WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Wisuda Universitas Indonesia (UI) 2026 menjadi momen penuh haru bagi Zeineb Abbaci, wisudawan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UI asal Aljazair.
Di hadapan ribuan wisudawan, Zeineb menyampaikan pesan bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian menghadapi kegagalan dan kemampuan untuk bangkit kembali.
Zeineb menyampaikan pandangannya mengenai arti keberhasilan dalam pidato pada prosesi wisuda UI, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, angka yang tercantum dalam transkrip akademik tidak sepenuhnya menggambarkan proses panjang yang telah dilalui mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Ada berbagai pengalaman, kegagalan, perjuangan, hingga keberanian untuk kembali mencoba yang justru membentuk karakter seseorang.
Baca juga: Cetak Rekor 10.329 Wisudawan, Rektor UI: Jangan Alergi Kritik dan Lupa Etika!
"Kita tidak pernah menemukan nilai untuk kegagalan pertama dan keberanian untuk mencoba sekali lagi," ujar Zeineb di hadapan para wisudawan.
Sebagai mahasiswa internasional asal Aljazair, Zeineb mengaku sempat memiliki kekhawatiran ketika pertama kali datang ke Indonesia untuk menempuh pendidikan.
Ia khawatir akan merasa asing di lingkungan baru dengan budaya dan kehidupan yang berbeda dari negara asalnya.
Namun, kekhawatiran tersebut perlahan hilang setelah mendapatkan sambutan hangat dari lingkungan akademik UI.
Dukungan para dosen, mentor, dan rekan sejawat di Rumpun Ilmu Kesehatan UI membuatnya merasa diterima selama menjalani masa pendidikan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Zeineb hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
Baca juga: Rekor Baru UI, 10.329 Lulusan Diwisuda, 366 Raih Summa Cum Laude
Selama menjalani pendidikan kedokteran, Zeineb juga mendapatkan pengalaman berharga ketika berhadapan langsung dengan pasien.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh dari pengalaman klinis tidak seluruhnya dapat ditemukan dalam buku teks kedokteran.
Berinteraksi dengan pasien membuatnya memahami bahwa rasa sakit tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
"A textbook can explain what pain is, but it cannot always tell us what that pain means to the person sitting in front of us," ungkapnya.
Karena itu, Zeineb mengingatkan para lulusan agar ilmu pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan tidak hanya digunakan untuk mengejar pencapaian pribadi.
Ilmu tersebut juga harus menjadi sarana untuk memberikan pelayanan kepada sesama dengan pendekatan yang utuh dan penuh empati.
Dalam pidatonya, Zeineb juga mengajak para wisudawan UI untuk berani memiliki cita-cita besar.
Ia meminta para lulusan tidak membatasi impian hanya karena merasa takut gagal atau menghadapi ketidakpastian.
"Jangan pernah mengecilkan mimpi hanya supaya ukurannya sesuai dengan ketakutan kita," tuturnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian yang menguatkan semangat para wisudawan untuk melanjutkan perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan di UI.
Bagi Zeineb, kelulusan bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh.
Di balik keberhasilannya menyelesaikan pendidikan, Zeineb juga menyimpan rasa haru karena kedua orang tuanya tidak dapat hadir secara langsung dalam prosesi wisuda.
Meski demikian, ia tetap menyampaikan apresiasi atas doa, dukungan, dan keteguhan yang selama ini diberikan keduanya.
Perjalanan Zeineb di UI akhirnya berujung pada kelulusan setelah melewati berbagai tantangan selama masa pendidikan.
Kisahnya sekaligus menjadi bagian dari cerita para wisudawan UI 2026 yang menutup masa studi dengan beragam pengalaman, perjuangan, dan harapan untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya. (*)