TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Paparan asap juga dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan sehingga kuman lebih mudah berkembang.
Akibatnya, risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat. Sejumlah riset menunjukkan risiko ISPA pada populasi yang terpapar asap karhutla dapat meningkat sekitar 1,7 hingga 3,5 kali lipat.
Komponennya antara lain
Karena itu, paparan asap karhutla tidak hanya menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi paru.
Sementara itu, sejumlah gas dalam asap bersifat iritan dan dapat memicu peradangan saluran pernapasan. CO memiliki bahaya berbeda karena dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen.
Menurut dr. Agus, dampak yang paling cepat muncul adalah iritasi pada saluran pernapasan dan mukosa.
Gejalanya dapat berupa mata merah atau perih, kulit kering dan kemerahan, hidung berair, bersin, sakit tenggorokan, hingga batuk. Jika paparan berlanjut, dapat muncul batuk berdahak dan sesak napas.
Baca juga: Negara Bagian Sarawak Liburkan 591 Sekolah Gara-gara Kabut Asap
“Yang paling cepat itu bisa menyebabkan iritasi saluran napas dan mukosa tubuh,” jelasnya.
Pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memicu kekambuhan atau memperberat gejala. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit.
“Gangguan sistem bersihan saluran napas akibat iritasi dapat membuat kuman lebih mudah berkembang. Karena itu risiko infeksi, baik bakteri maupun virus, juga meningkat,” katanya.
Paparan asap dalam konsentrasi tinggi juga dapat menyebabkan penurunan fungsi paru. Dr. Agus menerangkan, penelitian yang dilakukan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Persahabatan terhadap masyarakat terdampak asap karhutla di Riau ditemukan ada gangguan fungsi paru berupa obstruksi maupun restriksi.
Namun, sebagian gangguan tersebut dapat bersifat reversibel. Fungsi paru dapat membaik setelah paparan asap dan polusi berkurang.
Baca juga: TransNusa Batal Terbang ke Singkawang Gara-gara Asap Tebal Karhutla
Asap karhutla juga dapat mengandung karbon monoksida (CO), gas yang dapat menghambat pengangkutan oksigen dalam darah.
Jika terhirup dalam jumlah tinggi, CO dapat menyebabkan kekurangan oksigen. Gejala awalnya antara lain sakit kepala, pusing dan mual. Pada paparan berat, seseorang dapat mengalami penurunan kesadaran hingga pingsan.
“Kalau CO yang terhirup cukup tinggi, bisa terjadi kekurangan oksigen. Gejala awalnya bisa berupa sakit kepala, pusing, mual, bahkan sampai pingsan jika kadar CO yang terhirup sangat tinggi,” kata dr. Agus.
Pada kondisi yang sangat berat, terutama pada orang yang berada dekat dengan sumber kebakaran, paparan asap dan panas dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut dapat terjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS).
ARDS adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meningkatkan risiko kematian. “Ini dapat terjadi pada orang yang berada sangat dekat dengan area kebakaran,” ujar dr. Agus.
Masyarakat yang berulang kali terpapar, terutama setiap tahun, berisiko mengalami dampak jangka panjang. Iritasi dan peradangan yang terjadi berulang dapat meningkatkan risiko asma, PPOK, serta infeksi paru berulang.
Paparan jangka panjang juga mulai dikaitkan dengan risiko fibrosis paru, terutama pada paparan asap kebakaran lahan gambut. Selain itu, risiko penyakit serius seperti kanker paru juga menjadi perhatian yang perlu terus diteliti.
Dr. Agus mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang muncul saat terpapar asap. Batuk yang semakin berat, sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, hingga penurunan kesadaran merupakan tanda bahaya yang perlu segera mendapat perhatian.
“Kalau sudah muncul gejala-gejala seperti batuk dan sesak napas, itu harus menjadi warning agar jangan sampai berlanjut menjadi ISPA, peradangan pernapasan akut, bahkan pneumonia,” tuturnya.
Risiko lebih besar yang perlu diwaspadai pada penderita asma, PPOK, penyakit jantung, anak-anak, dan lansia.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat perlu memantau kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar.
Pada kelompok rentan, mengurangi paparan asap menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.