Rupiah Melemah ke Level Rp17.721 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik dan Defisit Transaksi Berjalan
Seno Tri Sulistiyono August 24, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.

Rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran juga memicu kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga energi, yang berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 27 poin ke level Rp 17.721 per dolar AS. 

Baca juga: Sore Ini Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.694, Ada Risiko Fluktuasi Pekan Depan

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 27 point sebelumnya sempat menguat 2 point  dilevel Rp 17.721 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.694," tutur Ibrahim pada Senin (24/8/2026).

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 17.720 hingga Rp 17.770 per dolar AS.

Tekanan dari eksternal datang dari rencana pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rangkaian sanksi baru terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari tekanan ekonomi besar terhadap Teheran, di tengah kebuntuan yang masih berlangsung di Selat Hormuz.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia. Iran bahkan mengancam akan menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dan kawasan Teluk Persia apabila perang ekonomi terhadap negara tersebut terus berlanjut.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah juga dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan aktivitas sektor jasa AS masih kuat, sementara inflasi berpotensi kembali mendapat tekanan dari kenaikan harga energi.

"Kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang," ungkapnya.

Di dalam negeri, pasar juga merespons negatif pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2026. Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan 3,6 miliar dolar AS atau 1 persen PDB pada triwulan sebelumnya.

Pelebaran defisit tersebut salah satunya dipengaruhi kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia.

Meski demikian, ketahanan eksternal Indonesia masih didukung oleh perbaikan neraca pembayaran dan posisi cadangan devisa yang memadai.

Pada triwulan II 2026, defisit neraca pembayaran Indonesia tercatat sebesar 900 juta dolar AS, membaik dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Perbaikan ini ditopang surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai 12 miliar dolar AS.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Ibrahim menilai sejumlah risiko masih perlu diwaspadai. Tingginya harga minyak mentah dapat membuat kebutuhan impor energi tetap besar, sementara perlambatan ekonomi global berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia.

"Kesenjangan transaksi berjalan indonesia ini, mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan Politik di timur tengah antara AS, Israel dan Iran serta Rusia dan Ukraina di eropa timur," ucapnya. 
 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.