Lahir Kamis Legi? Ini Gambaran Wuku Langkir dalam Primbon Jawa
Muhammad Fatoni August 24, 2026 12:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, ada seseorang yang kalau melihat sesuatu belum selesai dijelaskan, rasanya ingin terus mencari tahu.

Satu pertanyaan terjawab, muncul pertanyaan lain.

Melihat sesuatu yang belum diketahui, rasa penasaran langsung muncul.

Dalam gambaran Primbon Pawukon Bayi Lahir, sifat seperti itu dikaitkan dengan orang yang lahir pada Kamis Legi.

Hari kelahiran tersebut disebut berada dalam Wuku Langkir.

Wuku ini memiliki Batara Kala sebagai dewa pelindung, burung Cendala sebagai lambang burung, serta batang Ingas sebagai lambang tumbuhan.

Menariknya, hampir setiap simbol dalam Wuku Langkir punya cerita tersendiri.

Wuku Langkir, Punya Rasa Penasaran Tinggi

Ilustrasi berfikir
Ilustrasi berfikir (pexels.com)

Menurut catatan dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, orang yang lahir pada Wuku Langkir digambarkan memiliki watak penasaran.

Sifat ini membuat sosok Wuku Langkir seolah tidak mudah puas hanya dengan mengetahui sesuatu di permukaannya.

Ada rasa ingin tahu yang terus mendorong untuk mencari jawaban.

Sementara itu, dewa pelindungnya adalah Hyang Kala, yang dalam sumber tersebut digambarkan memiliki watak pemarah.

Dari sini, Wuku Langkir memiliki perpaduan karakter yang cukup unik.

Di satu sisi ada rasa ingin tahu yang besar.

Di sisi lain ada karakter yang mudah tersulut emosi.

Ada Batang Ingas yang Tidak Bisa Sembarangan Disentuh

Simbol tumbuhan Wuku Langkir adalah batang Ingas.

Bukan tumbuhan biasa, batang ini dikenal memiliki getah yang dapat menyebabkan rasa gatal ketika mengenai kulit.

Dalam simbolisme Wuku Langkir, keberadaan batang Ingas membuat gambaran wuku ini terasa semakin menarik.

Sesuatu yang terlihat biasa saja ternyata perlu diperlakukan dengan hati-hati.

Baca juga: Lahir Rabu Kliwon? Wuku Maktal Disebut Punya Watak Teguh dan Tekun

Batara Kala Menghadap Kebun dan Senjata Tajam

Simbol Wuku Langkir juga menggambarkan Batara Kala yang menghadap ke kebun dan senjata tajam, sementara membelakangi jambangan.

Dalam tradisi pawukon, posisi dan benda-benda yang menyertai tokoh bukan sekadar hiasan. 

Masing-masing menjadi bagian dari simbol yang digunakan untuk menggambarkan karakter serta perjalanan hidup.

Wuku Langkir pun memiliki rangkaian simbol yang menggambarkan sosok dengan rasa penasaran tinggi, tetapi sekaligus perlu berhati-hati dalam menghadapi sesuatu.

Kalau dipikir-pikir, rasa penasaran sebenarnya bisa menjadi modal yang menarik.

Dari rasa penasaran, seseorang bisa terdorong untuk belajar, mencari pengalaman baru, dan tidak cepat puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Namun, dalam gambaran Wuku Langkir, sifat tersebut berjalan berdampingan dengan karakter Batara Kala yang disebut pemarah.

Karena itu, kisah Wuku Langkir seperti mengingatkan bahwa rasa ingin tahu juga perlu ditemani pengendalian diri.

Sebab tidak semua hal harus dikejar dengan terburu-buru, dan tidak semua rasa penasaran harus berujung pada tindakan.

Berbagai gambaran tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan pengetahuan tradisional Jawa, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kepastian mengenai karakter seseorang.

Justru di situlah menariknya pawukon.

Melalui nama wuku, tokoh pewayangan, hewan, tumbuhan, hingga benda-benda tertentu, masyarakat Jawa dahulu menyusun cerita untuk memaknai kehidupan.

Tribunners, kalau rasa penasaran disebut sebagai salah satu ciri Wuku Langkir. 

Lantas, seperti apa gambaran wuku kelahiran lainnya? 

Wuku mana yang paling menarik untuk dibahas berikutnya?

Tulis di kolom komentar ya!

(MG Natasya Aulia)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.