TRIBUNJOGJA.COM - Bayangkan ada seseorang berpendirian teguh, tekun bekerja, cekatan saat mengerjakan sesuatu.
Tetapi di saat bersamaan harus lebih waspada agar tidak ada hal kecil yang terlewat.
Dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, gambaran tersebut dikaitkan dengan orang yang lahir pada Rabu Kliwon.
Hari kelahiran ini disebut berada dalam Wuku Maktal.
Menariknya, Wuku Maktal tidak hanya punya gambaran watak.
Ada pula sederet simbol yang seolah menceritakan karakter dan perjalanan hidup seseorang.
Mulai dari Betara Bayu, burung Kedali, kayu Wali Kukun, hingga sebuah gambaran yang cukup cantik.
Lalu, seperti apa ceritanya?
Menurut Primbon Pawukon Bayi Lahir, orang yang berada dalam Wuku Maktal digambarkan sebagai pribadi yang teguh pendirian dan tekun bekerja.
Kalau sudah punya tujuan, ada kecenderungan untuk tetap mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Sosoknya juga disebut cekat ketika mengerjakan sesuatu.
Namun, ada satu catatan kecil.
Keteguhan dan kecepatan tersebut perlu diimbangi dengan ketelitian.
Dalam gambaran Batara Bayu, orang dengan Wuku Maktal disebut bisa kurang teliti dan kurang waspada saat menjalankan pekerjaan.
Jadi, cepat boleh. Semangat tentu boleh.
Tapi jangan sampai karena ingin segera selesai, ada satu-dua hal yang justru tertinggal.
Setiap wuku memiliki simbol masing-masing.
Untuk Wuku Maktal, salah satunya adalah burung Kedali.
Dalam primbon, burung ini menjadi perlambang kekuatan lahir dan batin serta kejernihan budi.
Seolah ada gambaran tentang seseorang yang memiliki tenaga untuk menghadapi kehidupan, tetapi juga dibekali pikiran dan hati yang terang.
Bukan hanya kuat menghadapi keadaan, tetapi juga punya kemampuan untuk tetap berpikir jernih.
Ada lagi simbol gedung dengan bagian depan yang terbuka.
Dalam tafsir primbon, gedung tersebut berkaitan dengan rezeki dan kekayaan.
Menariknya, rezeki orang dengan Wuku Maktal disebut bisa datang dengan cepat.
Tetapi, ada pula catatan bahwa kekayaan tersebut bisa cepat berkurang.
Seperti pintu gedung yang terbuka rezeki bisa masuk, tetapi perlu dijaga agar tidak begitu saja keluar.
Karena itu, bagian ini terasa seperti pengingat sederhana
”Mendapatkan sesuatu dan mempertahankannya adalah dua perkara yang berbeda.”
Baca juga: Senin Pon, Wukunya Apa? Ini Gambaran Watak Menurut Primbon Pawukon
Belum selesai sampai di situ.
Di bagian belakang gedung terdapat duaja, atau panji-panji.
Dalam simbol Wuku Maktal, duaja tersebut dikaitkan dengan daya ingat yang kuat.
Sementara itu, kenikmatan hidupnya dipercaya justru berada di bagian akhir dari perjalanan hajatnya.
Artinya, menurut tafsir primbon, hasil yang menyenangkan tidak selalu datang dengan cepat.
Ada sesuatu yang mungkin perlu dijalani terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai pada titik yang diharapkan.
Nah, bagian ini mungkin yang paling menarik.
Wuku Maktal diibaratkan seperti bintang yang bercahaya gemerlapan, tetapi terus berpindah tempat.
Bukan sekadar gambaran indah.
Dalam primbon, simbol tersebut menggambarkan kehidupan yang dipenuhi suka dan duka secara silih berganti.
Hari ini bisa terasa terang.
Besok mungkin tidak secerah sebelumnya.
Lalu, keadaan kembali berubah.
Seperti bintang yang berpindah tempat, hidup pun dipercaya tidak pernah benar-benar diam.
Namun, ada satu hal yang tetap melekat pada gambaran Wuku Maktal.
Yakni pancaran kehidupannya disebut tenang.
Ada pula satu hal yang dipercaya perlu diperhatikan.
Dalam catatan primbon, Wuku Maktal memiliki pantangan yang berkaitan dengan tutur kata.
Bahkan disebutkan adanya bahaya yang dapat muncul dari perkataan.
Kalau ditarik ke kehidupan sehari-hari, bagian ini terasa cukup relevan.
Sebab terkadang masalah besar memang berawal dari sesuatu yang sederhana.
Meski begitu, catatan mengenai petaka dan penangkal dalam primbon merupakan bagian dari kepercayaan tradisional, bukan kepastian mengenai kehidupan seseorang.
Dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, ada pula gambaran mengenai pekerjaan yang dianggap baik untuk mencari rezeki.
Untuk Wuku Maktal, disebutkan jual beli ternak kerbau atau mengajar.
Tentu saja, bagian ini merupakan petungan dalam tradisi primbon.
Bukan berarti setiap orang yang lahir Rabu Kliwon harus menjadi pedagang kerbau atau seorang pengajar.
Justru menarik melihat bagaimana masyarakat Jawa dahulu menghubungkan hari kelahiran, simbol, watak, hingga pekerjaan dalam satu rangkaian cerita.
Tribunners, Wuku Maktal menyimpan banyak simbol tentang perjalanan hidup
Lantas, seperti apa gambaran wuku kelahiran lainnya?
Wuku mana yang paling menarik untuk dibahas berikutnya?
Tulis di kolom komentar ya!
(MG Natasya Aulia)