SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG - Langit pagi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tak lagi cerah. Ancaman kabut asap pekat sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui warga.
Keresahan masyarakat bukan tanpa alasan. Kabupaten OKI kini seolah membara setelah dikepung ratusan titik panas (hotspot). Ironisnya, saat api terus menjalar, tim satgas pemadam di lapangan justru menemui kendala serius karena sumber air mulai mengering.
Berdasarkan data pantauan Sipongi Kementerian Kehutanan pada Minggu (23/8/2026) pagi, Kabupaten OKI mencatatkan kondisi mengkhawatirkan.
Dalam 24 jam terakhir, terdeteksi sebanyak 537 hotspot di wilayah OKI. Angka tersebut menjadikan OKI sebagai penyumbang titik panas terbanyak di Sumatera Selatan, dengan kontribusi sekitar 31 persen dari total 1.742 hotspot di seluruh provinsi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 388 hotspot berada di lahan mineral, sedangkan 149 titik lainnya terdeteksi di kawasan gambut.
Jumlah hotspot di OKI jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa daerah lainnya, seperti Musi Banyuasin dengan 344 titik, Muara Enim 237 titik, dan Banyuasin 168 titik.
Lonjakan hotspot tersebut mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kabut asap mulai turun dan menyelimuti sejumlah wilayah di OKI, termasuk pusat pemerintahan di Kecamatan Kayuagung. Jarak pandang pun mulai berkurang.
Seorang warga, Marni (42), mengeluhkan kondisi udara yang mulai terasa menyesakkan. Ia mengaku cemas karena bau sangit khas lahan terbakar mulai tercium sejak Subuh.
"Tadi pagi pas buka pintu rumah, baunya ampun, sangit nian. Asap juga kelihatan putih-putih nutupi jalan. Anak saya yang kecil dari semalam sudah mulai batuk-batuk. Kalau dibiarkan terus, ngeri kami jadinya," ungkap Marni.
Kekhawatiran warga semakin beralasan mengingat 149 hotspot terdeteksi berada di lahan gambut. Ketika gambut terbakar, asap yang dihasilkan dapat sangat pekat dan proses pemadamannya pun lebih sulit.
"Dengan lonjakan hotspot karhutla, kami hanya bisa berharap supaya pemerintah bergerak lebih agresif. Jangan sampai aktivitas masyarakat harus kembali lumpuh akibat kepungan asap," harapnya.
Satgas Kesulitan Air
Plt Kepala BPBD OKI, Nova Triyussanto, membenarkan kondisi tersebut. Ia tak menampik jumlah hotspot pada Minggu pagi mengalami lonjakan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Kabut asap yang muncul pagi ini disebabkan kebakaran lahan yang belum padam," jelas Nova.
Salah satu penyumbang asap terbesar berasal dari kebakaran hebat yang terjadi pada Sabtu (22/8/2026) malam di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur.
Saat ini, satgas darat gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), RPK, dan BPBD OKI tengah berjibaku menjinakkan api.
Bantuan udara juga dikerahkan melalui patroli dan operasi water bombing untuk membantu proses pemadaman.
Namun, perjuangan satgas di lapangan kini menghadapi kendala serius. Sumber air untuk pemadaman mulai menipis akibat kondisi kemarau.
"Kendala yang dihadapi sekarang minimnya pasokan air untuk pemadaman, karena air berada di kanal maupun embung di lokasi kejadian sudah mulai mengering," beber Nova.
Sebelumnya, karhutla juga telah merambat ke sejumlah wilayah yang masuk kategori rawan, seperti Tulung Selapan, Tanjung Lubuk, Pedamaran Timur, dan Pangkalan Lampam.