TRIBUNLOMBOK.COM, PRAYA - Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam diperkirakan menghanguskan ratusan rumah warga.
Sebagian besar rumah-rumah merupakan rumah adat atau rumah tradisional Suku Sasak, Pulau Lombok.
Staf Ahli Bupati Lombok Tengah yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Sungkul yang berada di lokasi menyampaikan bahwa titik api awal muncul dari area tengah pemukiman warga sebelum akhirnya merambat luas dipicu tiupan angin deras.
"Mulainya di tengah, bukan di pinggir. Angin bertiup ke utara," ujar Lalu Sungkul saat memberikan keterangan di lokasi kejadian, Sabtu malam.
Lalu Sungkul menjelaskan ada dua kemungkinan utama pemicu awal munculnya kobaran api di kawasan permukiman adat Suku Sasak tersebut.
"Dua kemungkinan: apakah arus pendek (korsleting) atau memang ada puntung rokok dan sebagainya," jelasnya.
Ia menambahkan, perambatan api berlangsung sangat cepat karena seluruh bangunan di Desa Sade merupakan rumah adat yang didominasi bahan mudah terbakar seperti atap alang-alang dan anyaman bambu.
Kobaran api kian membesar menyusul adanya ledakan tabung gas milik warga di dalam rumah.
Baca juga: Warga Ungkap Detik-Detik Desa Sade Terbakar, Rumah dan Harta Benda Ludes
Terkait proses pemadaman, Lalu Sungkul mengungkapkan bahwa armada pemadam kebakaran sempat mengalami kendala menuju titik utama api akibat padatnya permukiman dan keterbatasan akses.
"Pemadam beberapa unit datang. Cuma ya karena akses ke sana itu relatif susah, jadi kita upayakan penanganan untuk yang belum kena di pinggir jalan," tuturnya.
Ketika ditanya mengenai estimasi jumlah bangunan yang terdampak, Lalu Sungkul memperkirakan ada ratusan unit rumah adat yang ludes terbakar. "(Perkiraan) lebih dari 400-an sampai 500-an rumah," ungkapnya.
Hingga Minggu (23/8/2026) dini hari, tim gabungan dari Damkar, BPBD, kepolisian, dan relawan masih bersiaga di lokasi guna melakukan proses pendinginan (cooling down) untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api dari sisa-sisa puing bangunan yang terbakar.
Salah seorang warga Desa Sade, Tohirman Hayanto, mengungkapkan kepedihannya melihat kondisi kawasan cagar budaya tersebut yang rata dengan tanah.
"Ini kondisi kampung Sasak Sade yang kita cintai. Malam ini sudah tak ada satu rumah pun yang tersisa. Tak ada barang pun yang bisa kita selamatkan karena api begitu cepat," ungkap Tohirman saat memberikan keterangan di lokasi kejadian, Sabtu malam.
Tohirman memperkirakan sekitar 250 unit rumah adat hangus tanpa menyisakan barang berharga milik warga. Konstruksi bangunan yang terbuat dari bambu serta atap alang-alang (ilalang) membuat si jago merah menyebar dengan sangat cepat dari area tengah kampung.
Akibat musibah ini, sekitar 700 Kepala Keluarga (KK) terdampak dan estimasi kerugian diproyeksikan mencapai miliaran rupiah.
Mewakili warga setempat, Tohirman berharap bantuan darurat segera menyasar para korban, baik berupa material bangunan maupun dukungan tenaga untuk proses pemulihan.
"Harapan kami semua masyarakat Kampung Sasak Sade agar bisa dibantu, yaitu dalam bentuk tenaga ataupun material. Kami sangat menunggu bantuan saudara-saudara," pungkasnya.