TRIBUNJATIM.COM - Cuaca di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Senin (24/8/2026) diprakirakan masih didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan.
Kondisi tersebut sejalan dengan musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Timur.
Meski demikian, hujan lokal tetap berpeluang terjadi di beberapa daerah.
Perubahan cuaca perlu diwaspadai, terutama pada wilayah yang memiliki kondisi atmosfer lebih lembap.
Masyarakat yang akan beraktivitas di luar rumah disarankan tetap memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG.
Baca juga: Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang 22-27 Agustus 2026, Cek Prediksi BMKG
Pada pagi hingga siang hari, sebagian besar wilayah Jawa Timur diprakirakan mengalami cuaca cerah dan cerah berawan.
Suhu udara dapat terasa cukup panas saat memasuki siang hari.
Sementara pada sore hingga malam, beberapa wilayah berpotensi mengalami perubahan kondisi cuaca.
Hujan lokal dapat terjadi meski tidak merata di seluruh wilayah.
Suhu udara di Jawa Timur secara umum diperkirakan berada di kisaran 19 hingga 32 derajat Celsius, tergantung kondisi masing-masing daerah.
Baca juga: Kapan Hujan Turun? BMKG Jelaskan Alasan Kemarau Masih Berlangsung hingga September 2026
Masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca saat menjalankan aktivitas, khususnya pada siang hari ketika suhu udara meningkat.
Bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jauh atau beraktivitas di luar ruangan, membawa perlengkapan pelindung seperti payung dan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari dapat menjadi langkah antisipasi.
Informasi prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.
Berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan pada periode Agustus-September diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah.
BMKG juga memperkirakan 437 Zona Musim (ZOM), atau 48,77 persen wilayah daratan Indonesia, mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 ZOM atau 72,8 persen dari total 699 ZOM telah memasuki musim kemarau.
Wilayah tersebut mencakup sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia.
Dampak kemarau turut terlihat dari meningkatnya durasi Hari Tanpa Hujan (HTH).
BMKG mencatat 70 titik mengalami HTH dengan kategori ekstrem panjang.
Rekor terpanjang terjadi di Purworejo, Jawa Tengah, dengan periode tanpa hujan mencapai 80 hari.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah pengaruh dinamika iklim global, termasuk fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).
Indeks anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat mencapai +1,56.
Angka ini mengindikasikan El Nino telah aktif dan puncak intensitasnya berpotensi mencapai lebih dari level kuat.
Di sisi lain, indeks IOD berada pada angka -0,387. BMKG memprediksi fenomena tersebut akan memasuki fase positif mulai September hingga Desember 2026.
Baca juga: 8 Provinsi Masuk Kategori Awas Kekeringan BMKG, Berlaku hingga 20 Agustus 2026
Perubahan pola curah hujan juga tampak dalam catatan beberapa bulan terakhir.
Mei 2026 tercatat sebagai salah satu bulan dengan kondisi sangat basah, bahkan menjadi Mei terbasah ketiga sejak 1991.
Sebulan kemudian, kondisi berbalik. Juni 2026 tercatat sebagai Juni terkering kedelapan sejak 1991.
Secara nasional, sifat curah hujan pada Juni 2026 didominasi kategori Bawah Normal dengan persentase mencapai 51,27 persen.
Kemarau yang lebih kering turut meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus berpotensi menurunkan kualitas udara.
Hingga 29 Juli 2026, BMKG mencatat 5.019 titik panas atau hotspot di berbagai wilayah Indonesia.
Laju pertambahan titik panas pada periode Maret-Juli 2026 juga tercatat lebih cepat dibandingkan periode serupa pada sejumlah tahun El Nino sebelumnya, yakni 2015, 2019, dan 2023.
Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi tiga provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak.
Di Kalimantan Barat, tingginya titik panas meningkatkan potensi kebakaran hutan. Kondisi ini turut menyebabkan kabut asap pekat terkonsentrasi di sejumlah wilayah.
Sementara itu, kualitas udara di Pulau Jawa menghadapi persoalan lain berupa peningkatan karbon monoksida (CO). Kondisi tersebut berkaitan dengan emisi kendaraan, kegiatan industri, serta pembangkit listrik.
Atmosfer yang cenderung stabil saat musim kemarau membuat karbon monoksida lebih mudah terperangkap di dekat permukaan.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com