Diduga Hanyut di Sungai Kuantan, Warga Kuansing Ditemukan dalam Kondisi Linglung
Sesri August 23, 2026 03:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, KUANSING - Warga Desa Pisang Berebus, Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, sempat dibuat geger setelah seorang pria bernama Mulyadi (54) dilaporkan hilang dan diduga hanyut di Sungai Kuantan.

Mulyadi dilaporkan hilang pada Jumat (21/8/2026) malam setelah berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke tepian Sungai Kuantan.

Kapolsek Kuantan Mudik, AKP Anra Nosa, mengatakan Mulyadi berpamitan sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat hendak pergi, putra bungsunya yang masih berusia 9 tahun sempat ingin ikut. Namun, Mulyadi melarang anak tersebut.

Waktu terus berjalan. Mulyadi tak kunjung kembali ke rumah.

Hingga Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 01.45 WIB, keluarga mulai panik dan memutuskan mencari keberadaan korban.

"Keluarga kemudian mencari korban di lokasi yang sebelumnya disampaikan korban," kata AKP Anra, Minggu (23/8/2026).

Pencarian keluarga menemukan sejumlah barang milik Mulyadi di tepian sungai.

Sepasang sandal, satu unit telepon genggam, serta jejak kaki ditemukan di lokasi.

Baca juga: Mangkir, KPK Berpeluang Jemput Paksa Stafsus Menhut Raja Juli, Dalami Dugaan Suap Bupati Kuansing

Temuan itu sontak memunculkan dugaan kuat bahwa Mulyadi telah masuk atau terseret ke aliran Sungai Kuantan.

"Di pinggir sungai, warga menemukan sepasang sandal dan satu unit HP milik Pak Mulyadi serta jejak kaki. Diduga beliau terseret arus Sungai Kuantan," jelasnya.

Meski arus sungai saat itu tidak terlalu deras, kondisi Sungai Kuantan cukup dalam.

Laporan kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian.

Polsek Kuantan Mudik bersama BPBD Kuansing bergerak melakukan pencarian. Tim menyisir kawasan sungai hingga waktu subuh.

Namun, pencarian justru berujung pada temuan tak terduga.

Mulyadi ternyata ditemukan dalam kondisi selamat di Desa Bandar Alai.

Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer dari titik ditemukannya sandal dan telepon genggam miliknya.

"Korban ditemukan dalam kondisi selamat. Setelah mendapat perawatan medis, tidak ada luka-luka atau kondisi yang mengkhawatirkan dari fisik korban," ujar AKP Anra.

Meski secara fisik tidak mengalami luka serius, kondisi Mulyadi ketika ditemukan membuat petugas harus ekstra hati-hati.

Ia ditemukan dalam kondisi linglung. Bahkan, Mulyadi sempat ketakutan dan berusaha kabur ketika hendak diselamatkan personel Polsek Kuantan Mudik.

Menurut keterangan keluarga, Mulyadi memang kerap mengalami halusinasi.

"Kami juga mengimbau kepada pihak keluarga untuk memperketat pengawasan terhadap Pak Mulyadi agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar AKP Anra Nosa.

Peristiwa Mulyadi menjadi pengingat keras bahwa Sungai Kuantan menyimpan bahaya yang tak selalu terlihat dari permukaan.

Sehari sebelumnya, seorang pemuda dilaporkan tenggelam di sungai yang sama ketika Festival Pacu Jalur Nasional 2026 tengah berlangsung.

Peristiwa itu terjadi Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, hanya sekitar 300 meter dari pancang finis arena Pacu Jalur.

Korban bernama Adam Firmansyah (17), warga Kecamatan Peranap yang berdomisili di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah.

Saat itu, perhatian masyarakat tertuju pada hiruk-pikuk Festival Pacu Jalur.

Adam justru mandi dan berenang di Sungai Kuantan.

Tak disangka, ia terseret arus dan masuk ke bagian sungai yang dalam.

Dalam kondisi panik, Adam sempat menarik istrinya hingga ikut terseret.

Beruntung, sang istri berhasil diselamatkan warga.

Namun, Adam tak berhasil diselamatkan dan tenggelam.

Tim gabungan kemudian melakukan pencarian menggunakan perahu karet.

Pencarian melibatkan Basarnas Provinsi Riau, BPBD Kuansing, dan Polairud Polda Riau.

Sehari berselang, Jumat (21/8/2026) sore, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Adam ditemukan sekitar pukul 17.25 WIB, dengan jarak sekitar 400 hingga 500 meter dari lokasi awal ia dilaporkan tenggelam.

Dua peristiwa dalam rentang waktu berdekatan itu kembali menyoroti risiko aktivitas di Sungai Kuantan.

Apalagi, kondisi sungai yang keruh membuat kedalaman dan kontur dasar sungai sulit dipantau.

Yulizar mengimbau masyarakat tidak menjadikan Sungai Kuantan sebagai tempat mandi atau berenang.

"Jangan berenang dan mandi-mandi di Sungai Kuantan. Meski terlihat mendangkal, namun ada bagian yang dalam bekas aktivitas PETI," ujar Yulizar.

Menurutnya, kondisi sungai yang keruh juga semakin meningkatkan risiko karena masyarakat sulit melihat bagian sungai yang dalam.

"Apalagi Sungai Kuantan kondisi keruh sehingga sulit melihat bagian dalam," katanya.

( Tribunpekanbaru.com/ Guruh BW)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.