TRIBUNKALTIM.CO - Pelatih Timnas Voli Putra Indonesia, Reidel Toiran, memahami dilema pemain yang tetap mengikuti turnamen antarkampung atau tarkam ketika sedang menjalani TC (training camp) atau pemusatan latihan bersama tim nasional.
Menurut pelatih asal Kuba tersebut, mengikuti tarkam saat menjalani pemusatan latihan bukan pilihan ideal bagi atlet.
Aktivitas itu berisiko membuat pemain kelelahan, mengalami cedera, atau tidak mampu mengikuti latihan dengan kondisi fisik maksimal.
Meski demikian, Toiran memilih tidak melarang pemainnya secara mutlak.
Baca juga: Hasil SEA V Cup 2026: Kalahkan Filipina, Timnas Voli Putra Indonesia Tantang Vietnam di Semifinal
Ia memahami sebagian atlet memiliki keluarga yang harus dinafkahi, sementara pemasukan yang diterima dari timnas dinilai belum selalu mencukupi kebutuhan mereka.
Toiran menilai persoalan tersebut harus dilihat dari dua sisi.
Sebagai pelatih, ia berkepentingan menjaga kondisi fisik dan performa pemain, tetapi sebagai mantan atlet, ia juga memahami kebutuhan ekonomi para pemain.
Reidel Toiran juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa setiap pemain memiliki keluarga yang harus dinafkahi.
Di sisi lain, gaji yang diterima dari timnas dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga pemain.
Hal itu disampaikan Reidel Toiran dalam podcast VOLLEY 360 yang tayang di YouTube Voli TV, Jumat (21/8/2026).
"Kalau aku, tarkam buat atlet itu tidak efektif. Tidak efektifnya buat timnas," kata Reidel Toiran ketika ditanya mengenai sikapnya sebagai pelatih saat mengetahui anak didiknya mengikuti tarkam.
"Karena di sana (tarkam—red) bisa jadi cedera atau kecapekan, atau tidak maksimal saat latihan karena kurang istirahat," sambung pria yang saat masih aktif sebagai pevoli profesional pernah membawa Surabaya Samator menjuarai Proliga empat kali.
Baca juga: Sejarah Baru! Timnas Voli Putra Indonesia Juara AVC Men’s Cup 2026, Gagalkan Ambisi Korea Selatan
Namun, pemilik nama lengkap Reidel Alfonso Gonzales Toiran tersebut tidak bisa mengesampingkan aspek kemanusiaannya.
Sebagai atlet yang pernah merantau ke berbagai negara demi mendapatkan pemasukan untuk keluarga, dia memahami betul bagaimana seorang pemain harus bertahan hidup.
Salah satunya melalui olahraga bola voli, termasuk dengan mengikuti pertandingan tarkam yang digelar di berbagai wilayah Indonesia.
Toiran pun memberikan pilihan kepada pemain timnas yang mengikuti TC untuk mengambil pekerjaan tarkam, dengan catatan mereka memahami risiko dan tetap bertanggung jawab sebagai atlet.
"Cuma di sini semua (pemain—red) punya keluarga, dari mana aku bisa melarang anak-anak tidak boleh tarkam padahal mereka juga harus cari duit untuk keluarga," sambung pria yang pernah membawa Jakarta Bhayangkara Presisi menjuarai Proliga sebagai pelatih.
"Itu yang aku enggak mau permasalahkan. Yang penting kita disiplin, waktunya kita ke lapangan ya ke lapangan, bukan malah enggak latihan."
"Pasti ada (pemain timnas yang menjalani TC mengambil tarkam—red). Itu tergantung anak-anak, kalau mereka butuh duit dan ada tarkam, mereka akan ambil itu. Tapi kalau waktunya latihan ya latihan."
"Aku enggak bisa melarang (untuk tarkam—red), aku kasih pilihan ke anak-anak."
Baca juga: Sapu Bersih, Timnas Voli Putra Indonesia ke Final SEA V Cup 2026. Kans Raih Gelar Ke-4
Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan pemain bola voli selama satu bulan di timnas bisa setara dengan pemasukan dari sekali mengikuti tarkam.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Reidel Toiran.
"Iya benar," jawabnya sembari menganggukkan kepala.
"Kalau gaji besar bisa aku paksa (pemain dilarang tarkam—red), tetapi gaji di sini (timnas—red) kurang buat anak-anak, bagaimana bisa dipaksa."
Kendati demikian, Toiran yang sukses membawa Jakarta Bhayangkara Presisi menjuarai AVC Club Championship serta AVC Men's Cup 2026 bersama Timnas Voli Putra Indonesia, menyebut banyak pemainnya yang tidak mengambil pertandingan tarkam.
Hal tersebut tidak terlepas dari pola latihan yang diterapkannya dengan intensitas tinggi.
"Kalau pemain yang biasa sama aku di klub, mereka memang tarkam, tetapi enggak terlalu banyak. Karena latihannya berat, jadi enggak berani (sering-sering tarkam—red). Soalnya risiko di latihan paginya berat, dan latihanku selalu berat."
"Sehingga pemain sesekali saja kalau tarkam," tegas Toiran.
Kini, Reidel Toiran dan 18 pemain Timnas Voli Putra Indonesia tengah menjalani Pelatnas Asian Games 2026. Timnas Voli Putra Indonesia mendapat target cukup berat dari PBVSI, yakni membawa pulang medali perunggu.
Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang, akan mulai bergulir pada September mendatang.
Tim voli putra Indonesia menempati Pool B bersama Iran, Thailand, dan Kyrgyzstan. Iran menjadi lawan terkuat di pool ini karena menempati peringkat ke-19 dunia. (*)