Yan Diomande akhirnya angkat bicara mengenai kepindahannya yang ia sebut sebagai transfer “impian” ke Real Madrid, sambil mengungkapkan besarnya dedikasi yang ia rasakan kepada pelatih Jose Mourinho. Winger muda itu, yang tiba di ibu kota Spanyol setelah menjalani musim terobosan di Jerman, mengaku sangat terkejut ketika pelatih legendaris tersebut menghubunginya secara langsung untuk menuntaskan kesepakatan.
Sebuah “impian” yang menjadi kenyataan di Bernabeu
Diomande berbicara untuk pertama kalinya sebagai rekrutan termahal Real Madrid, dan ia menyampaikan kebanggaannya yang luar biasa setelah merampungkan kepindahan ke Bernabeu. Winger berusia 19 tahun itu, yang muncul sebagai salah satu talenta paling menarik di Eropa, mengakui bahwa minat dari raksasa Spanyol tersebut membuatnya terpana. “Rasanya seperti mimpi karena tidak ada klub yang lebih besar,” kata Diomande kepada SportyTV. “Sejak saya mengetahuinya, saya tidak bisa tidur. Saya tidak percaya. Saya berbicara dengan Juni [Calafat] lalu saya berbicara dengan pelatih. Saya terkejut karena dia berbicara bahasa Prancis.”
Laju pemain Pantai Gading itu menuju puncak berlangsung sangat cepat, dan kini ia bergabung dengan ruang ganti yang sudah dipenuhi bintang-bintang besar seperti Kylian Mbappe dan Jude Bellingham. Meski tekanan di klub sebesar ini sangat tinggi, Diomande tetap membumi namun penuh ambisi, dengan menegaskan bahwa ia “bangga dan bahagia karena telah mewujudkan impian saya.”
Sentuhan pribadi Mourinho dalam transfer ini
Salah satu faktor penting dalam keputusan Diomande adalah keterlibatan langsung Mourinho. Sosok yang dijuluki “The Special One” itu melakukan upaya besar agar sang pemain muda merasa dihargai, termasuk menelepon pada dini hari demi menjembatani perbedaan waktu. “Mourinho bangun pukul 5 pagi untuk berbicara dengan saya. Itu berarti dia penting,” ungkap Diomande. “Ketika Madrid memanggil Anda, Anda tidak bisa mengatakan tidak, jadi saya berkata: ‘Jika mereka menginginkan saya, di situlah saya akan berada’.”
Setibanya di klub, hubungan antara pemain dan pelatih itu langsung terasa kuat. Diomande mengenang pertemuan pertama mereka: “Begitu saya tiba, dia berkata kepada saya: ‘Saya berjanji kepada Anda bahwa Anda akan menjadi bagian dari tim saya, dan sekarang Anda ada di sini.’ Dan saya berkata kepadanya: ‘Saya senang bekerja dengan Anda karena Anda yang terbaik.’ Saya bisa belajar banyak darinya; dia adalah pelatih yang tepat untuk melanjutkan perkembangan saya. Saya siap mati untuknya.”
Mourinho menjelaskan perannya dalam transfer
Meski sang pemain jelas sangat terpikat oleh bos barunya, Mourinho bergerak cepat untuk menjelaskan perannya sendiri dalam proses perekrutan itu. Dalam wawancara terpisah, sang manajer mengungkapkan bahwa ia tidak secara khusus meminta klub merekrut winger tersebut setelah kembali ke kursi pelatih.
“Tidak, saya tidak meminta siapa pun,” ujar Mourinho ketika ditanya soal kesepakatan itu. “Saya datang tanpa menuntut satu pemain pun, setelah melihat skuad dengan baik dan mengetahui persis apa yang saya ingin terjadi.”
Namun, ia mengakui bahwa ketika klub menghadirkan peluang untuk merekrut talenta dengan kualitas langka seperti itu, kesempatan tersebut mustahil dilewatkan.
“Mencari pemain sayap [seperti Diomande] yang cepat, agresif, dan bisa bermain di kedua sisi bukan hal mudah, itu sangat sulit,” tambah Mourinho. “Tambahkan lagi fakta bahwa dia masih muda, masih punya ruang untuk berkembang, dan memiliki banyak tahun di depan bersama Real Madrid... ketika kesempatan itu datang, saya tidak ingin masuk ke urusan apakah harganya 120, 80, 40, atau 20 [juta].”
Dari debut bersama Leganes menuju status Galactico
Perjalanan Diomande menuju Real Madrid juga memiliki hubungan yang puitis dengan rumah barunya. Ia menjalani debut profesionalnya di Bernabeu saat bermain untuk Leganes, klub yang masih sangat ia hormati karena memberinya kesempatan pertama di dunia sepak bola. “Ini adalah kehendak Tuhan. Saya sangat percaya kepada Tuhan,” tambah Diomande. “Ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa. Saya hanya ingin menikmati setiap hari. Dari pertandingan itu saya ingat bertukar jersey dengan Mbappe, dan hari ini kami berada di ruang ganti yang sama sambil tertawa bersama. Saya tidak akan pernah melupakan Leganes karena itu satu-satunya klub yang memberi saya kesempatan untuk menunjukkan kualitas saya.”
Keserbabisaannya diperkirakan akan menjadi aset besar bagi Los Blancos saat mereka berupaya mendominasi La Liga dan kompetisi Eropa pada musim mendatang.