Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saifullah | Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM, JANTHO – Pagi di sebuah sekolah dasar (SD) mungkin terlihat sederhana.
Ada guru yang masuk kelas, murid-murid yang belajar, serta rutinitas pendidikan yang berjalan seperti biasa.
Namun, dari tempat sederhana itu, sebuah mimpi besar sedang tumbuh.
Dari SD Negeri Lamsie, Kabupaten Aceh Besar, Muharil, SPd, MPd, PhD Candidate, memilih untuk tidak berhenti belajar.
Di tengah kesibukannya sebagai kepala sekolah, ia justru mengambil langkah lebih jauh dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di UMAM, Malaysia.
Keputusan tersebut bukan lahir dari kehidupan yang serba mudah.
Sebagai putra asli Aceh Besar yang lahir di Montasik, perjalanan Muharil menuju pendidikan tinggi menghadapi berbagai tantangan.
Keterbatasan biaya, waktu, tenaga, hingga tanggung jawab sebagai kepala sekolah menjadi bagian dari perjalanan yang harus dijalani.
Baca juga: Disdikbud Aceh Besar Gandeng FKIP USK Tingkatkan Kapasitas Guru PJOK
Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia biarkan hilang: kemauan untuk terus belajar.
Bagi seorang pendidik, belajar bukan sekadar aktivitas untuk mendapatkan gelar.
Belajar adalah cara untuk memperbaiki diri, memperluas wawasan, dan pada akhirnya memberikan manfaat yang lebih besar bagi peserta didik serta lingkungan pendidikan.
Itulah yang coba ditunjukkan Muharil melalui perjalanannya.
Ketika kesibukan memimpin sekolah datang bersamaan dengan tuntutan pendidikan doktoral, ia harus membagi waktu dan energi.
Tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, ada keraguan, bahkan ada keadaan yang mungkin membuat seseorang berpikir untuk berhenti.
Tetapi justru dari situ nilai perjuangan tersebut terlihat.
Muharil membuktikan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang.
Dengan ketekunan, usaha yang konsisten, doa, serta keberanian mengambil kesempatan, jalan yang sebelumnya terasa sulit perlahan mulai terbuka.
Salah satu pintu kesempatan itu datang melalui beasiswa yang diperolehnya untuk melanjutkan pendidikan doktoral.
Beasiswa tersebut bukan hanya berarti dukungan dalam pembiayaan pendidikan.
Baca juga: Disdikbud Aceh Besar Evaluasi Penerapan SPT di Jenjang SD dan SMP
Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan kesungguhan dapat mempertemukan seseorang dengan peluang yang selama ini mungkin hanya berani dibayangkan.
Dalam perjalanan tersebut, dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Besar turut menjadi bagian penting.
Dukungan itu menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pendidik bukan semata-mata kepentingan individu, tetapi juga investasi bagi masa depan pendidikan daerah.
Sebab, kualitas sekolah pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari kualitas guru dan tenaga kependidikannya.
Kisah Muharil pun menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang kepala sekolah yang mengejar gelar doktor.
Ini adalah cerita tentang seorang guru yang memilih untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Pesan tersebut penting bagi para pendidik lainnya.
Seorang guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, berhitung, atau berbagai pengetahuan kepada murid.
Guru juga mengajarkan nilai melalui sikap dan perjalanan hidupnya.
Ketika seorang guru berani melanjutkan pendidikan, ia sedang menunjukkan kepada murid bahwa belajar tidak mengenal batas usia.
Ketika seorang guru tetap berjuang meskipun menghadapi keterbatasan, ia sedang mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah.
Dan ketika seorang guru berani mengejar mimpi yang tampak jauh, ia sedang memperlihatkan kepada generasi muda bahwa cita-cita memang harus diperjuangkan.
Dari Lamsie, perjalanan itu dimulai.
Sebuah sekolah dasar di Aceh Besar menjadi titik awal dari langkah yang membawa seorang pendidik menuju ruang akademik yang lebih luas.
Dari ruang kelas yang sederhana, Muharil membawa semangat belajar hingga ke jenjang doktoral di Malaysia.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak selalu bermula dari gedung megah atau fasilitas yang lengkap.
Kadang-kadang, perubahan justru dimulai dari seorang guru yang memiliki keberanian untuk berkata kepada dirinya sendiri: saya masih harus belajar.
Jika guru terus bertumbuh, maka sekolah memiliki peluang untuk ikut berkembang.
Ketika sekolah berkembang, murid mendapatkan lingkungan belajar yang lebih baik.
Dan ketika semakin banyak pendidik memiliki semangat untuk meningkatkan kapasitas, maka kualitas pendidikan daerah pun akan memiliki fondasi yang semakin kuat.
Di tengah tuntutan agar pendidikan Aceh Besar semakin maju dan kompetitif, kisah Muharil dapat menjadi salah satu contoh bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus dimulai dari keberanian untuk berproses.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai.
Tidak harus menunggu memiliki banyak sumber daya untuk bermimpi.
Sebab, terkadang kesempatan datang bukan kepada mereka yang memiliki segala sesuatu, melainkan kepada mereka yang tidak berhenti mengetuk pintu kesempatan.
Perjalanan Muharil masih panjang.
Gelar doktor bukanlah garis akhir, melainkan bagian dari perjalanan untuk terus memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan.
Dari Lamsie, sebuah mimpi sedang disemai.
Mimpi tentang guru yang terus belajar.
Tentang sekolah yang terus bertumbuh.
Tentang generasi yang mendapatkan pendidikan lebih berkualitas.
Dan tentang Aceh Besar yang tidak hanya memiliki sekolah, tetapi juga memiliki pendidik-pendidik yang berani membawa pendidikan daerahnya berdiri lebih tinggi.
Pada akhirnya, pendidikan yang hebat lahir dari manusia yang tidak pernah merasa selesai belajar.
Dan dari seorang guru yang terus bertumbuh, selalu ada harapan bagi lahirnya generasi yang lebih kuat.
Dari Lamsie Muharil menyemai mimpi.
Dari para guru yang terus belajar, siswa membangun pendidikan Aceh Besar yang semakin maju, berdaya saing, dan bergengsi.(*)