Anak Korban Drag Race Upai Kecewa Biaya RS Ratusan Juta Rupiah, Keluarga Pebalap Hanya Beri Santunan
Indry Panigoro August 24, 2026 01:34 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Kekecewaan keluarga korban tragedi Drag Race Upai, Kotamobagu kembali mencuat. 

Risandi Mokoginta, anak Rina Longkun, mempertanyakan sikap keluarga Tian Ngantung pebalap McJoe yang dinilai belum menunjukkan tanggung jawab terhadap korban yang masih menjalani perawatan.

Rina Longkun merupakan salah satu korban kecelakaan Drag Race pada 9 Agustus 2026 lalu.

Ia mengalami luka pada bagian kaki dan baru menjalani operasi. 

Hingga kini, Rina masih membutuhkan perawatan medis.

Ditengah kondisi tersebut, Risandi Mokoginta anak Risna mengaku telah menghubungi Danny Ngantung, ayah Tian Ngantung, untuk meminta bantuan terkait biaya operasi ibunya.

Namun menurut Risandi, permintaan tersebut tidak mendapat respons seperti yang diharapkan.

“Saya menghubungi orang tua Tian untuk bermohon dan menanyakan biaya operasi mama saya. Tapi jawabannya tidak,” kata Risandi, Minggu 23 Agustus 2026. 

Risandi mengatakan, Danny menyampaikan bahwa pihak keluarga Tian hanya memberikan santunan. 

Tidak ada penjelasan mengenai tanggung jawab terhadap biaya operasi dan pengobatan lanjutan.

Jawaban tersebut membuat Risandi kecewa.

Ia mempertanyakan bagaimana keluarga korban harus memenuhi biaya pengobatan jika tanggung jawab hanya berhenti pada santunan.

“Lantas siapa yang mau bertanggung jawab soal biaya operasi sebesar Rp 120 juta di rumah sakit? Kami binggung,” ujar Risandi pagi. 

Ia menegaskan, keluarga korban tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. 

Mereka hanya membutuhkan kepastian karena kondisi korban membutuhkan penanganan medis yang tidak murah.

Sikap tersebut juga dinilai bertolak belakang dengan harapan keluarga ketika Danny Ngantung sebelumnya datang langsung ke rumah-rumah korban bersama rombongan.

Dalam kunjungan itu, keluarga Tian menyampaikan belasungkawa, permohonan maaf dan memberikan santunan. 

Danny menyebut kedatangan mereka sebagai bentuk empati atas musibah yang terjadi.

Namun, bagi Risandi empati tidak cukup berhenti pada kedatangan dan pemberian santunan. 

Masih ada korban yang terbaring di rumah sakit dan membutuhkan biaya pengobatan.

“Kalau hanya santunan, setelah itu bagaimana dengan korban yang masih dirawat? Bagaimana dengan biaya operasi dan pengobatan mereka?” kata dia. 

Ia menilai keluarga korban membutuhkan kejelasan, bukan sekadar kedatangan sesaat.

Apalagi, Rina baru menjalani operasi dan masih membutuhkan perawatan. 

Beban tersebut kini harus ditanggung keluarga, sementara mereka juga harus menghadapi dampak lain akibat kondisi Rina yang belum pulih.

Risandi berharap keluarga Tian tidak menganggap persoalan selesai setelah santunan diberikan.

Tragedi itu meninggalkan korban yang harus menjalani pengobatan dan keluarga yang harus menanggung dampaknya. 

Karena itu, bagi Risandi, tanggung jawab terhadap korban semestinya tidak berhenti pada santunan.

Tetapi harus dibicarakan secara terbuka, terutama menyangkut biaya pengobatan dan kebutuhan korban kedepan.

Kronologi tragedi Drag Race Upai

Minggu sore, 9 Agustus 2026, jalanan A.P. Mokoginta yang melintasi Kelurahan Upai hingga Kelurahan Pontodon, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara riuh dengan suara mobil yang melaju kencang. 

Turnamen Drag Race skala regional sedang digelar di sana. 

Turnamen ini tercatat diikuti 590 starter kelas sepeda motor dan 337 starter kelas mobil.

Kerumunan warga memadati kiri kanan jalan di ujung garis finis perlombaan.

Batas mereka dengan lintasan drag hanya dipagari rangkaian kayu yang mudah patah jika terkena hantaman keras. 

Perlombaan yang awalnya berlangsung seru tersebut berubah menjadi tragedi, manakala Honda Jazz yang dikendarai Tian Ngantung dari Tim Pangeran 05 McJoe tergelincir setelah berhasil melewati garis finis.

Tian awalnya melaju seperti biasa dalam lintasan balap. 

Tidak terlihat adanya kendala saat mobil melaju menuju garis finis.

Namun, setelah melewati garis finis sekitar 100 meter, sang pengemudi diduga hilang kendali, hingga mobil meluncur liar sejauh 30 meter dan berbelok secara ekstrem lantas menghantam belasan warga yang sedang menonton jalannya perlombaan. 

Bahkan gerobak bakso yang ada di sana juga ikut tersambar hingga porakporanda.

Mobil tersebur terhenti di atas selokan.

Sembilan orang meninggal dunia, sementara yang lain mengalami luka serius. Ada yang patah kaki, cedera rusuk hingga kepala. (Nie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.