SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Iran mengumumkan temuan lebih dari 200 miliar meter kubik cadangan gas alam baru di tengah hantaman krisis infrastruktur energi akibat perang dan ancaman sanksi ekonomi berat dari Amerika Serikat.
Temuan strategis ini diumumkan langsung oleh Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, melalui televisi pemerintah pada Minggu (23/8/2026).
Dalam keterangannya, Paknejad merinci lokasi serta kualitas gas yang ditemukan di wilayah selatan Iran tersebut.
Meski demikian, menurut laporan Bloomberg, proses produksi aktual dari lokasi penemuan ini diperkirakan baru akan dimulai bertahun-tahun lagi.
Baca juga: Suriah dan Israel Gelar Pembicaraan Dimediasi AS di Yordania, Bahas Penghentian Serangan
Sektor energi Iran telah terpukul telak sejak serangan gabungan AS-Israel meletus pada akhir Februari. Eskalasi militer tersebut secara masif menghantam berbagai infrastruktur penting di negara tersebut.
Fasilitas Terdampak: Fasilitas produksi gas, depot minyak, hingga jalur transportasi energi mengalami kerusakan berat akibat serangan militer.
Dampak Ekonomi: Muncul kekhawatiran krisis lanjutan, termasuk ancaman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga Rp 11.000 per liter, serta dinamika regional seperti pemberian izin khusus bagi kapal tanker Irak untuk melewati Selat Hormuz.
Dinamika Regional: Konflik juga berdampak luas hingga memicu ketegangan diplomatik di luar kawasan, termasuk sikap Korea Selatan yang menolak ikut serta dalam perang dan permintaan pengurangan latihan gabungan oleh pihak AS, serta pernyataan Korea Utara yang menuding Jepang bersiap menghadapi perang.
Tekanan terhadap Teheran kian memuncak menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Rabu (19/8/2026) yang mengumumkan rencana "operasi ekonomi paling menghancurkan" terhadap Iran. Trump juga berjanji akan menjatuhkan konsekuensi ekonomi luar biasa bagi negara mana pun yang nekat memberikan bantuan kepada Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan kembali ancaman tersebut sehari setelahnya. "Anda bersama kami atau melawan kami," ujar Bessent dengan tegas.
Di sisi lain, upaya diplomatik untuk meredakan situasi menemui jalan buntu. Negosiasi untuk mengakhiri konflik terhenti dalam beberapa bulan terakhir setelah gagalnya nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni yang sebelumnya menyerukan penghentian segera dan permanen operasi militer.
(Serambinews.com/KOmpas.com)