TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Persoalan masih sepinya pengunjung pasar pagi terus menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda.
Pasar yang berdiri megah di jantung kota, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Samarinda Kota, itu memiliki delapan lantai termasuk rooftop.
Namun sejak mulai beroperasi, antusiasme masyarakat untuk berbelanja di sana dinilai masih jauh dari harapan.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Kota Samarinda guna mencari solusi ke depan.
Dia bilang, Salah satu langkah yang direncanakan adalah menggelar forum diskusi terarah dengan melibatkan berbagai kalangan.
"Kita sepakat ke depan mungkin kita akan buat FGD atau bagaimana. Kita undang akademisi, kita undang praktisi, kita undang komunitas-komunitas penggiat kegiatan, dan siapa pun yang bisa berkontribusi membuat memberikan solusi, pemikiran. Gimana cara menghidupkan Pasar Pagi ini," ujarnya.
Baca juga: DPRD Samarinda Dorong Optimalisasi Perda P4GN untuk Cegah Peredaran Narkotika
Iswandi menilai, kawasan tersebut perlu dilakukan rebranding.
Menurutnya, pemerintah tidak bisa tetap ngotot mempertahankan konsep pasar tradisional yang dimodernisasi karena dinilai kurang pas dengan kondisi di lapangan, dan kasihan jika lama-kelamaan para pedagang yang justru menjadi korban.
Pembicaraan internal ini nantinya akan ditindaklanjuti hingga berdiskusi langsung dengan Wali Kota Samarinda selaku pemegang keputusan (decision maker).
"Ini kan enggak bisa hanya tanggung jawab pemerintah kota saja, ini harus melibatkan banyak pihak," tegasnya.
Terkait arah dorongan rebranding dari dewan, Iswandi menjelaskan bahwa untuk melakukan suatu perubahan harus didasari kajian terlebih dahulu.
Pemkot harus melihat kesesuaian antara kondisi bangunan gedung dengan kultur belanja masyarakat Samarinda saat ini.
Beberapa skema seperti pengalihan lantai satu menjadi tempat khusus jual kue hingga pemanfaatan lantai paling atas untuk kafe dinilai perlu dikaji mendalam agar efektif menarik minat pengunjung dan menghidupkan perekonomian.
Baca juga: Jaga Sinergi Pemkot dan DPRD Samarinda, Helmi Abdullah Raih Penghargaan Tribun Kaltim Award 2026
"Itu masih perlu kajian-kajian juga," terangnya.
Iswandi menambahkan, saat perumusan nanti seluruh elemen harus dikumpulkan dan dilibatkan, mulai dari para pedagang agar ada sumbang saran, praktisi, akademisi, hingga penggiat ekonomi kreatif.
Semua pihak harus sepakat agar upaya rebranding atau perubahan konsep ini tidak menimbulkan masalah baru.
Ia mengaku merasa sedih melihat kondisi pasar yang sudah dibangun mahal tetapi aktivitas ekonominya tidak bergerak, padahal tujuannya agar pasar ramai dan pedagang tersenyum karena jualannya laku.
Meski faktor lesunya perekonomian luar turut berpengaruh, hal itu tidak boleh menjadi penghambat utama untuk mencari jalan keluar.
"Ya, memang di luar kondisi ekonomi juga lagi lesu, tapi kan itu minimal bukan suatu kendalalah ya," pungkas Iswandi. (*)