TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Tren menyekolahkan anak di madrasah di Kabupaten Trenggalek terus mendapatkan tempat oleh masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah sekolah dasar (SD) negeri menghadapi persoalan kekurangan peserta didik.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Trenggalek Mohammad Nur Ibadi mengatakan, meningkatnya minat masyarakat terhadap madrasah tidak terlepas dari perubahan ekosistem kehidupan masyarakat, termasuk perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, saat ini masyarakat berada dalam ekosistem digital yang tidak mengenal batas ruang, waktu, dan tempat.
Baca juga: Klotok Trail Run 2026 di Kediri Gaet Ratusan Pelari, Jadi Ajang Pembibitan Atlet
Kondisi tersebut membuat orang tua semakin mudah mengakses berbagai informasi.
"Orang tua pada akhirnya sadar, untuk membentengi anak-anak adalah pendidikan agama. Salah satu lembaga pendidikan formal yang mengafirmasi dan memiliki kekuatan tafaqquh fiddin, pendidikan agama, serta penguatan agama adalah madrasah," terang Mohammad Nur Ibadi, Senin (24/8/2026).
Ia menjelaskan, madrasah memiliki ciri khas yang membedakannya dari satuan pendidikan formal lainnya.
Selain pendidikan umum, madrasah memberikan penguatan pendidikan agama, Al-Qur'an, fikih, hingga pemahaman hukum Islam dan hukum positif.
Hal tersebut, menurutnya membuat orang tua merasa lebih nyaman dan aman.
"Sebab anak-anak mendapatkan bekal pendidikan agama di tengah perkembangan ekosistem digital," ulasnya.
Dikatakannya, madrasah adalah salah satu satuan pendidikan yang memiliki ciri khas, memiliki distingsi dari pendidikan formal yang lain.
"Yaitu tafaqquh fiddin, penguatan pendidikan agama, penguatan Al-Qur'an. Serta penguatan pemahaman fikih, hukum-hukum Islam, dan hukum-hukum positif," lanjutnya.
Ibadi menambahkan, Kemenag Trenggalek mendorong seluruh madrasah untuk terus melakukan inovasi.
Sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khas pendidikan madrasah.
Ia menyebut sejumlah inovasi telah dilakukan madrasah, mulai dari layanan antar-jemput peserta didik hingga konsep pendidikan berasrama atau boarding school yang terintegrasi dengan pesantren.
"Program kami lima budaya kerja, salah satunya inovasi. Silakan teman-teman madrasah menciptakan madrasah menjadi sebuah satuan pendidikan yang familiar dengan digitalisasi ekosistem," ujarnya.
Kemenag juga mendorong madrasah memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperkenalkan program dan kegiatan pendidikan kepada masyarakat.
Menurut Ibadi, madrasah dapat membuat konten kreatif yang tetap mengandung unsur pendidikan agama, seperti hafalan Al-Qur'an, Aqidatul Awam, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
Dengan semakin aktif di media digital, ia menilai madrasah dapat memperkuat branding dan posisi di tengah masyarakat.
"Kalau kita aktif, teman-teman di madrasah itu bisa diberikan literasi digital, coding, AI, sekaligus bisa melakukan branding madrasah ini lebih positioning di masyarakat," bebernya.
Ibadi mengungkapkan, tingginya kepercayaan masyarakat terhadap madrasah bahkan terlihat dari proses penerimaan peserta didik baru.
Sejumlah madrasah disebut telah memenuhi kuota sebelum masa pendaftaran berakhir.
"Rata-rata madrasah kami belum ditutup, belum musim pendaftaran sudah sold out. Rata-rata sudah ditutup," ungkapnya.
Meski demikian, ia meminta madrasah tidak berpuas diri dengan kepercayaan yang telah diberikan masyarakat. Madrasah harus terus meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan pendidikan.
Ibadi menegaskan, inovasi dan digitalisasi tidak boleh membuat madrasah kehilangan identitasnya.
Menurutnya, ciri khas utama madrasah tetap pada tafaqquh fiddin serta penguatan pendidikan Al-Qur'an dan pendidikan agama.
"Jangan sampai madrasah ini kehilangan ciri khas. Walaupun ada di ekosistem digital, jangan sampai kehilangan ciri khas daripada pendidikan madrasah. Apa ciri khasnya? Tafaqquh fiddin, penguatan pendidikan Al-Qur'an di dalamnya," tutupnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)