Respons Positif Usulan Kotak Suara AHWA Muktamar ke-35 NU Ditempatkan di Ndalem Kiai Wahab Jombang
Dyan Rekohadi August 21, 2026 11:06 PM

 

SURYA.CO.ID - Usulan Panitia Lokal Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengenai lokasi penempatan kotak suara pengusulan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) mendapat respons hangat dari jajaran pimpinan pusat.

Panitia mengusulkan agar wadah penampung aspirasi kiai tersebut diletakkan di area bersejarah Ndalem KH Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas, Kabupaten Jombang.

Langkah ini dinilai menjadi bagian teknis yang dinamis namun tetap wajib mengedepankan prinsip pengawasan ketat dari seluruh elemen.

Baca juga: Berkah Muktamar NU ke-35, Pesanan Sablon Kaos di Jombang Melejit hingga 100 Persen

 

Sinyal Hijau PBNU dan Keamanan Kotak Suara

Sikap terbuka atas usulan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Pernyataan ini dilontarkan usai dirinya mengikuti rangkaian acara istighosah di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada Kamis (20/8/2026) malam.

Gus Ipul menilai letak geografis kotak suara fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, selama garansi keamanan dan transparansi dapat dijaga penuh.

"Saya kira itu usulan yang baik. Tapi itu teknis. Yang penting keamanannya terjaga," ucap Gus Ipul dalam keterangan yang ditulis Tribunjatim.com, Jumat (21/8/2026).

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Ribuan Nahdliyin Berdoa Bersama di Tambakberas Jombang

 

Mekanisme AHWA Baku dan Transparan

Sistem pengusulan jajaran kiai anggota AHWA sendiri berawal dari masukan resmi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) serta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU).

Nama-nama pilihan tersebut nantinya diserahkan delegasi saat melakoni proses pendaftaran, untuk kemudian dimasukkan ke kotak bersegel.

Gus Ipul menekankan bahwa lokasi penyimpanan akhir tidak menjadi masalah selama akses pemantauan publik tetap terbuka.

"Lokasinya di mana saja, yang penting saat registrasi dimasukkan ke kotak yang sudah terkunci. Selama proses muktamar bisa ditempatkan di mana saja yang aman, transparan, dan bisa dilihat oleh semua pihak," ujarnya melanjutkan.

Di samping itu, ia mengimbau segenap warga Nahdliyin agar tidak termakan narasi spekulatif terkait AHWA yang ramai beredar di jejaring media sosial.

Prosedur AHWA dipastikan bukan hal baru yang mendadak diciptakan, melainkan regulasi resmi organisasi yang telah dipraktikkan pada dua periode muktamar terdahulu.

Tahapan ini memegang peranan vital karena berkaitan langsung dengan proses penentuan posisi tertinggi yakni Rais 'Aam PBNU.

Mekanisme penentuan nama pun harus melalui musyawarah resmi rapat harian Syuriyah di tingkat PCNU maupun PWNU sebelum disetorkan ke meja registrasi.

Baca juga: Indahnya Toleransi Jelang Muktamar NU, Komunitas Gereja Jombang Sediakan Rumah Singgah Gratis

 

Persiapan Fisik Arena Muktamar Tembus 85 Persen

Sebelum menghadiri kegiatan doa bersama pada malam harinya, Gus Ipul selaku Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU juga turun langsung meninjau lapangan.

Ia mendampingi Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar guna mengecek kesiapan fisik serta fasilitas pendukung di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas.

Inspeksi tersebut mencakup pemeriksaan ruang-ruang persidangan hingga kesiapan lokasi utama yang akan dipakai untuk acara pembukaan.

Mengingat perhelatan besar ini dijadwalkan buka pada 27 Agustus 2026, kemajuan pengerjaan infrastruktur dilaporkan berjalan sangat cepat.

"Kami mendampingi Rais 'Aam untuk melihat secara langsung perkembangan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang insyaallah akan dibuka pada 27 Agustus. Secara keseluruhan, persiapannya sudah lebih dari 85 persen," katanya.

Sisa waktu menjelang hari puncak bakal dimaksimalkan oleh sinergi panitia pusat dan lokal untuk merampungkan seluruh detail pekerjaan yang masih tersisa.

PBNU memastikan percepatan pembangunan sarana pendukung akan terus digenjot hingga seluruh arena siap digunakan secara sempurna.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.