Undiksha Bali Kembangkan Teknologi AI Pembaca Emosi dari Gelombang Otak
Putu Dewi Adi Damayanthi August 22, 2026 11:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengenali emosi sekaligus membaca niat gerakan seseorang. 

Teknologi ini berpotensi dikembangkan sebagai perangkat bantu bagi penyandang disabilitas.

Teknologi tersebut diperkenalkan dalam Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH Rumah Jabatan Bupati Buleleng. 

BDE menjadi salah satu agenda dalam pelaksanaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026.

Baca juga: Terinspirasi Tugu Singa Ambara Raja, Endek Tunjung Ungu Resmi Diluncurkan di BulFest 2026

Salah satu anggota peneliti, Rama, menjelaskan teknologi tersebut memanfaatkan Electroencephalogram (EEG) untuk menangkap aktivitas listrik pada otak. 

Pengambilan data dilakukan menggunakan perangkat portabel yang dilengkapi empat channel sensor.

"Data dari sinyal tersebut kemudian diproses menggunakan model AI untuk mengenali kondisi emosi seseorang," ujarnya belum lama ini. 

Sinyal EEG kemudian dianalisis menggunakan pendekatan valence dan arousal. 

Hasil analisis tersebut dipetakan ke dalam empat kuadran untuk merepresentasikan kondisi emosional seseorang, seperti bahagia, sedih, maupun marah.

Selain mengenali emosi, teknologi tersebut juga dikembangkan untuk motor imagery, yakni kemampuan sistem mengenali niat gerakan berdasarkan pola gelombang otak ketika seseorang membayangkan suatu gerakan.

Konsep tersebut berpotensi diterapkan pada perangkat bantu bagi penyandang disabilitas, terutama mereka yang memiliki keterbatasan gerak. 

"Salah satu penerapannya berupa kursi roda yang dapat menerima perintah berdasarkan aktivitas otak," katanya. 

Namun, pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. 

Salah satunya adalah noise pada sinyal EEG serta perbedaan karakteristik aktivitas otak setiap orang yang dapat memengaruhi tingkat akurasi model AI.

"Kalau kita mengembangkan model AI dari orang A lalu diterapkan kepada orang B, akurasinya belum tentu maksimal," kata Rama.

Tak hanya itu, teknologi tersebut memiliki potensi penerapan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga industri. 

Dalam bidang pendidikan, teknologi ini dapat dikembangkan untuk membantu memantau keterlibatan belajar dan kondisi emosional seseorang.

"Sementara di bidang kesehatan dan industri, teknologi ini berpotensi digunakan untuk memantau kondisi seperti kelelahan dan rasa mengantuk," imbuhnya. 

Tim Undiksha juga tengah membuka kolaborasi dengan peneliti di Thailand yang mengembangkan perangkat skeleton robotik untuk membantu manusia dengan keterbatasan gerak. 

Tim Undiksha sendiri berfokus pada pengembangan model AI untuk membaca dan menginterpretasikan sinyal otak.

Rama berharap riset tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah, sektor kesehatan, maupun berbagai pihak lainnya. 

Dengan demikian, teknologi EEG yang dikembangkan tidak hanya berhenti sebagai penelitian, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (mer) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.