Tribunlampung.co.id, Lampung Timur – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar Gerakan Tanam Serempak di 25 provinsi.
Baca juga: Pemkab Lampung Timur Gandeng Kampus NU, Dorong Pertanian, UMKM, dan Pemberdayaan Masyarakat
Langkah strategis ini dipusatkan di Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, guna memacu pemanfaatan lahan program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) untuk menjaga momentum produksi serta swasembada pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa percepatan tanam krusial dilakukan agar lahan yang telah mendapat dukungan pemerintah segera berproduksi secara optimal.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti mengodekan gerakan ini sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, penyuluh, Brigade Pangan, hingga petani.
"Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan kuat. Penyuluh bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang siap dapat segera ditanami dan mendongkrak Indeks Pertanaman (IP) dari satu menjadi dua atau tiga kali tanam," ujar Arsanti, Sabtu (22/8/2026)
Tercatat per 19 Agustus 2026, capaian penanaman lahan hasil program Oplah dan CSR nasional menunjukkan progress signifikan:
Guna mengantisipasi ancaman kemarau dan potensi El Nino, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Tin Latifah menjelaskan bahwa Kementan memperkuat program pompanisasi yang terintegrasi dengan akses energi melalui Program Listrik Masuk Sawah bekerja sama dengan PLN.
Modernisasi lewat Program Modern Agriculture Advance System (PM-AAS) dan konsolidasi lahan oleh Brigade Pangan juga diterapkan agar pengelolaan usaha tani lebih efisien.
Menanggapi isu alih fungsi lahan CSR menjadi perkebunan sawit di wilayah Indragiri Hulu, Riau, Arsanti menegaskan agar pemanfaatan lahan tetap difokuskan pada pertanian tanaman pangan sesuai tujuan awal program.
Di tingkat daerah, Plt Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung, Endro Gunawan, menyampaikan bahwa Lampung menyiapkan lahan rawa seluas 202 ribu hektare (60 persen dari total luas baku sawah Lampung 337.284 ha) sebagai benteng pertahanan produksi padi saat kemarau.
Potensi wilayah penyangga kekeringan di Lampung diantaramya Sentra Lahan Rawa (Mulai Tanam Saat Kemarau) meliputi Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.
Lokasi terdampak kekeringan awal meliputi Lampung Selatan, Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Tengah.
Sementara lokasi minim terdampak kekeringan (Curah Hujan Stabil) meliputi Lampung Barat (LBS 11.000 ha) dan Pesisir Barat (LBS 7.900 ha).
"Lahan rawa memiliki karakteristik unik yang mampu menyimpan air hingga musim kering. Melalui normalisasi saluran air, perbaikan jaringan irigasi, serta optimalisasi unit pompa bersama kelompok tani (P3A/GP3A), lahan rawa di Lampung siap mem-backup dan menyokong daerah sentra yang terdampak kekeringan," pungkas Endro.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)