IKN dan Wilayah Sekitarnya Mulai Diguyur Hujan, Operasi Modifikasi Cuaca Terus Dilakukan
Nur Pratama August 24, 2026 08:19 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO, NUSANTARA - Upaya mengantisipasi dampak musim kering dan fenomena El Nino di Kalimantan Timur terus dilakukan. 

Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara (TNI AU), BPBD, serta sejumlah instansi terkait masih menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan, menjaga ketersediaan air permukaan, sekaligus menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan IKN dan wilayah sekitarnya.

Baca juga: Jadwal Bus Terminal Batu Ampar Balikpapan ke IKN dan Harga Tiket, Ada 7 Keberangkatan Setiap Hari

OMC yang berlangsung sejak Jumat (21/8/2026) hingga Senin (24/8/2026) dilakukan dengan metode penyemaian awan atau cloud seeding.

Proses tersebut dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer, arah angin, serta keberadaan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

Hingga Senin (24/8/2026) pukul 10.00 WITA, tercatat sudah dilakukan lima sortie penerbangan menggunakan pesawat Casa 212 A-2105 yang beroperasi dari Markas Operasi Lanud Dhomber, Balikpapan.

Dalam setiap sortie, pesawat membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) untuk disebarkan ke awan potensial.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan OMC menjadi salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk menjaga ketersediaan air di kawasan IKN.

Menurutnya, kondisi musim kering membuat kebutuhan untuk menjaga cadangan air menjadi semakin penting.

“Saat ini kita mengalami musim kering, dampak dari terjadinya El Nino. Bukan hanya di Kaltim, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Dampak El Nino itu di antaranya kekeringan. Salah satu hal yang perlu kita antisipasi adalah ketersediaan air,” ujar Danis.

“Makanya kita mencoba melakukan modifikasi cuaca untuk menambah volume air permukaan yang ada di wilayah IKN dan sekitarnya,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan/BMKG, Djoko Sumardiono, menjelaskan keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai.

Karena itu, tim harus terus memantau pertumbuhan awan, arah dan kecepatan angin hingga menentukan waktu yang tepat untuk melakukan penyemaian.

“Terkait cuaca terkini, di Kalimantan Timur sudah hampir dua pekan ini tidak turun hujan. Untuk operasi modifikasi cuaca kali ini, perkembangan awan untuk hari ini ada di perbatasan utara Kalimantan Timur itu sangat bagus dilakukan operasi ini,” jelas Djoko.

Ia menyebut tingkat keberhasilan OMC secara historis berada di kisaran 30 persen, terutama karena operasi berlangsung pada musim kemarau ketika keberadaan awan relatif terbatas.

Meski demikian, perkembangan cuaca terbaru mulai menunjukkan adanya perubahan.

Hujan telah terpantau turun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan data Pos Curah Hujan Long Lebusan di wilayah Hulu WS Mahakam, hujan tercatat mengguyur Kabupaten Mahakam Ulu pada Sabtu (22/8/2026) pukul 02.00 hingga 02.30 WITA dengan curah hujan sekitar 20 milimeter.

Hujan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sekitar Kutai Kartanegara.

Di kawasan IKN sendiri, dampak positif mulai terlihat pada kondisi sumber air baku. Muka air pada intake Sungai Sepaku mengalami kenaikan.

Elevasi air yang sebelumnya berada di angka +2,04 meter meningkat menjadi +2,05 meter pada pukul 08.20 WITA, atau naik sekitar satu sentimeter.

Kondisi tersebut diharapkan terus membaik seiring dengan bertambahnya hujan di wilayah tangkapan air Sungai Sepaku.

Namun, pemerintah belum menganggap ancaman kekeringan dan karhutla telah berakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan potensi kebakaran lahan masih harus diwaspadai.

Berdasarkan data yang diterima BPBD Kaltim, sepanjang Agustus 2026 telah tercatat 273 titik kejadian kebakaran lahan dengan luas area terdampak mencapai sekitar 752 hektare.

“Penanganan tetap dilakukan, termasuk upaya preventif dan edukasi kepada masyarakat, melalui surat edaran dari Kementerian Lingkungan Hidup agar tidak melakukan pembakaran lahan,” ujar Buyung.

OIKN bersama BMKG, TNI AU, BPBD dan instansi terkait pun masih akan memantau kondisi atmosfer dan hidrologis di kawasan IKN serta wilayah sekitarnya.

Pelaksanaan OMC berikutnya akan menyesuaikan dinamika atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi kriteria penyemaian. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.