TRIBUNJATENG.COM PURWOKERTO - Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto Prof. Dr. Ir. Noor Farid, M.Si., seharusnya mengajar mata kuliah 'Kultur Jaringan' pada pukul 08.50 WIB.
Namun, agenda mengajar berubah setelah dirinya harus menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Kamis (20/8/2026) hampir 10 jam.
Perasaan deg-degan tidak terelakan saat itu, ketika mengetahui dirinya menjadi bagian dari proses pemeriksaan KPK.
Menurutnya, perasaan tersebut muncul karena ia merasa tidak mengetahui persoalan yang akan ditanyakan kepadanya. Tiba-tiba mendapatkan surat dan kemudian harus menjalani pemeriksaan.
Baca juga: Janji Pemprov Jateng Soal Geotermal Gunung Ungaran, Singgung Dampak Negatif
Baca juga: Sempat Diperiksa KPK, WR I Unsoed Ungkap Mekanisme Seleksi Jalur Mandiri dan Kriteria Kelulusan
"Ya, kami menyadari kalau mau diperiksa kan pasti deg-degan ya, kita tidak tahu apa-apa terus tiba-tiba ada surat," kata Prof. Noor Farid saat bercerita kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (22/8/2026).
Hendak Mengajar Kultur Jaringan
Pada saat mendapat panggilan pemeriksaan, Prof. Noor Farid sebenarnya tengah bersiap menjalankan tugasnya sebagai dosen. Ia dijadwalkan mengajar mata kuliah Kultur Jaringan pada pukul 08.50 WIB.
Ia merupakan dosen Pemuliaan Tanaman dan Kultur Jaringan menjadi salah satu mata kuliah yang diampunya.
Saat itu, dosen lain yang seharusnya mengajar tidak dapat dihubungi sehingga perkuliahan tersebut dalam kondisi kosong.
"Mata kuliahnya Kultur Jaringan. Saya kan dosen Pemuliaan Tanaman. Jadi, itu salah satu mata kuliah, tapi dosen satunya tidak bisa dihubungi. Sehingga waktu itu kosong, padahal laptop sudah di sana," jelasnya.
Ia mengatakan saat itu dirinya sudah bersiap menjalankan perkuliahan. Karena harus menjalani pemeriksaan, komunikasi dengan mahasiswa kemudian dilakukan melalui ketua jurusan.
"Kami titipkan ketua jurusan. Dan akhirnya saya ke ruangan karena laptopnya ada di sana," katanya.
Ia mengatakan mahasiswa sebelumnya dikomunikasikan terlebih dahulu dirinya tidak dapat datang mengajar.
"Saya minta salah satu mahasiswa ngubungi untuk menentukan pertemuan selanjutnya," ujarnya.
Pengawasan Proses Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Unsoed
Ia menjelaskan, dalam setiap gelombang seleksi mahasiswa biasanya memang terdapat pemeriksaan terhadap proses seleksi. Untuk jalur seleksi nasional, pemeriksaan dilakukan di Jakarta.
Dalam pemeriksaan tersebut, salah satu hal yang diminta adalah kunci sistem seleksi.
"Memang kemarin itu belum diperiksa, biasanya setiap jalur seleksi itu ada pemeriksaan, kalau nasional di Jakarta. Jadi, apa itu, kuncinya, kunci sistemnya akan diminta," ujarnya.
Prof Noor Farid mengatakan pemeriksaan terhadap proses seleksi sebelumnya juga pernah dilakukan oleh KPK maupun Inspektorat Jenderal (Irjen).
Karena itu, ia menilai proses tersebut merupakan bagian dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap mekanisme seleksi.
"Jadi, kayak sebelum-sebelumnya kan juga diperiksa oleh KPK, Irjen itu pasti. Jadi, kita semuanya clear. Jadi, nilai itu bukan terus dibuat apa-apa," katanya.
Beberapa Kali Keluar Masuk Gedung Pemeriksaan
Selama proses pemeriksaan, Noor Farid sempat beberapa kali terlihat keluar masuk gedung tempat pemeriksaan, yaitu Reskrim Polresta Banyumas.
Momen tersebut juga sempat diabadikan oleh wartawan dan media yang berada di lokasi. Namun, ia mengatakan dirinya tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan terkait pemeriksaan tersebut.
