TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Hangatnya senyummu iringi langkahku/kuat dan teguhkan di setiap tekadku."
Demikian sepenggal lirik dari Ridya Nisa (29) dalam karya terbaru buku dan lagunya "Senandung Tanah Ajaib".
Karya ini terinspirasi dari perjalanannya selama satu tahun menjadi relawan pengajar di Maybrat, Papua Barat Daya.
Lirik ini menggambarkan senyum ayah dan ibunya yang menjadi penyemangat menjalani hari.
"Sesimpel senyum tapi jadi mood banget belajar, berangkat kerja. Energi positif orang tua dampaknya sangat luar biasa bagi anak," tutur Ridya dalam Podcast Teman Bicara yang tayang pada Sabtu (8/8/2026).
Teman Bicara adalah podcast untuk berbagi cerita soal isu terkini parenting dan mental health, hadir setiap pekan di kanal YouTube Tribun Jateng.
Tumbuh sebagai anak pertama, Ridya kecil dididik sang ibu dengan ketat dan disiplin.
Ibu Ridya selalu berorientasi pada pencapaian akademik, berbanding terbalik dengan ayahnya yang lebih santai.
Namun, melihat putri kesayangannya drop, sang ibu pun mengubah pola asuhnya selama ini.
Saat SMP Ridya mulai diberikan kepercayaan dan kebebasan mengekplorasi apa yang disukai.
"Waktu SD didikan Ibu kencang banget. Setiap pulang sekolah harus les dan belajar. Tapi puncaknya pas kelulusan, aku malah burnout dan fisik saya drop," kenang gadis asal Solo lulusan Prodi Film dan Televisi ISI Surakarta ini.
Sang ayah cenderung lebih santai. Ia yang seorang seniman mengenalkan dunia seni dan mengajari bermusik.
Pola asuh yang saling bertolak belakang inilah yang membentuk keseimbangan dan melahirkan seorang Ridya yang mandiri dan merdeka.
Ridya mengaku selama ini orang tuanya memberikan kepercayaan penuh kepada dirinya.
Ia dibebaskan beraktivitas dan mengekplorasi apapun tanpa dikekang sebuah aturan yang kaku.
Bahkan orang tuanya mengizinkan Ridya pergi merantau jauh ke Bumi Cenderawasih.
Namun juga terselip sebuah pesan dari sang ayah yang selalu menjadi rem dan pegangan bagi Ridya.
"Pesan Ayah cuma satu, boleh mengeksplorasi apa saja dan belajar dengan siapa saja, asalkan jangan pernah merusak kepercayaan orang tua dan keluar dari zona merah pergaulan," ungkap Ridya.
Tak hanya panutan, sosok ayah dan ibu baginya juga sebagai mentor, sahabat diskusi, sekaligus kritikus terbaik bagi karya-karyanya.
Bahkan sebelum karya-karya Ridya dirilis ke publik, sang ayah selalu menjadi penyaring pertama untuk memastikan kelayakannya.
"Ayah itu seperti quality control aku. Sebelum karya-karya aku resmi keluar dan didengar banyak orang, aku harus tahu dulu POV dari Ayah seperti apa," tambahnya.
Lewat "Senandung Tanah Ajaib", founder komunitas Yuk Belajar Seni ini tak sekadar menceritakan kenangan indah bersama anak-anak di Papua.
Ridya juga menunjukkan bahwa anak yang diberi ruang merdeka berbekal kepercayaan orang tua bisa tumbuh menjadi sosok bertanggung jawab atas hidupnya dan versi terbaik dalam dirinya. (*)