Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- KKI 2026 menjadi panggung bagi produk unggulan Maluku untuk menembus pasar lebih luas. Sebanyak 21 UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Maluku ambil bagian dalam ajang yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), 20–23 Agustus 2026.
Empat UMKM hadir langsung membawa produk khas Maluku, yakni Santhos Jewellery, Tenun Ikat Mawar Mama Weli, Sukun Putri Angkasa, dan Mie Sehat Cempaka. Sementara 17 UMKM lainnya mengikuti pameran secara daring.
Produk yang ditawarkan bukan sekadar cendera mata. Ada perhiasan mutiara dari Kepulauan Aru, kain tenun ikat dari sejumlah daerah di Maluku, hingga olahan sagu yang mengangkat potensi lokal ke pasar yang lebih luas.
Baca juga: Pasar Rakyat Gunumae Bula Sepi, Pedagang Keluhkan Ruko Terbengkalai dan Penertiban Tak Maksimal
Baca juga: Prakiraan Cuaca di Minggu 23 Agustus 2026: Delapan Wilayah di Maluku Berawan, 3 Lainya Cerah
Mutiara Aru Tembus Rp300 Juta
Salah satu produk yang mencuri perhatian adalah perhiasan berbahan mutiara asli dari Kabupaten Kepulauan Aru, Kota Dobo.
Mutiara yang dipamerkan memiliki beragam ukuran dan warna dengan kualitas grade A. Kualitas tersebut ditentukan melalui sejumlah karakteristik, seperti bentuk bulat, permukaan mulus, tampilan glowing, dan warna putih.
Harga perhiasan pun bervariasi. Untuk kalung dengan 31 butir mutiara seberat 151 gram, harganya mencapai sekitar Rp300 juta per item.
Sementara produk dengan harga paling terjangkau berupa giwang dibanderol mulai sekitar Rp1 juta.
Meski demikian, gelang dan giwang menjadi produk yang paling banyak diminati pengunjung.
Tenun Maluku Laris di Jakarta
Daya tarik lainnya datang dari kain tenun ikat yang membawa beragam motif khas Maluku, mulai dari Tanimbar, Ambon, Maluku Barat Daya hingga Tual.
Harga kain berukuran 1 x 2 meter berada di kisaran Rp1,2 juta hingga Rp3,5 juta. Salah satu faktor yang memengaruhi harga adalah tingkat kesulitan motif dan proses pembuatannya.
Motif dari Pulau Seram, misalnya, memiliki harga lebih tinggi karena semakin besar ukuran kain, semakin rumit pula teknik pengikatan yang digunakan.
Proses pembuatannya juga tidak singkat. Satu lembar kain membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga pekan hingga tahap finishing.
Menariknya, hingga hari ketiga pameran, sebanyak 20 lembar kain tenun ikat yang dibawa UMKM Maluku telah terjual.
Capaian tersebut menunjukkan produk kerajinan Maluku tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga peluang pasar yang kuat ketika dipertemukan dengan konsumen dari berbagai daerah.
21 UMKM Maluku Didorong Naik Kelas
Keikutsertaan UMKM Maluku dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi bagian dari upaya BI memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah ke tingkat nasional.
KKI tahun ini menghadirkan 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM secara daring melalui platform resmi KKI.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan penguatan UMKM tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk dalam pameran.
Menurutnya, UMKM perlu didorong agar memiliki daya saing, akses pembiayaan, kemampuan digitalisasi serta jaringan pasar yang semakin luas.
"Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu bangkit, tangguh, dan berdaya saing," ujar Destry saat membuka KKI 2026.
Bagi UMKM Maluku, kehadiran di Jakarta menjadi kesempatan untuk menguji sejauh mana produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dari mutiara Aru hingga tenun khas Maluku, produk yang dibawa bukan hanya memperkenalkan identitas daerah, tetapi juga menunjukkan bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Diketahui dalam momen ini dihadiri langsung Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri
Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Wakil
Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Putri, dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Doddy Zulverdi. (*)