"Kalau keterangan kan tidak boleh ya waktu itu. Sehingga yang berhak adalah tim KPK. Saya tidak punya wewenang memberikan informasi," katanya.
Ia kemudian menjelaskan alasan dirinya beberapa kali keluar masuk gedung pemeriksaan. Menurutnya, hal itu dilakukan karena dirinya hendak melaksanakan salat.
"Kenapa keluar masuk ya karena waktu itu sholat," ujarnya.
Ia mengungkapkan sebenarnya fasilitas salat telah tersedia di dalam lokasi pemeriksaan. Begitu pula dengan makanan dan minuman. Namun, ia meminta diperbolehkan keluar dan melaksanakan salat di masjid karena merasa lebih nyaman dan dapat berkonsentrasi.
"Saya sudah juga minta salat di masjid, disediakan di dalam, makanan, minum, itu semuanya tersedia. Saya waktu salat saya minta keluar karena lebih enak di masjid konsentrasinya," jelasnya.
Ketika ditanya apakah dirinya merasa lebih nyaman karena bisa melaksanakan salat berjamaah, Prof Noor Farid membenarkannya.
"Ya, katanya lebih diterima, artinya begitu," jelasnya.
Sempat Bertemu Prof. Norman
Dalam proses pemeriksaan tersebut, Prof Noor Farid juga sempat bertemu dengan WR 3, Prof Norman. Ia menjelaskan, keduanya berada di ruangan yang bersebelahan. Pertemuan terjadi ketika keduanya hendak melaksanakan salat atau keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Ya, kan hanya sebelahan. Pas kalau mau salat atau keluar itu ketemu," ujarnya.
Meski sempat bertemu, dirinya tidak berbicara dengan Prof Norman mengenai pemeriksaan tersebut.
"Cuma tidak ngobrol apa-apa. Ya, nggak lah ya," katanya.
Ia juga memastikan proses pemeriksaan dilakukan di ruangan yang berbeda.
Keluarga Menunggu hingga Pukul 02.00 WIB
Pemeriksaan yang berlangsung hingga lewat tengah malam membuat keluarganya khawatir. Ia mengatakan anak dan istrinya bahkan menunggu kepulangannya di ruang tamu hingga sekitar pukul 02.00 WIB.
"Ya, tentu keluarga ya was-was. Ya, semua orang kalau diperiksa KPK ya deg-degan. Ya, sama. Saya ditunggu anak, istri.
Semua keluarga nunggu di ruangan tamu di tempat saya sampai jam 2 pagi," tuturnya.
Ketika akhirnya tiba di rumah, anak istri langsung mempertanyakan kepulangannya yang sangat larut.
"Bapak ngapain?" kata Prof Noor Farid menirukan pertanyaan istrinya.
Ia mengatakan, kepulangannya pada dini hari tidak seperti biasanya. Menurutnya, selama ini ia biasanya sudah berada di rumah sekitar waktu Magrib atau Isya setelah selesai bekerja di kantor.
"Biasanya tidak pulang malam. Wah ini pulang malam kemana, biasanya pulangnya Magrib atau Isya. Dari kantor biasanya begitu," ujarnya menirukan sang anak.
Pagi Harinya Kembali Mengajar
Meski baru tiba di rumah sekitar pukul 02.00 WIB, dirinya kembali menjalankan aktivitas sebagai dosen pada pagi harinya. Ia kembali mengajar seperti biasa.
"Ya, paginya itu kuliah lagi," katanya.
Saat itu, ia mengajar di Fakultas Pertanian dengan mata kuliah PIP dan Analisis Pemuliaan Tanaman.
"Kuliahnya di pertanian itu PIP sama Perancangan Percobaan dan Analisis Pemuliaan Tanaman," ujarnya.
Menurut Prof Noor Farid, aktivitas tersebut merupakan bagian dari tugasnya sebagai seorang dosen yang harus tetap dijalankan.
"Artinya kembali normal lagi seperti biasa. Eh, memang tugasnya dosen ya.
Pasti ngajar, bimbingan," katanya.
Ketika dipanggil menjalani pemeriksaan, dirinya belum mengetahui perkara yang sebenarnya menjadi konteks pemeriksaan.
