TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kegiatan “Revitalisasi Identitas Budaya Maritim: Dari Ekspresi ke Praksis Sosial” menjadi ruang pertemuan antara seni, kebudayaan, lingkungan, kreativitas, dan kehidupan sosial masyarakat.
Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bahwa identitas budaya maritim tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi perlu dihidupkan kembali melalui praktik kreatif yang dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Laut bukan sekadar ruang geografis. Ia merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, tradisi, ingatan, nilai, serta identitas masyarakat.
Karena itu, revitalisasi budaya maritim dilakukan melalui pendekatan yang terbuka, partisipatif, inklusif, dan kontekstual.
Seni kemudian ditempatkan bukan hanya sebagai objek apresiasi, tetapi sebagai medium untuk membaca realitas, membangun dialog, mengolah persoalan lingkungan, serta menciptakan ruang interaksi sosial.
Kegiatan ini dimotori komunitas seni Manifesto 09, sekelompok alumni mahasiswa Seni Fakultas Seni dan Desain angkatan 2009.
Kegiatan berlangsung di Makassar Creative Hub, Jalan Nusantara, Makassar, pada 8-9 Agustus 2026.
Rangkaian kegiatan dirancang sebagai sebuah proses yang bergerak dari ekspresi menuju praksis sosial.
Peserta tidak hanya melihat karya, tetapi terlibat dalam proses penciptaan, pengolahan material, pertukaran gagasan, dan perjumpaan antarkomunitas.
Salah satu kegiatan yang dihadirkan yakni Mural Inklusi.
Mural ini menjadi ruang ekspresi bersama yang mempertemukan berbagai latar belakang dan perspektif dalam satu karya visual.
Media mural tidak hanya diperlakukan sebagai media gambar, tetapi sebagai ruang publik tempat masyarakat menyampaikan gagasan mengenai laut, kebudayaan, keberagaman, dan kehidupan bersama.
Melalui proses kolaboratif, mural menjadi simbol bahwa identitas budaya bukan sesuatu yang tunggal dan tertutup, melainkan terus dibentuk melalui interaksi sosial.
Selain mural, kegiatan juga menghadirkan Lokakarya Daur Ulang yang menghubungkan praktik seni dengan kesadaran ekologis. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah kembali menjadi objek kreatif yang memiliki nilai estetis dan komunikatif.
Kegiatan ini mengajak peserta melihat kembali hubungan antara manusia, konsumsi, lingkungan, dan laut.
Proses kreatif sekaligus menjadi praktik sederhana untuk membangun kesadaran bahwa menjaga ekosistem maritim dapat dimulai dari tindakan sehari-hari.
Papercraft juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Aktivitas ini menjadi ruang eksperimentasi kreatif yang memperkenalkan proses membangun bentuk, objek, dan representasi budaya melalui material sederhana.
Peserta dapat mengeksplorasi berbagai bentuk yang berkaitan dengan kebudayaan lokal. Melalui aktivitas tersebut, pengetahuan budaya diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan generasi muda.
Rangkaian kegiatan kemudian dilengkapi Pameran Seni Rupa yang menjadi ruang presentasi sekaligus ruang dialog.
Karya-karya yang ditampilkan merepresentasikan berbagai cara seniman dan peserta dalam memandang laut, identitas, tradisi, lingkungan, serta perubahan sosial.
Pameran tidak ditempatkan sebagai akhir dari proses berkesenian, tetapi sebagai titik temu antara karya dan publik.
Pengunjung diajak untuk tidak hanya mengapresiasi karya secara estetis, tetapi juga membaca gagasan dan realitas sosial yang berada di baliknya.
Pementasan Musik turut menghadirkan dimensi bunyi sebagai bagian dari ekspresi budaya.
Musik menjadi medium untuk menghidupkan suasana, membangun interaksi, serta mempertemukan berbagai ekspresi musikal dalam satu ruang bersama.
Melalui musik, kebudayaan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai praktik yang terus berkembang dan dapat dinegosiasikan dengan pengalaman generasi masa kini.
Selain itu, Pop Art Market menjadi ruang pertemuan antara karya, kreativitas, komunitas, dan aktivitas ekonomi kreatif.
Berbagai produk seni, kerajinan, maupun karya kreatif dipertemukan dengan masyarakat dalam suasana yang lebih terbuka dan partisipatif.
Kehadiran Pop Art Market memperluas gagasan bahwa seni dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari sekaligus membuka kemungkinan bagi pengembangan ekosistem kreatif masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang sebagai satu kesatuan proses.
Mural menjadi ruang partisipasi, daur ulang menjadi praktik ekologis, papercraft menjadi eksperimentasi kreatif, pameran menjadi ruang refleksi, musik menjadi ruang perjumpaan, dan Pop Art Market menjadi ruang distribusi serta penguatan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada produksi karya seni. Lebih jauh, kegiatan diarahkan untuk membangun pengalaman kolektif bahwa kebudayaan dapat dirawat melalui tindakan nyata.
Dari laut sebagai ingatan, menuju laut sebagai kesadaran.
Dari seni sebagai ekspresi, menuju seni sebagai praksis sosial.
Dari warisan budaya, menuju identitas yang terus dihidupkan.
Revitalisasi identitas budaya maritim pada akhirnya bukan sekadar upaya mengingat masa lalu, melainkan usaha untuk menciptakan hubungan baru antara manusia, kebudayaan, lingkungan, dan ruang sosial melalui praktik seni yang hidup dan partisipatif.