51 KK Perantau Asal Jawa-Sumatera Betah di Sidrap, Kemarau Jadi Ujian Baru
Saldy Irawan August 23, 2026 07:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP - Transmigran asal Jawa dan Sumatera kini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Mereka datang dengan harapan membangun kehidupan baru di tanah yang sebelumnya belum begitu dikenal.

Namun, setelah menetap dan mengolah lahan, tantangan yang dihadapi tidak selalu mudah.

Di Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase, para transmigran kini menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perkebunan, hingga peternakan.

Data yang diperoleh Tribun-Timur.com, terdapat 205 kepala keluarga (KK) transmigran di satuan permukiman Desa Lagading.

Sementara itu, sebanyak 51 KK lainnya merupakan warga transmigran yang berasal dari Pulau Jawa dan Sumatera.

Mereka ditempatkan secara bertahap di Desa Lagading sejak 2017 hingga 2025.

Desa Lagading sendiri berada di wilayah Kecamatan Pitu Riase, sekitar 45 hingga 48 kilometer dari Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Sidrap di Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae.

Jarak tersebut menggambarkan bahwa kehidupan transmigran di Lagading masih jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sidrap.

Kondisi itu membuat kemandirian menjadi salah satu cara bagi warga untuk bertahan, terutama dengan memanfaatkan lahan dan potensi yang tersedia.

Salah seorang transmigran asal Kebumen, Jawa Tengah, Samijo, telah menetap di Sidrap sejak Desember 2023.

Bersama istrinya, Tarmiasih, Samijo membangun sumber penghasilan keluarga dari berbagai pekerjaan.

Ia beternak sapi, berkebun cabai dan jeruk nipis, menanam pisang, hingga sesekali membantu petani saat musim panen.

Beragam pekerjaan itu menjadi cara Samijo dan keluarganya agar tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan.

Namun, musim kemarau yang melanda saat ini ikut menekan aktivitas pertanian dan perkebunan yang menjadi tumpuan ekonomi warga.

“Kami aktivitasnya sekarang lagi tanam cabai, mengolah kebun jeruk, beternak sapi, dan juga kadang ikut bantu petani untuk panen. Tapi, karena sekarang musim kemarau, banyak sektor yang memengaruhi hasil produksi. Otomatis itu juga berpengaruh terhadap pemasukan kami,” ujar Samijo saat dihubungi Tribun-Timur.com, Minggu (23/8/2026).

Dalam kondisi normal, penghasilan Samijo sebagai transmigran berkisar Rp2 juta per bulan atau rata-rata sekitar Rp100 ribu per hari.

Bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil kebun dan ternak, angka tersebut bisa berubah ketika produksi terganggu oleh cuaca dan kondisi usaha.

Karena itu, Samijo berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada proses penempatan transmigran, tetapi berlanjut pada penguatan usaha masyarakat setelah mereka menetap.

“Kami berharap ada bantuan lagi dari pemerintah, terutama dari segi permodalan usaha dan juga bantuan bibit hewan ternak seperti kambing, sapi, dan juga ayam,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Awaluddin, transmigran lainnya di Desa Lagading.

Selain mengelola kebun, ia juga membuka warung sembako untuk menopang perekonomian keluarganya bersama istri dan orang tuanya.

Awaluddin berharap pemerintah dapat membantu penyediaan bibit serta kawat untuk melindungi tanaman cabai dan jeruk milik warga.

Menurutnya, tanaman di kebun kerap rusak karena hewan ternak milik warga dibiarkan berkeliaran dan masuk ke area perkebunan.

“Semoga ada bantuan kawat dan juga bibit dari pemerintah. Sebab di sini hewan seperti sapi itu dilepas begitu saja oleh pemiliknya. Kadang tengah malam, tanaman kami habis dimakan sapi,” kata Awaluddin yang datang sejak Desember 2024.

Bagi para transmigran, persoalan tersebut bukan sekadar tentang tanaman yang rusak, tetapi juga tentang pendapatan keluarga yang ikut hilang ketika hasil kebun gagal dipanen (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.