Panas Bumi 45 Megawatt Didorong Jadi Penguat Ketahanan Energi Nasional
Dodi Hasanuddin August 23, 2026 03:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta potensi panas bumi Indonesia tidak berhenti sebagai angka dalam berbagai kajian. 

Dia mendorong sumber energi tersebut segera dikembangkan menjadi listrik yang bisa dirasakan manfaatnya masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam pembukaan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Baca juga: Pengembangan Energi Panas Bumi Nasional jadi Prioritas Pembangunan Nasional ke Depan

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan energi panas bumi. 

Namun, besarnya potensi tersebut harus diikuti langkah konkret agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan perekonomian.

“Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa,” kata Bahlil.

Dorongan Bahlil tersebut beriringan dengan langkah pengembangan proyek panas bumi yang melibatkan PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).

Baca juga: Dukung Asta Cita Presiden Prabowo, Potensi Panas Bumi Indonesia Terus Dikembangkan

Kedua perusahaan menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk pembelian tenaga listrik dari dua proyek panas bumi dengan total kapasitas 45 megawatt.

Kesepakatan itu mencakup pengembangan Ulubelu Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 30 megawatt di Provinsi Lampung dan Lahendong Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 15 megawatt di Provinsi Sulawesi Utara.

Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta dan Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam rangkaian IIGCE 2026.

Bagi Bahlil, percepatan pengembangan panas bumi membutuhkan perubahan dari sekadar melihat potensi menjadi membangun proyek yang benar-benar menghasilkan energi.

Dia menilai pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian untuk mengejar target pengembangan energi bersih.

Peran perusahaan listrik, pengembang, investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan agar proyek panas bumi dapat berjalan lebih cepat.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin kekayaan panas bumi Indonesia dapat kita optimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan Indonesia di masa depan,” tambahnya.

Salah satu upaya mengoptimalkan potensi panas bumi dilakukan melalui teknologi bottoming pada proyek Ulubelu dan Lahendong.

Baca juga: Disaksikan Jokowi, PLN Indonesia Power Resmi Kolaborasi Pertamina Optimalkan Energi Panas Bumi

Teknologi tersebut memanfaatkan panas dari fluida panas bumi (brine) yang masih tersisa dan belum digunakan untuk menghasilkan tambahan listrik.

Dengan demikian, pengembangan tidak hanya bertumpu pada pembukaan lapangan panas bumi baru.

Sumber daya yang sudah tersedia di wilayah kerja panas bumi eksisting juga dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kapasitas pembangkitan.

Dalam perencanaan kerja sama strategis tersebut, potensi kapasitas pengembangan secara keseluruhan bahkan disebut dapat mencapai 230 megawatt.

Bahlil menilai pola kolaborasi semacam ini penting untuk mempercepat transformasi potensi panas bumi menjadi sumber listrik yang andal.

Apalagi, Indonesia memiliki kekayaan panas bumi yang besar dan dapat menjadi salah satu penopang sistem energi bersih nasional.

Pengembangan panas bumi juga mendapat perhatian dari Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi. 

Dia menyinggung perjalanan panjang panas bumi Indonesia yang telah memasuki satu abad sejak pengeboran pertama di Kamojang pada 1926.

“Kamojang mengajarkan kita bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi warisan energi yang terus hidup. 100 tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri," ujar Eniya. 

Baca juga: Punya Peran Penting, Energi Panas Bumi di Indonesia Bisa Wujudkan Alternatif Ramah Lingkungan

 Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,” lanjut Eniya.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan  pengembangan Lahendong dan Ulubelu menjadi bagian dari upaya mengubah potensi panas bumi menjadi energi bersih yang dapat diandalkan.

“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar Bernadus.

Bernadus menambahkan, percepatan transisi energi membutuhkan sinergi lintas pihak agar pembangkit energi bersih dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.