Karena tidak mengetahui apa yang sedang dipersoalkan, ia bahkan sempat bertanya kepada penyidik KPK ketika berada di masjid.
"Makanya waktu di masjid saya tanya. Saya ini dituduh apa sih mbak, kok ditanya-tanya. Mau ditanya tapi nggak segera ditanya gitu," ucapnya.
Ia melihat terdapat banyak petugas di lokasi pemeriksaan. Menurutnya, banyaknya petugas kemungkinan berkaitan dengan koordinasi mengenai proses yang harus dilakukan.
"Ya petugasnya banyak, jadi mungkin koordinasi apa yang harus dilakukan," ujarnya.
Prof Noor Farid mengatakan pemeriksaan terhadap dirinya dilakukan secara bergantian. Awalnya ada satu orang yang memberikan pertanyaan. Setelah itu, petugas lain datang dan kembali memberikan pertanyaan.
"Menanyain satu orang. Terus setelah ditanyain ada petugas datang lagi, tanyain lagi, bergantian," jelasnya.
HP, Laptop dan KTP Sempat Ditahan
Selama proses pemeriksaan, Prof Noor Farid mengatakan telepon seluler, laptop, dan KTP miliknya ditahan. Ia mengatakan saat itu dirinya mendapat informasi HP tidak diperbolehkan dibawa.
Ia mengatakan seharusnya dokumen atau barang tersebut dapat disalin terlebih dahulu, namun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti proses yang dilakukan terhadap barang-barang tersebut.
"Ya mestinya di-copy lah. Tapi saya nggak tahu yah," katanya.
Ia kembali menegaskan dirinya tidak mengetahui secara detail mengenai proses tersebut.
"Saya nggak tahu tapi ya," ujarnya.
Terkait pemanggilan oleh KPK, Noor Farid mengatakan dirinya memang menerima surat panggilan. Namun, menurut dia, surat panggilan tersebut tidak ditunjukkan ketika dirinya hendak menjalani pemeriksaan.
Ia juga menyebut adanya surat tugas yang kemudian diminta ke Polres.
"Jadi diminta ke Polres ada surat tugas. Surat tugas kami ini diminta ke Polres," ujarnya.
Setelah menjalani pemeriksaan, ia menegaskan aktivitas di lingkungan Unsoed tetap berjalan seperti biasa. Menurutnya, aktivitas akademik dan pelayanan kampus harus tetap berjalan karena persiapan semester gasal telah dilakukan.
"Ya kalau Unsoed kan berjalan seperti biasa. Harus seperti biasa karena layanan kita kan sudah siap untuk semester gasal ini," katanya.
Dalam bidang akademik, koordinasi juga tetap dilakukan secara rutin. Prof Noor Farid mengatakan setiap Rabu pukul 13.00 WIB terdapat koordinasi antara seluruh Wakil Dekan I dan rektor terkait bidang akademik.
Menurut dia, melalui koordinasi tersebut, setiap persoalan yang muncul dapat dibahas dan diselesaikan setiap pekan.
"Jadi kalau ada masalah setiap minggu pasti diselesaikan," katanya.
Sempat Berkomunikasi dengan Rektor
Terkait kondisi Rektor Unsoed, ia mengatakan komunikasi masih dilakukan dengan rektor yang saat itu berada di Jakarta.
Komunikasi dilakukan melalui telepon.
"Ya, kemarin, berarti Pak Rektor sudah di Jakarta masih komunikasi. Di telepon juga," katanya.
Ia menjelaskan komunikasi tersebut dilakukan menggunakan telepon rumah.
"Di telepon sama Pak Rektor tapi pakai telepon rumah," ujarnya.
Sebelumnya, Prof Noor Farid juga sempat mendatangi rumah Rektor Unsoed dan bertemu dengan istri rektor.
"Waktu saya ke rumah Pak Rektor. Ketemu Bu Rektor. Bu Rektor kan mau ke Jakarta," katanya.
Saat ditanya mengenai isi pembicaraan dengan Rektor Unsoed melalui telepon, Prof Noor Farid mengatakan rektor menyampaikan kepada dirinya masih akan berada di Jakarta dalam waktu yang cukup lama.
"Pak Rektor bilang masih lama di Jakarta gitu, masih lama. Saya nggak tahu konteksnya. Pakai telepon rumah," katanya. (jti)