SERAMBINEWS.COM - Dampak perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran terus menelan korban di pihak militer AS.
Data Pentagon menunjukkan lebih dari 750 anggota militer AS terluka sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Dikutip dari thehill.com, Jumat (21/8/2026) jumlah tersebut bahkan masih berpotensi bertambah seiring Pentagon memperbarui data korban dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data Defense Casualty Analysis System (DCAS), total korban diperoleh setelah menggabungkan angka dari operasi yang dikenal sebagai “Operation Epic Fury” dengan data terbaru yang dicatat dalam kategori “Overseas Operations”.
Baca juga: Digempur Rudal Iran, Pentagon Evaluasi dan Rombak Total Pangkalan Militer AS di Kawasan Teluk
Selain ratusan personel yang terluka, 18 anggota militer AS dilaporkan tewas dalam konflik tersebut.
Kategori “Overseas Operations” mulai digunakan untuk mencatat korban pada 7 Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya kembali serangan udara AS terhadap Iran setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal tanker di kawasan Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang awalnya diperkirakan berlangsung singkat justru berubah menjadi perang berkepanjangan dengan konsekuensi semakin besar bagi pasukan AS.
Data korban Pentagon juga menjadi sorotan setelah sejumlah media dan anggota parlemen dari Partai Demokrat mempertanyakan perubahan angka korban dalam sistem DCAS.
Sebelumnya, jumlah personel AS yang tercatat tewas dan terluka dalam pertempuran sempat mengalami penurunan dalam basis data tersebut. Perubahan itu memicu pertanyaan mengenai bagaimana Pentagon menghitung dan memperbarui data korban perang.
Di tengah kontroversi tersebut, Trump justru meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Pekan ini, Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah ada” terhadap Iran.
Ancaman tersebut muncul ketika pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu.
Trump bahkan menyebut langkah tersebut sebagai “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Perang AS-Iran kini segera memasuki bulan ketujuh, sementara tanda-tanda tercapainya gencatan senjata permanen belum terlihat.
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, data lebih dari 750 personel AS yang terluka menjadi gambaran lain mengenai harga yang harus dibayar Washington dalam konflik tersebut.
Angka korban itu juga menunjukkan bahwa perang tidak hanya berlangsung di medan tempur Iran, tetapi telah membawa konsekuensi langsung terhadap pasukan AS yang terlibat dalam operasi militer.
Dengan konflik yang belum menunjukkan titik akhir, jumlah korban di pihak AS masih berpotensi berubah seiring pembaruan data Pentagon.(*)