Mengenang Syahriar Tato: Aktor, Mantan Birokrat Senior, eks Rektor dengan Belasan Gelar dan Peran
Sudirman August 22, 2026 10:09 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Sulawesi Selatan kehilangan salah satu sosok yang menjalani hidup dengan banyak peran: birokrat, teknokrat, seniman, bintang film, engineer, dan mantan Rektor Institut Kesenian Makassar.

Dr. Ir. Drs. H. Syahriar Tato, BAE., S.Sos., SH., S.Sn., MS., MH., MM., meninggal dunia di RS Hermina Makassar, Sabtu (22/8/2026) pukul 05.58 Wita, selepas waktu subuh.

Rumah sakit swasta di Jalan Toddopuli Raya Timur, Makassar, Sulsel.

“Innalillahi wainnailaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah Bapak Dr. Ir. Drs. H. Syahriar Tato, BAE., S.Sos., SH., S.Sn., MS., MH., MM.,” kata kolega almarhum, Dedi Alamsyah Mannaroi saat membagikan kabar duka.

Syahriar berpulang dalam usia 75 tahun, saat memasuki usia pensiun.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di kawasan Jalan Hertasning Aroepala, kompleks Permata Hijau Lestari, Makassar, sekitar 3 Km dari RS Hermina.

Lahir pada 21 Februari 1951, di Pinrang, Sulsel, Syahriar satu tempat kelahiran dengan politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN), Andi Jamaluddin Jafar.

Jamaluddin juga mantan Anggota DPRD Sulsel, mantan Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, dan pemilik PT Ariyus Bersinar Letarijaya developer perumahan Permata Hijau Lestari.

Syahriar semasa hidupnya terkenal seantero negeri karena kerap muncul di layar kaca dengan banyak peran.

Namun, dia menjalani sebagian besar perjalanan profesionalnya di Sulawesi Selatan.

Di pemerintahan, ia dikenal memiliki pengalaman panjang pada sektor pekerjaan umum, perumahan, tata ruang, permukiman dan lingkungan.

Sejumlah jabatan pernah dipercayakan kepadanya, antara lain Kepala Loka Bahan Bangunan, Kepala Seksi Perumahan, Kepala Subdin Perumahan, Kepala Subdin Air Bersih, hingga Kepala Subdin Perkotaan dan Perdesaan.

Pada 2006–2008, ketika Syahrul Yasin Limpo menjabat Gubernur Sulsel, ia didapuk sebagai Wakil Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan.

Setelah itu, ia dipercaya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan.

Syahriar walau dikenal sebagai seniman, tapi lihai urus pemukiman dan pemerintahan.

Pengabdiannya di bidang pemerintahan mendapat sejumlah penghargaan, antara lain Satya Karya 1985 dari Menteri Pekerjaan Umum dan Satyalancana Karya Satya 10 tahun, 20 tahun, serta 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Namun, ruang kerja Syahriar tidak berhenti di kantor pemerintahan dan lingkungan akademik.

Jejaknya sebagai seniman dan aktor dalam perfilman Sulawesi Selatan berjubel.

Namanya tercatat dalam sejumlah produksi, seperti Maipa Deapati & Datu’ Museng, Namamu Kata Pertamaku, Baco Becce, Cinta Sama dengan Cindolo Na Tape, Silariang: Menggapai Keabadian Cinta, Sunset di Pantai Losari, Ati Raja, dan Between Us.

Dalam Silariang: Menggapai Keabadian Cinta, Syahriar memerankan tokoh Daeng Mariolo.

Sementara dalam Sunset di Pantai Losari, ia memainkan karakter Ayah Ros.

Bagi Syahriar, keterlibatan dalam film tidak semata-mata berkaitan dengan dunia hiburan.

Film ia pandang sebagai salah satu medium untuk memperkenalkan kebudayaan daerah sekaligus membangun wawasan generasi muda.

Pandangan itu pula yang membuatnya aktif dalam kegiatan promosi dan pengembangan film lokal.

Ia bahkan pernah dipercaya sebagai Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sulawesi Selatan.

Perannya dalam dunia seni membawanya memperoleh penghargaan di tingkat internasional.

Pada 28 Juli 2018, ia menerima Anugerah Telenovela 2018 dari Yayasan Pembangunan Buku Negara (YPBN) dalam ajang di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia.

Lintas Disiplin Ilmu

Jika dunia seni menunjukkan sisi kreatif Syahriar, perjalanan pendidikannya memperlihatkan sisi lain: keinginannya untuk terus memperluas pengetahuan.

Ia menempuh pendidikan di berbagai bidang, dari arsitektur, administrasi negara, teknik sipil dan hukum hingga perencanaan lingkungan serta manajemen.

Pendidikan awalnya ditempuh melalui program D3 Arsitektur di Akademi Teknologi Negeri Makassar.

Ia kemudian menyelesaikan S1 Administrasi Negara di STIA-LAN RI Makassar, S1 Teknik Sipil di Universitas Muslim Indonesia, serta S1 Hukum Pidana di Universitas Satria Makassar.

Pada jenjang magister, ia belajar Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan di Universitas Hasanuddin, Magister Hukum di UKI Paulus, serta Magister Manajemen di STIE PBM.

Pendidikan doktoralnya ditempuh pada Program Ilmu Teknik Universitas Hasanuddin dan diselesaikan pada 2004.

Dalam berbagai kesempatan, Syahriar dikenal memiliki banyak gelar akademik yang diperolehnya dari sejumlah perguruan tinggi.

Pendidikan lintas disiplin itu sejalan dengan bidang pengabdiannya yang juga berada di persimpangan teknik, pemerintahan, lingkungan, tata ruang dan sosial.

Ia aktif menulis mengenai berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan perkotaan dan masyarakat.

Isu air bersih, limbah, lingkungan, tata ruang dan perkembangan kawasan metropolitan menjadi sejumlah tema yang ia tekuni.

Beberapa karya yang tercatat antara lain Pengolahan Limbah Cair Perkotaan dengan Filter Biokimia, Melestarikan Air sebagai Sumber Kehidupan, 1 Miliar Orang Dambakan Air, serta Model Kerjasama Antar Kota pada Kawasan Metropolitan Mamminasata.

Pada 2009, ia juga menerbitkan buku Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan: Pusaka Warisan Budaya Indonesia melalui Lamacca Press.

Jejak intelektualnya tidak hanya melalui tulisan. Syahriar terlibat dalam berbagai penelitian, termasuk kajian pencemaran air limbah rumah tangga di kawasan permukiman, perilaku masyarakat bantaran kanal dalam mengelola limbah, AMDAL TPA regional dan industri daur ulang Mamminasata, serta sistem penyediaan air bersih.

Ia juga mengikuti seminar dan konferensi internasional di sejumlah negara, antara lain Selandia Baru, Australia, Jepang, Turki, Korea Selatan, dan Sri Lanka.

Yang membuat perjalanan Syahriar Tato menonjol bukan semata panjangnya daftar jabatan, gelar atau karya yang pernah dihasilkan.

Lebih dari itu, hidupnya memperlihatkan perjumpaan sejumlah dunia yang sering kali berjalan sendiri-sendiri: birokrasi dan seni, teknik dan kebudayaan, pendidikan dan perfilman.

Ia bekerja dalam birokrasi, mengajar dan menulis sebagai akademisi, meneliti persoalan lingkungan, sekaligus mengambil bagian dalam perkembangan seni dan film daerah.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.