SERAMBINEWS.COM – Layang-layang yang diterbangkan anak-anak di Jalur Gaza kini menjadi pemicu ketegangan baru. Israel mengancam akan meningkatkan operasi pembunuhan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab serta mengosongkan kawasan permukiman yang dituding sebagai lokasi peluncuran layang-layang, balon, atau drone dari Gaza.
Ironisnya, militer Israel sendiri mengakui bahwa empat layang-layang yang ditemukan di dekat komunitas Nahal Oz tidak membawa material mencurigakan dan tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat.
• Kasihan Warga Gaza Palestina, Akibat Perang Terpaksa Gunakan Toilet Darurat seperti Zaman Batu
Informasi lapangan yang diperoleh Anadolu menyebutkan, layang-layang tersebut umumnya dimainkan anak-anak sebagai hiburan, terutama di kamp-kamp pengungsian. Di tengah kehidupan yang dihimpit perang dan kehancuran, menerbangkan layang-layang menjadi salah satu cara sederhana bagi anak-anak Gaza untuk mencari sedikit kegembiraan.
Layang-layang yang ringan diterbangkan menggunakan tali dari tanah. Jika tali putus, angin dapat membawanya keluar dari wilayah Gaza. Sejumlah permukiman Israel berada hanya beberapa kilometer dari perbatasan, sehingga layang-layang yang terbawa angin dapat jatuh di wilayah tersebut.
Israel Ancam Tingkatkan Operasi Pembunuhan
Ancaman Israel muncul pada Minggu setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz melakukan rapat penilaian keamanan bersama Kepala Staf Militer Eyal Zamir dan sejumlah pejabat senior militer.
Dalam pernyataan bersama, Netanyahu dan Katz mengatakan Israel akan meningkatkan operasi pembunuhan terhadap pihak yang mereka anggap bertanggung jawab jika peluncuran layang-layang terus berlangsung.
Mereka juga mengancam akan memerintahkan evakuasi warga dari kawasan yang menurut Israel digunakan untuk meluncurkan layang-layang, balon, maupun drone.
Sebelumnya, Katz telah memerintahkan militer Israel bertindak “segera dan dengan kekuatan” terhadap layang-layang dan balon yang datang dari Gaza.
“Balon seperti layang-layang, dan layang-layang seperti drone, baik membawa bahan peledak maupun tidak,” kata Katz.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di Gaza karena dikhawatirkan menjadi alasan bagi Israel untuk memperluas operasi militernya di tengah situasi gencatan senjata.
Hamas mengecam ancaman tersebut dan menyebut tudingan Israel sebagai alasan yang dibuat-buat untuk melanjutkan serangan terhadap warga Palestina.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan layang-layang yang menjadi sasaran tudingan Israel merupakan “mainan anak-anak di kamp-kamp pengungsian”.
Menurutnya, ancaman terhadap anak-anak Gaza menunjukkan upaya untuk menciptakan alasan baru bagi agresi dan pelanggaran terhadap warga Palestina.
Qassem menyerukan kepada pemerintah Amerika Serikat, para mediator, negara-negara penjamin serta Board of Peace agar menekan Israel menghentikan serangan yang disebutnya terus merusak kesepakatan gencatan senjata.
“Bagaimana Negara Nuklir Takut Layang-layang?”
Analis politik Gaza, Iyad al-Qarra, menilai ancaman tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan keamanan.
Menurut dia, isu layang-layang dapat digunakan untuk membangun alasan bagi operasi militer yang lebih luas sekaligus memenuhi kepentingan politik dalam negeri Israel menjelang pemilu.
Al-Qarra menyoroti pengakuan militer Israel sendiri bahwa layang-layang yang ditemukan tidak membahayakan masyarakat.
“Bagaimana mungkin negara nuklir sebesar Israel merasa terancam oleh layang-layang yang diterbangkan anak-anak?” ujarnya.
Ia menilai langkah tersebut dapat menciptakan suasana eskalasi, mengalihkan perhatian publik Israel dari persoalan domestik, sekaligus memberikan tekanan baru terhadap pengaturan gencatan senjata di Gaza.
Dinyatakan Tak Berbahaya
Militer Israel pada Sabtu menyatakan menemukan empat layang-layang di sekitar komunitas Nahal Oz dalam kurun waktu sekitar 24 jam. Satu ditemukan pada Jumat, sementara tiga lainnya ditemukan pada Sabtu pagi.
Setelah diperiksa, militer Israel menyatakan tidak menemukan material mencurigakan pada layang-layang tersebut dan memastikan benda-benda itu tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat.
Militer juga tidak memberikan bukti bahwa layang-layang tersebut sengaja dikirim menuju wilayah Israel.
Namun, sebelum perintah Katz dikeluarkan, sejumlah kepala dewan lokal di kawasan sekitar Gaza telah menyerukan respons militer terhadap layang-layang yang masuk ke wilayah Israel.
Di Tengah Gencatan Senjata, Gaza Tetap Berdarah
Ancaman terkait layang-layang muncul ketika warga Gaza masih menghadapi dampak perang panjang dan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan Israel sejak saat itu telah menewaskan sedikitnya 1.286 orang dan melukai 4.257 lainnya.
Perang Israel di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Kini, di tengah puing-puing dan kamp pengungsian, bahkan layang-layang yang diterbangkan anak-anak untuk mencari sedikit kegembiraan pun menjadi bagian dari pertarungan politik dan militer.
Bagi anak-anak Gaza, layang-layang mungkin hanya permainan. Namun di langit yang dipenuhi trauma perang, benda ringan yang terbawa angin itu justru memunculkan ancaman baru: pembunuhan dan pengosongan permukiman.