Cerita Para Pelajar di Bantaran Sungai Palembang, Naik Perahu Ketek Terobos Pekatnya Kabut Asap
Odi Aria August 24, 2026 03:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Kabut asap menyelimuti kawasan permukiman di bantaran Sungai Ogan, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Palembang, Senin (24/8/2026) pagi.

Udara yang biasanya terasa segar berubah menjadi pekat. Bau asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercium menyengat, sementara jarak pandang terlihat terbatas.

Namun, kondisi tersebut tak menyurutkan langkah para pelajar untuk berangkat ke sekolah.

Dari atas Sungai Ogan, sejumlah siswa terlihat menaiki perahu ketek menuju sekolah. Mereka duduk berjejer mengenakan seragam, sementara perahu perlahan membelah permukaan sungai yang diselimuti kabut asap.

Suara mesin perahu terdengar di tengah suasana pagi yang muram.

Bagi para pelajar yang tinggal di kawasan bantaran sungai, perjalanan menggunakan perahu ketek merupakan rutinitas untuk menuju sekolah.

Sesampainya di dermaga kecil, para siswa bergantian turun dari perahu dan menaiki dermaga beton yang menjadi akses menuju SMP Negeri 48 Palembang.

Dermaga tersebut berada berdampingan dengan salah satu fasilitas pompa milik PDAM Tirta Musi Palembang.

Pemandangan itu memperlihatkan perjuangan para pelajar untuk tetap mendapatkan pendidikan di tengah kondisi udara yang kurang bersahabat.

Mereka tetap berangkat agar tidak terlambat mengikuti kegiatan belajar di sekolah, meski kabut asap menyelimuti perjalanan.

Namun, di balik semangat tersebut terselip kekhawatiran terhadap kesehatan para pelajar.

Sebagian siswa terlihat belum mengenakan masker saat berada di atas perahu, meski asap cukup tebal dan bau pembakaran terasa menyengat.

Hayati Citra Kesuma (13), siswi kelas 9 SMP Negeri 48 Palembang, merupakan salah satu pelajar yang setiap hari menggunakan perahu untuk menuju sekolah.

Hayati tinggal di kawasan Taman 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 06.15 WIB dan membutuhkan waktu sekitar enam menit untuk sampai ke sekolah menggunakan perahu.

Menurut Hayati, kabut asap mulai terasa dalam dua hari terakhir.

Kondisi tersebut bahkan membuatnya sempat merasa sesak ketika keluar rumah dan melakukan perjalanan menggunakan perahu.

"Pas keluar tadi agak sesak, kaget, tidak terbiasa dengan adanya asap ini. Asap ini sudah terasa dua hari kemarin akibat pembakaran rumput," ujar Hayati saat ditemui Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di lokasi.

Tak hanya sesak, Hayati juga mengaku tenggorokannya terasa kering dan mulai mengalami batuk ringan.

Ironisnya, masker sebenarnya sudah dibawa Hayati di dalam tas. Namun, ia tidak langsung mengenakannya selama perjalanan karena merasa kurang nyaman dan kesulitan bernapas.

"Karena sudah lama tidak pakai masker jadi gimana ya, tidak biasa, susah bernapasnya. Sebagian besar kami bawa masker, tapi pas di jalan tadi tidak dipakai karena terasa sesak napas," katanya.

Meski demikian, Hayati mengatakan dirinya bersama teman-temannya akan kembali mengenakan masker ketika sudah berada di sekolah.

"Tapi nanti di kelas kami pakai masker lagi karena kabut asap makin tebal," ujarnya.

Perjalanan para pelajar dengan perahu ketek di tengah kabut asap menjadi gambaran kondisi yang harus mereka hadapi untuk tetap bersekolah.

Di tengah udara yang memburuk akibat karhutla, semangat mereka untuk menuntut ilmu tetap terlihat.

Namun, kondisi tersebut juga menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dari paparan asap.

Penyediaan masker serta imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan para pelajar di tengah karhutla yang masih berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.