Mencari Ijazah di Tengah Puing: Neli Kehilangan Hasil Tenun dan Jejak Pendidikan
Wahyu Widiyantoro August 23, 2026 07:22 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Idham Khalid

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Asap tipis masih mengepul dari puing-puing reruntuhan rumah ketika Neli (25) bersama adiknya, Mariana (14), kembali menyusuri sisa kebakaran Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026).

Dengan tangan, Neli mencokel dan memilah puing yang menghitam. Bukan sekadar mencari barang berharga, ia berharap menemukan kembali dokumen penting yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yaitu ijazah dan surat tanah.

Namun harapan itu pupus. Di antara abu dan sisa bangunan, hanya potongan dokumen dengan lambang Garuda yang tampak sudah tidak utuh dilahap api.

“Saya mencari ijazah saya dan surat rumah, ternyata sudah hangus terbakar semua,” ungkap Neli kepada Tribun Lombok.

Ijazah sekolah menjadi salah satu benda yang paling ia cari. Meski hingga kini belum memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bagi Neli, lembaran ijazah tersebut tetap memiliki arti penting.

“Belum bisa kuliah, tapi setidaknya, ijazah sekolah dasar ini menandakan saya pernah bersekolah,” ungkapnya.

Baca juga: Menpar Instruksikan Poltekpar Lombok Buka Dapur Umum untuk Korban Kebakaran Desa Sade

Mengais Sisa Kain Tenun

Hari itu, Neli bukan hanya mencari dokumen. Ia juga berharap masih menemukan sebagian kain tenun yang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dikerjakannya untuk dijual kepada wisatawan.

Namun, kebakaran tidak menyisakan banyak pilihan. Dari antara puing, ia hanya menemukan sepotong songket dalam kondisi tidak utuh dan menghitam. Motif ragi genep berwarna merah yang menjadi bagian dari kain tersebut juga ikut rusak akibat terbakar.

“Sudah gak ada tersisa, surat-surat habis semua, songket yang kita tenun berbulan lamanya habis,” tuturnya.

Bagi Neli, kehilangan alat tenun berarti kehilangan sumber penghasilan sekaligus bagian dari warisan keluarga.

Ia meneruskan usaha menenun yang diwariskan ibu dan nenek leluhurnya. Selain kain tenun, Neli juga membuat gelang berbahan kain yang dijual sebagai suvenir kepada wisatawan.

Ia telah menekuni seni menenun sejak remaja. Keterampilan tersebut kemudian menjadi pekerjaan yang menopang kehidupan keluarganya.

Namun, dalam satu malam, alat tenun, kain yang sudah jadi, dan berbagai bahan untuk bekerja semuanya ludes.

“Kalau pekerjaan selama ini saya menenun dan buat gelang, dari situ pendapatan kami, tapi sekarang saya gak tau, gak bisa nenun lagi, alat tenun kita habis terbakar,” ungkapnya.

Kehilangan Mata Pencaharian

Kebakaran itu bukan hanya meratakan rumah. Api juga memutus sementara mata pencaharian yang selama ini dijalankan Neli bersama keluarganya.

Ia mengaku, dalam satu selendang tenun jenis songket, ia menjual Rp2 juta hingga 2,5 juta.

Di tengah puing rumah berukuran sekitar 5 x 6 meter, ayah Neli, Amaq Renah (56), hanya bisa memandangi sisa bangunan yang telah menghitam.

Renah mengaku tidak menyangka rumah keluarganya bisa dilalap api dalam waktu singkat. Saat kebakaran terjadi, ia sedang berada di luar rumah.

“Saya gak bisa banyak bicara, bisa lihat sendiri beginilah kondisinya,” kata Renah.

Rencana perbaikan Rumah Buyar

Sebelum kebakaran, Renah sebenarnya telah memiliki rencana memperbaiki rumah tersebut. 

Namun, dalam tradisi dan kalender Sasak, terdapat waktu tertentu yang menjadi pertimbangan sebelum memperbaiki atau membangun rumah.

Ia mengatakan keluarganya menunggu berakhirnya bulan kedelapan atau yang dikenal sebagai Bubur Beaq dalam kalender Sasak.

“Kalau dalam kalender Sasak kalau Bulan Bubur Beaq itu gak boleh kita memperbaiki rumah atau membangun rumah, jadi harus nunggu bulan ini dulu,” ungkapnya.

Namun, sebelum rencana itu terlaksana, rumah warisan keluarga tersebut justru lebih dulu dilalap api.

Renah menjelaskan, rumah Sasak memiliki pembagian ruang dengan fungsi masing-masing. 

Bagian pertama adalah sangkok atau teras kemudian dalem bale yang digunakan sebagai tempat memasak, serta bale dalem, ruang privat keluarga yang dalam tradisi tertentu juga digunakan sebagai tempat melahirkan.

Kini, struktur ruang tersebut hanya tersisa dalam ingatan.

Renah masih menunggu hasil musyawarah adat mengenai rencana pembangunan kembali rumah warisan keluarganya. 

Ia berharap, apabila pemerintah memberikan bantuan, pembangunan dapat dilakukan sebelum musim hujan tiba.

“Kalau untuk membangun mandiri, agak susah, karena musibah kebakaran ini menghanguskan harta benda kita, termasuk padi yang kami simpan di lumbung, untuk menyimpan makanan,” kata Renah.

Ditangani Setelah Prioritas Keselamatan dan Kesehatan

Wakil Bupati Lombok Tengah Nursiah mengatakan pemerintah memahami banyak dokumen administrasi penting warga ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.

Namun, menurutnya, penanganan awal masih difokuskan pada keselamatan dan kesehatan warga terdampak.

“Untuk berkaitan dengan surat tetap kami prioritaskan nanti akan ditangani OPD terkait, yang terutama sekarang dulu adalah bagaimana penanganan bencana, keselamatan kesehatan warga,” ungkapnya.

Kebakaran Desa Adat Sade yang terjadi pada Sabtu (23/8/2026) malam menyebabkan sedikitnya 150 rumah terbakar dan lebih dari 300 jiwa terdampak.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.