Bangkok (ANTARA) - Komando Keamanan Dalam Negeri Thailand pada Minggu melaporkan bahwa lebih dari 50 ledakan, aksi pembakaran, tindakan vandalisme, dan serangan telah dilakukan oleh kelompok separatis di Thailand selatan dalam satu hari.
“Di 21 distrik di provinsi Narathiwat, Yala, dan Pattani, total 51 serangan dilakukan terhadap institusi pemerintah dan fasilitas publik dalam periode sejak pukul 20.00 waktu setempat (13.00 GMT) pada Sabtu, 22 Agustus,” kata komando tersebut dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa puluhan ledakan alat peledak rakitan terjadi, disertai aksi pembakaran dan vandalisme terhadap gedung-gedung pemerintah. Kejadian itu menyebabkan dua orang terluka.
Langkah-langkah keamanan yang diperketat telah diberlakukan di ketiga provinsi tersebut. Masyarakat juga diminta untuk tidak bepergian dan menghindari tempat-tempat ramai.
Sejumlah pengamat lokal menilai aksi-aksi di wilayah selatan Thailand tersebut merupakan upaya organisasi separatis yang beroperasi di kawasan itu untuk memperkuat posisi mereka menjelang dimulainya putaran baru perundingan dengan pemerintah pusat mengenai rekonsiliasi nasional dan otonomi.
Pada masa lalu, provinsi Narathiwat, Yala, dan Pattani merupakan bagian dari negara vasal semi-independen Bangkok yang dikenal sebagai Kesultanan Pattani. Wilayah tersebut menjadi negara penyangga antara Kerajaan Siam (sekarang Thailand) dan koloni Inggris di wilayah yang kini menjadi Malaysia.
Kesultanan Pattani menjadi bagian dari Thailand pada awal abad ke-20 dan secara administratif dibagi menjadi tiga provinsi. Mayoritas penduduk wilayah ini adalah etnis Melayu dan beragama Islam.
Sejak awal abad ke-20, gerakan separatis telah berulang kali muncul di kawasan tersebut dan terlibat konflik dengan pemerintah pusat di Bangkok.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti





