TRIBUNNEWS.COM, MALANG- Anif Ashar (47), mengaku kaget karena masuk dalam desil sembilan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Desil 9 adalah pengelompokan tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat pada posisi relatif tinggi atau berada di atas golongan menengah ke atas.
Anif Ashar mencari nafkah dengan berjualan pentol dari garasi kecil di samping rumahnya. Menurut Anif, aktivitasnya sehari-hari terbilang sederhana.
Selain berjualan pentol, ia juga mengajar mengaji di salah satu pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
"Kalau mengajar mengaji ya pendapatannya tidak tentu, yang penting ikhlas," kata Anif di rumahnya, Kamis (20/8/2026).
Karena itu, Anif mengaku bingung ketika melihat dirinya justru masuk desil 9, yang dalam pengelompokan DTSEN menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tergolong tinggi.
Anif pun mempertanyakan bagaimana data tersebut bisa menempatkannya pada kelompok tersebut.
Pasalnya, kondisi kehidupan sehari-harinya menurut dia jauh dari gambaran masyarakat dengan tingkat kesejahteraan sangat tinggi.
Omzet Jualan Pentol Rp350 Ribu Sebulan
Sedangkan, dari berjualan pentol kabul, ia hanya mendapat omzet sekitar Rp 350.000 sebulan.
"Kalau dulu pernah dapat banyak, setiap minggu bisa habis Rp1,4 juta untuk kulakan, sekarang kulakannya sebulan sekali, itu pun hanya Rp 350.000," ceritanya.
Baca juga: Dampak Desil 9-10 Dibatasi Beli BBM Subsidi, Tak Ada Mobil Mewah Antre Pertalite di SPBU Jaksel
Kata Anif, pendapatannya mulai merosot sejak adanya program makan bergizi gratis (MBG) dari pemerintah.
Menurut dia, adanya program tersebut membuat para siswa sekolah yang selama ini jadi pangsa pasarnya jarang jajan di luar.
"Kan anak-anak itu kenyang dapat MBG, jadi jarang mau beli pentol," ujarnya.
Meski pendapatannya tidak stabil, Anif mengaku enggan beralih ke profesi yang telah menghidupi dirinya dan keluarga selama 5 tahun terakhir.
Menurut dia, kondisi ekonomi yang terus menurun membuat semua profesi yang ada saat ini seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Mau jualan yang lain juga kondisinya sama, teman-teman banyak yang ngeluh juga jualannya tidak laku, jadi ya daripada harus buka pasar lagi saya telateni saja sedapatnya," ungkapnya.
Kondisi ekomomi yang belum bisa dikatakan mapan itu membuat Anif kaget saat membuka situs DTSEN dan menemukan data bahwa dirinya masuk desil 9.
Baca juga: Cara Cek Desil di Website Cek Bansos Kemensos Pakai NIK, Ini Langkahnya
Anif mengaku tidak berharap berada di desil 5 ke bawah untuk mendapat bantuan sosial dari pemerintah.
Namun, ayah dua anak ini berharap pemerintah memetakan situasi ekonomi yang dihadapi warganya secara serius.
"Saya tidak mengharap bantuan, tapi ya datanya yang betul, jangan diawur," tegasnya.
Anif menduga, masuknya ia dalam desil 9 dikarenakan ia pernah beberapa kali meminjamkan KTP ke temannya untuk jual beli mobil.
"Apa karena KTP saya pernah dipinjam untuk beli mobil, tapi itu dulu, sekarang nyatanya saya juga tidak punya mobil," kelakarnya.
Bisa Disanggah
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan posisi desil seseorang tidak ditentukan hanya dari besarnya gaji.
Ada berbagai kondisi dan indikator sosial ekonomi lain yang ikut diperhitungkan dalam menentukan posisi masyarakat di dalam DTSEN.
Ia menjelaskan, penentuan desil merupakan kewenangan Badan Pusat Statistik (BPS).
Data tersebut dihitung dengan mempertimbangkan sejumlah variabel, sehingga nominal penghasilan bulanan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan.
Karena itu, Gus Ipul meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang pasti masuk desil tertentu hanya karena melihat jumlah pendapatannya.