuk Generasi Muda Dikemas Lewat Digital
Meski demikian, tentu tak bisa dipungkiri bahwa kecanggihan teknologi informasi seperti gadget ini ibarat memiliki dua sisi mata uang.
Satu sisi bisa positif jika digunakan dengan optimal, namun bisa negatif jika penggunaannya pada anak dilakukan secara berlebihan.
Dalam kondisi ini, peran sekolah dan orang tua sangat vital. Keduanya perlu sama-sama berperan.
Yakni, harus dipastikan sejauh mana orang tua memahami fungsi internet atau gadget sebagai media pembelajaran mengingat tidak semua yang ada di gadget itu negatif.
"Apakah kita melarang? Tidak akan mungkin, karena gadget-nya ada dan eranya sudah berubah. Bukan era zaman saya dulu yang cukup gobak sodor atau apa sudah cukup hiburan kita. Kalau sekarang tidak seperti itu karena fasilitas melekat pada diri kita semua," jelasnya.
Pemerintah sedianya telah membuat pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.
Ini setelah sebelumnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026.
Suli memandang hal ini positif. Meskipun, ia menyadari bahwa aturan semacam ini perlu mendapat dukungan seluruh pihak. Orang tua tidak boleh abai pada urusan ini.
"Harus ada kesungguhan, bukan sekadar aturan administratif. Orang tua juga harus peduli," ucap politisi senior PAN ini.
Lebih jauh, Suli mendorong kesadaran bersama bahwa teknologi itu memang bukan musuh, namun juga harus dikelola dengan bijak.
Anak-anak perlu dikenalkan teknologi sebagai alat belajar dan berkarya, bukan sekadar hiburan tanpa batas.
Orang tua dan guru diharapkan harus hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping. Ini penting sebab pendampingan menciptakan kedekatan emosional sehingga anak lebih kuat menghadapi pengaruh negatif dunia digital.
"Kita tidak mungkin menjauhkan anak dari gadget, tapi bagaimana gadget menjadi irama yang melahirkan nada indah untuk mencapai harapan dan cita-cita anak. Jangan jadi pengawas yang selalu memunculkan kata larangan, tapi jadilah pendamping untuk melahirkan anak-anak yang bertanggung jawab," tandasnya.