TRIBUNTRENDS.COM - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yogyakarta tak lepas dari tradisi Sekaten yang digelar setiap tahun. Selain rangkaian budaya dan kemeriahan di sekitar Keraton Yogyakarta, tradisi ini juga menghadirkan sejumlah kuliner khas yang sarat makna.
Pada Hajad Dalem Sekaten 2026, Keraton Yogyakarta menghadirkan sajian khas yang dapat dinikmati masyarakat. Perayaan tersebut berlangsung di Halaman Kagungan Dalem Masjid Gedhe pada 19-25 Agustus 2026.
Ada empat kuliner khas Sekaten yang menarik untuk dicicipi. Tak hanya menggugah selera, beberapa di antaranya juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan dan peringatan Maulid Nabi.
Nasi gurih menjadi salah satu sajian yang identik dengan perayaan Sekaten. Sesuai namanya, nasi ini memiliki cita rasa gurih yang berasal dari santan dan perpaduan rempah.
Nasi gurih biasanya dilengkapi berbagai lauk, mulai dari irisan tempe, suwiran ayam, kacang tolo atau kedelai yang ditumis hingga berwarna hitam, serta aneka sambal.
Di balik rasanya, nasi gurih memiliki makna filosofis sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki sekaligus doa untuk memperoleh keselamatan dan keberkahan.
Baca juga: Event di Yogyakarta Selasa 25 Agustus 2026, Ada Hajad Dalem Sekaten hingga Selasa Wagen di Malioboro
Kuliner lain yang tak boleh dilewatkan adalah telur merah atau dalam bahasa Jawa disebut endog abang.
Telur ini menjadi bagian penting dalam tradisi Sekaten karena dipercaya melambangkan kelahiran atau awal kehidupan. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Warna merah pada telur juga memiliki simbol keberanian dan semangat dalam menjalani kehidupan.
Dalam penyajiannya, telur merah biasanya ditusukkan pada bilah bambu dan dihiasi kembang atau bunga mangar. Bilah bambu tersebut juga memiliki makna filosofis sebagai simbol hubungan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta.
Bagi pencinta kuliner tradisional, sate gajih atau yang kerap disebut sate kere menjadi salah satu jajanan yang menarik dicoba saat Sekaten.
Sate ini dibuat dari gajih atau lemak sapi. Istilah "kere" melekat karena bahan tersebut dahulu dikenal memiliki harga yang lebih murah dibandingkan bagian daging sapi lainnya.
Harganya pun relatif terjangkau. Satu porsi sate gajih dalam perayaan Sekaten dibanderol mulai Rp5.000 hingga Rp10.000.
Aroma sate yang dibakar di berbagai sudut kawasan Sekaten menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Roti kembang waru juga menjadi kuliner yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Sekaten. Sajian ini merupakan warisan kuliner Kerajaan Mataram Islam.
Bentuknya memiliki delapan sisi yang menyerupai kelopak bunga. Delapan sisi tersebut melambangkan delapan jalan utama atau hasto broto.
Delapan unsur yang menjadi simbol dalam hasto broto tersebut adalah matahari, bulan, bintang, mega atau awan, tirta atau air, kismo atau tanah, samudra, dan maruto atau angin.
Nama kembang waru berasal dari pohon waru yang dahulu banyak tumbuh di sekitar Kotagede, kawasan yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam.
Kuliner ini juga memiliki sejarah khusus karena pada masa lalu roti kembang waru hanya dapat ditemukan dalam perayaan-perayaan tertentu yang berkaitan dengan kerajaan.
Bagi masyarakat yang berkunjung ke Sekaten, empat kuliner tersebut bukan sekadar makanan tradisional. Setiap sajian membawa cerita, simbol, dan jejak sejarah yang membuat suasana peringatan Maulid Nabi di Yogyakarta semakin khas.
(TribunTrends)