TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG -Sejumlah anak muda yang masuk sebagai generasi Z mengeluhkan kesulitan saat mencari pekerjaan.
Hal itu mereka rasakan saat adu peruntungan untuk terjun ke dunia kerja salah satunya melalui acara bursa kerja atau job fair.
Namun, dalam upaya mencari kerja tersebut mereka acapkali harus berbenturan dengan syarat kerja yang tidak relevan.
"Saya lulus pertengahan 2025 dari kampus Unissula Semarang, pengalaman saya nyari kerja susah ya, ada syarat harus tinggi sekian, berat badan sekian, syaratnya makin ribet," ujar pencari kerja Wardah Amiratul (23) saat ditemui Tribun disela Job Fair Jawa Tengah di Kantor Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (21/8/2026).
Syarat pekerjaan itu, kata Wardah, tidak ditemukan dalam acara job fair Jawa Tengah tersebut. Ia mengalaminya saat mencari kerja di luar acara itu. Namun, diakuinya, mencari kerjaan dalam job fair juga tidak mudah karena harus bersaing dengan ribuan pencari kerja.
Belum lagi, tidak banyak perusahaan yang bisa menampung latar belakang pendidikannya.
"Saya lulusan hukum, mencari kerja di bidang HR (Human Resources), atau staf kantor," kata warga Pedurungan Semarang ini.
Perusahaan Diminta Sederhanakan Syarat Kualifikasi
Dari pengalamannya itu, ia meminta para perusahaan menyederhanakan syarat bagi pencari kerja. Terutama syarat yang tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja. "Syaratnya harus relevan jadi kurangi permintaan syarat yang tidak sesuai," ungkapnya.
Pencari kerja lainnya, Widya Putri (23), merupakan fresh graduate dari kampus Udinus Semarang yang mencari pekerjaan di bidang HR dan Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan seusia dengan jurusan sesama kuliah yakni manajemen SDM. Namun, ia masih kesulitan mencari pekerjaan sesuai jurusannya tersebut. Kesulitan yang dialaminya yakni banyak perusahaan mencari pekerja yang memiliki pengalaman minimal dua tahun.
"Kami mencari kerja untuk mencari pengalaman, tapi perusahaan justru mencari pekerja yang memiliki pengalaman," katanya.
Ia sendiri pernah bekerja sebagai administrasi piutang di sebuah perusahaan manufaktur di kota Semarang. Pengalaman dari pekerjaan itu hanya lima bulan sebelum dihentikan karena habis kontrak.
"Ya di tengah susahnya kami fresh graduate mencair pekerjaan, kami jarap dari kegiatan job fair seperti ini bisa memberikan peluang bagi kami untuk memperoleh pekerjaan," katanya.
Buka 4.857 Loker
Kepala Disnakertrans Jawa Tengah, Ahmad Aziz mengatakan, acara Job Fair Jawa Tengah membuka sebanyak 4.857 lowongan pekerjaan. Event itu diikuti oleh 56 perusahaan dari bidang manufaktur, alat berat, industri jamu, makanan serta distributor makanan. Adapula perusahaan keuangan dan provider internet. Berikutnya, perusahaan bidang kesehatan dan farmasi, outsourcing, pariwisata, hotel dan penyalur tenaga kerja ke luar negeri.
"Soal kunjungan job fair ini meningkat ya dibandingkan tahun lalu, tahun 2025 job fair dikuti oleh 3 ribuan pencari kerja, tahun ini ada 4 ribuan pencari kerja," terangnya.
Disinggung keterserapan tenaga kerja dari acara job fair itu, Aziz mengaku belum bisa mendetailkan secata angka. Sebab, acara itu hanya sebagai pintu masuk para pencari kerja dan perusahaan. "Perusahaan baru bisa melaporkan ke kami satu bulan selepas acara job fair ini," terangnya.
Job Fair Jawa Tengah diselenggarakan selama dua hari, kamis-Jumat, 20-21 Agustus 2026. Aziz mengatakan, para pencari kerja yang belum bisa terlibat dalam acara job fair kali ini bisa terlibat dalam job fair berikutnya di September mendatang.
"Kami nanti adakan job fair lagi di Semarang, pada saat acara MTQ Nasional September mendatang," katanya. (Iwn)