Sleman, DIY (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem industri film, animasi, dan video sebagai pilar utama pembangunan ekonomi kreatif (ekraf) berbasis inklusivitas dan daya saing global.

Komitmen tersebut sejalan dengan keberhasilan Kabupaten Sleman lolos seleksi nasional tahap awal untuk menjadi bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN) bidang perfilman.

​"Sleman memiliki modal dasar yang sangat kuat. Kami optimistis industri film, animasi, dan video tidak hanya menjadi karya, tetapi juga memberikan manfaat nyata untuk menggerakkan perekonomian serta mengurangi angka pengangguran terdidik," kata Bupati Sleman Harda Kiswaya di Sleman, Jumat.

​Harda mengungkapkan tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Sleman yang saat ini berada di kisaran lima persen menjadi salah satu tantangan yang disasar melalui optimalisasi sektor ekonomi kreatif.

​Sebagai langkah konkret membangun ekosistem yang inklusif, Pemkab Sleman telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp13 miliar melalui program Sleman Pintar periode 2022-2025. Program ini menyasar hampir 500 lulusan SMA/SMK, khususnya dari keluarga kurang mampu, untuk mendapatkan pelatihan dan pendidikan di bidang perfilman, animasi, dan video.

"Kami ingin anak-anak Sleman tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pencipta, animator, dan pelaku industri kreatif yang mandiri," kata Harda.

Infrastruktur pendukung juga terus diperkuat melalui pengoptimalan Studio Alam Gamplong, Sleman Creative Space di Taman Kuliner Caturtunggal, Taman Budaya Sleman, serta wacana pembentukan Komisi Film Daerah (Regional Film Commission) guna mempermudah iklim investasi dan produksi.

Kawasan Sleman juga telah menjadi langganan lokasi syuting berbagai film layar lebar nasional, seperti "Bumi Manusia", "Ada Apa dengan Cinta? 2", dan "KKN di Desa Penari", serta menjadi tuan rumah ajang film internasional Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

"​Melalui ketersediaan infrastruktur, SDM terdidik, dan dukungan regulasi, Pemkab Sleman optimistis dapat lolos pada tahapan seleksi UCCN berikutnya dan memantapkan posisi Sleman sebagai kota film berkelas dunia," katanya.

​Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya menyampaikan Sleman telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Subsektor film, Animasi, dan Video sejak 2023 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 102/DI/0100/MK/2023.

​"Modal dasar Sleman sangat lengkap, mulai dari studio animasi, komunitas film, lembaga pelatihan, tempat produksi, hingga keberadaan perguruan tinggi dan SMK yang membidangi sinematografi dan animasi," kata Edy.

​Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Abu Bakar menambahkan potensi fisik dan nonfisik Sleman tercatat sangat masif untuk mendukung iklim produksi sinema.

Sleman saat ini memiliki 16 komunitas film, lebih dari sembilan studio animasi terdaftar, 24 lokasi produksi film, lima gedung bioskop, hingga tiga stasiun televisi lokal.

"Di luar data terdaftar, ada banyak pekerja kreatif lepas (freelance) yang bergerak di bidang animasi dan video di kawasan pusat pendidikan seperti Depok dan Condongcatur," kata Abu Bakar.