Cerita Bayi 1 Tahun Idap Kanker Langka, Awalnya Dikira Sembelit
GH News August 24, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Seorang bayi perempuan berusia satu tahun mengidap kanker langka. Sebelumnya, dokter hanya mendiagnosa kalau dia sembelit.

Dikutip dari laman , bayi perempuan bernama Florence Wilde pada awalnya dibawa ke dokter umum ketika perutnya mulai membengkak. Dia berulang kali merasa lemas dan kelelahan.

Akan tetapi, dokter hanya mendiagnosis Florence mengalami sembelit dan memberi resep obat pencahar yang membuat balita tersebut menangis kesakitan.

Saat perut Florence terus membesar, ibunya, Anna Chattaway, kembali memeriksakannya ke dokter umum. Diagnosis yang diberikan sama, yaitu sembelit.

Anna mengatakan, seorang dokter bahkan sempat berkata kepadanya bahwa mereka tidak menganggap kondisi yang dialami Florence sebagai kanker.

Florence tidak bisa tidur sendiri karena kesakitan. Dia membutuhkan sang ibu untuk menggendongnya dalam posisi tegak.

Setelah keluarga mendesak untuk melakukan tes darah, akhirnya Florence didiagnosis mengidap neuroblastoma pada November 2024. Neuroblastoma merupakan jenis kanker langka yang berkembang dari sel saraf yang belum matang pada anak-anak hingga usia lima tahun.

Florence yang kini sudah berusia dua tahun sudah menjalani operasi untuk mengangkat tumor berukuran 30 cm serta menjalani kemoterapi.

"Dia didiagnosis sebulan setelah ulang tahun pertamanya," kata Anna.

"Ada periode enam minggu sebelumnya sebelum dia sakit karena berbagai hal," tambahnya.

"Dia terkena infeksi, dia menderita penyakit tangan, kaki, dan mulut, dia diberi antibiotik tetapi tidak bisa beraktivitas untuk sementara waktu," tambahnya.

Tumor tersebut memiliki berat 2 kg, sementara Florence hanya memiliki berat 13 kg, sehingga tumor tersebut mencapai 15 persen dari berat badannya.

"Mereka mengira penyakit itu hanya ada di satu tempat, di perutnya, mereka berasumsi penyakit itu terlokalisasi."

Setelah pemindaian lebih lanjut dilakukan pada Januari 2025, Anna dan suaminya menyadari bahwa penyakit tersebut sudah menyebar ke tulang belakangnya.

"Penyakit itu menyebar dengan cepat dalam beberapa minggu, itulah mengapa kami sangat marah karena jika seseorang melihatnya saat pertama kali kami pergi ke dokter umum, kami bisa mendeteksinya lebih cepat."

Pada Maret 2025, hingga 95 persen tumornya berhasil diangkat. Florence selanjutnya menjalani kemoterapi dosis tinggi tiga minggu kemudian.

Florence memulai siklus imunoterapi pada Oktober 2025 sebelum akhirnya tumor tersebut dikatakan berhenti berkembang pada April 2026.

"Sepanjang waktu kami diberitahu bahwa dia baik-baik saja. Setiap kali dirawat, dia selalu penuh semangat, dia sungguh luar biasa," kata Anna.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.