TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Arifin Yambas, menyayangkan adanya laporan terkait guru dan kepala sekolah SDN 071 Jati, Desa Pendulangan, Kecamatan Limboro, yang disebut malas mengajar.
Arifin Yambas menegaskan akan turun langsung ke SDN 071 Jati untuk memastikan kondisi yang sebenarnya.
Jika ditemukan guru atau kepala sekolah yang tidak disiplin dan terbukti malas menjalankan tugas, Arifin memastikan akan dilakukan evaluasi dan tindakan sesuai ketentuan.
“Sangat menyesalkan dengan adanya laporan dari warga, karena ini guru sebagai ujung tombak. Bagaimana anak-anak bisa bagus kalau gurunya seperti itu,” tegasnya, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Wabup Mamuju Sebut Tambang LTJ Masih Tahap Observasi, Minta Masyarakat Tak Khawatir
Baca juga: Status Penggajian PPPK Daerah Belum Pasti, BPKAD Pasangkayu Tunggu Keputusan Pusat
Arifin juga akan memanggil pengawas SDN 071 Jati untuk dilakukan klarifikasi dan pengecekan pengawasan.
Menurutnya, pengawas memiliki tanggung jawab memastikan proses pembelajaran dan kedisiplinan tenaga pendidik berjalan lancar.
Dalam waktu dekat, Arifin Yambas akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa sekolah yang telah menerima laporan terkait kedisiplinan guru.
“Ada beberapa sekolah saya terima laporan malas gurunya, sisa mau disidak. Makanya saya kumpul pengawas. Kalau ada sekolah seperti itu, pengawas akan dievaluasi,” tegasnya.
Sejumlah guru dan kepsek di SDN 071 Jati dinilai tidak disiplin menjalankan tugas hingga membuat para murid kerap terlantar dan kehilangan jam belajar.
Sorotan itu mencuat setelah warga mengeluhkan minimnya kehadiran guru di sekolah.
Bahkan, dalam sehari disebut hanya dua hingga tiga guru yang hadir untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
SDN 071 Jati berada di Desa Pendulangan, Kecamatan Limboro.
Sekolah ini memiliki 10 orang guru yang berasal dari sejumlah wilayah, termasuk tiga guru yang berdomisili di Pendulangan.
Dari jumlah tersebut, empat guru berstatus PPPK penuh waktu, empat guru berstatus PPPK paruh waktu, dan dua guru berstatus honorer.
Sementara kepala sekolah, Daud, merupakan satu-satunya tenaga pendidik di sekolah ini yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Kepsek dan sejumlah guru-gurunya sangat malas, padahal sudah PPPK dan sertifikasi,” ungkap salah satu warga yang enggan disebut namanya kepada wartawan.
Menurut warga, persoalan kedisiplinan itu sudah berlangsung lama.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar karena siswa terkadang tidak mendapatkan pembelajaran.
Warga meminta Dinas Pendidikan Polman tidak mengabaikan persoalan tersebut.
Mereka mendesak pemerintah mengevaluasi kepala sekolah dan guru yang disebut tidak disiplin.
Selain itu, warga meminta pemerintah memastikan hak siswa untuk mendapatkan pembelajaran tetap terpenuhi.
“Apalagi yang guru-guru jauh, biasa dua kali saja hadir dalam seminggu. Biasa juga anak-anak tidak belajar, apalagi kalau yang guru-guru di dalam ada urusan di luar,” ungkap warga.
Sementara itu, Pengawas SDN 071 Jati, Kahar, membenarkan adanya keluhan masyarakat terkait kedisiplinan guru dan kepala sekolah.
“Memang pernah ada laporan. Waktu kami kunjungan, kami sudah sampaikan kepada teman-teman guru agar jangan ada seperti itu,” ucap Kahar. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli