BANGKAPOS.COM, BANGKA – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kalangan pedagang dan pelaku usaha di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung masih tergolong minim.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena transaksi digital semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kini pemerintah daerah menggandeng perbankan untuk mendorong pedagang dan pelaku usaha mulai memanfaatkan QRIS dalam transaksi sehari-hari.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMINDAG) Kabupaten Bangka Selatan, Deka Indra, mengatakan penggunaan QRIS pada pedagang Pasar Terminal Toboali dan sekitarnya masih rendah.
Kondisi serupa secara umum juga terlihat pada pelaku usaha di Bangka Selatan berdasarkan data yang disampaikan Bank Indonesia. Bahkan, Bangka Selatan disebut berada di urutan keenam dari tujuh kabupaten/kota dalam penggunaan QRIS oleh pedagang.
“Jadi memang secara umum by data dari BI bahwa penggunaan QRIS di Kabupaten Bangka Selatan khususnya di pedagang masih sangat minim,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (24/8/2026).
Deka Indra membeberkan, untuk meningkatkan penggunaan QRIS, Pemkab Bangka Selatan akan melibatkan perbankan dalam mendorong pedagang dan pelaku usaha.
Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta bank daerah akan diajak memberikan edukasi dan mendorong pelaku usaha menyediakan QRIS sebagai pilihan pembayaran. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas penggunaan transaksi digital pada berbagai sektor usaha di Bangka Selatan.
Menurutnya, QRIS memberikan sejumlah keuntungan bagi pedagang maupun pelaku usaha dalam mengelola transaksi. Pembayaran berlangsung secara real-time dan dana langsung masuk ke rekening resmi usaha sehingga memudahkan pemantauan transaksi.
Sistem tersebut juga dapat mengurangi risiko kehilangan maupun kesalahan penghitungan yang dapat terjadi ketika pelaku usaha masih banyak menggunakan uang tunai.
“Karena memang sudah dijelaskan tadi dari pihak BI bahwa dari sisi keamanan QRIS ini sangat aman, terus untuk transaksi memang dia real-time, bisa dilakukan evaluasi transaksi seperti itu,” jelas Deka Indra.
Selain memudahkan transaksi, penggunaan QRIS dapat membantu pelaku usaha mengantisipasi risiko uang palsu.
Pencatatan pembayaran juga berlangsung secara otomatis sehingga pelaku usaha dapat memiliki catatan transaksi yang lebih rapi dan mudah dievaluasi.
QRIS juga memungkinkan usaha menjangkau konsumen dari berbagai layanan dompet digital maupun mobile banking.
Pemkab menilai pemanfaatan pembayaran digital sudah menjadi kebutuhan bagi pedagang dan pelaku usaha di tengah perkembangan teknologi. Karena itu, pemerintah daerah ingin mendorong pelaku usaha agar tidak tertinggal dalam mengikuti perubahan pola transaksi masyarakat.
Bangka Selatan bahkan diharapkan dapat menjadi salah satu daerah yang lebih aktif dalam pemanfaatan QRIS.
“Apalagi saat ini sudah era teknologi digital. Pedagang sudah harus bisa memanfaatkan,” ucapnya.
Meski demikian, peningkatan penggunaan QRIS tidak hanya bergantung pada pemerintah dan perbankan.
Pedagang dan pelaku usaha harus bersedia menyediakan pilihan pembayaran tersebut, sementara masyarakat sebagai konsumen juga perlu membiasakan diri menggunakan transaksi digital.
Semakin banyak masyarakat yang memiliki telepon seluler dan mobile banking, semakin besar peluang transaksi QRIS berkembang di Bangka Selatan.
Deka Indra memastikan pemerintah daerah akan terus mendorong program tersebut dengan melibatkan berbagai pihak.
Pemerintah daerah berharap peningkatan penggunaan QRIS dapat memperkuat ekosistem transaksi digital sekaligus memberikan manfaat bagi pelaku usaha.
Upaya tersebut juga diarahkan agar Bangka Selatan dapat menjadi salah satu daerah yang lebih maju dalam pemanfaatan pembayaran digital.
“Kami tetap berproses, karena memang kalau bisa kita jadi pioneer juga untuk kali ini,” pungkas Deka Indra.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)