Inspiratif, Warga Tambun Bekasi Ekspor Produk UMKM Kecap ke Beberapa Negara
Joseph Wesly August 24, 2026 10:50 PM

 

Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra

TRIBUNBEKASI.COM, TAMBUN UTARA- Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, berhasil menembus pasar internasional.

Produk tersebut yakni kecap Oishii yang diproduksi Nurjannah Dongoran. Usaha tersebut awalnya dirintis dari skala kecil hingga kini mampu mengirim produknya ke sejumlah negara.

Kecap Oishii telah dipasarkan ke beberapa negara, di antaranya Belanda, Jepang, Malaysia, dan Arab Saudi.

Pada Senin (24/8/2026), Nurjannah mengirim produk kecap Oishii ke Belanda sebanyak sekitar 2.900 kardus dalam satu kontainer.

Formulasi Kecap Disesuaikan dengan Pasar

Nurjannah mengatakan, kecap yang dikirim ke Belanda memiliki formulasi berbeda dengan produk yang dipasarkan di Indonesia.

Penyesuaian tersebut dilakukan berdasarkan permintaan pasar dan buyer di negara tujuan.

"Jadi formulasinya mengikuti permintaan buyer saya, terkhusus di Belanda," kata Nurjannah saat ditemui di Tambun Utara, Senin (24/8/2026).

Meski formulanya dapat disesuaikan, Nurjannah memastikan bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kecap Oishii berasal dari dalam negeri.

Salah satu bahan utama yang menjadi perhatian yakni kedelai lokal non-GMO.

Selain kedelai, proses produksi juga menggunakan rempah-rempah segar.

Menurut Nurjannah, penggunaan bahan baku lokal tidak hanya mendukung keberlangsungan usahanya, tetapi juga memberikan dampak bagi petani dan pedagang rempah.

"Kami komit untuk pakai kedelai lokal. Kedelai lokal yang non GMO. Dan kami yakin bahan non GMO itu akan lebih baik untuk konsumennya," jelasnya.

Kecap Oishii Pernah Diekspor ke Jepang dan Arab Saudi

Perjalanan kecap Oishii menuju pasar internasional telah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

Nurjannah menyebut produknya pertama kali diekspor ke Jepang pada 2020. Namun, saat itu jumlahnya masih terbatas karena hanya memasok satu toko.

Kecap Oishii juga pernah dikirim ke Malaysia dengan skala yang serupa.

Ekspor dalam jumlah besar atau menggunakan satu kontainer penuh baru dilakukan pada akhir 2022.

"Yang mulai full container itu di akhir tahun 2022, Desember. Itu pertama kali kami ekspor full container itu ke Saudi Arabia," paparnya.

Kerja sama dengan buyer dari Arab Saudi kemudian terus berlanjut. Hingga saat ini, kecap Oishii telah mengirim sebanyak enam kontainer ke negara tersebut.

Kini, peluang pasar internasional kembali terbuka setelah produk UMKM asal Tambun Utara itu mendapatkan buyer dari Belanda dengan pesanan satu kontainer penuh.

"Jadi tahun ini kami dapat buyer dengan order yang juga full container ke Belanda. Dan harapannya nanti yang ke Belanda ini juga bisa panjang, bisa banyak order lagi setelahnya," ucapnya.

Nurjannah berharap ekspor tersebut tidak hanya memberikan keuntungan bagi usahanya.

Ia juga ingin perkembangan bisnisnya memberikan dampak positif bagi para petani yang menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku.

Rasa Kecap Disesuaikan dengan Pasar Eropa

Nurjannah mengatakan, menembus pasar internasional tidak cukup hanya dengan membawa produk lokal untuk kemudian dijual di negara lain.

Menurutnya, pelaku UMKM perlu memahami karakteristik konsumen di masing-masing negara, termasuk soal cita rasa.

Karena itu, produk yang dipasarkan di Indonesia memiliki formulasi berbeda dengan kecap yang diekspor ke Belanda.

"Untuk yang dijual di lokal, kami jual dengan brand Oishi. Yang mungkin nanti bisa dicari di market-market seperti Tokopedia," ujarnya.

Berawal dari Garasi Rumah

Keberhasilan kecap Oishii menembus pasar internasional tidak diraih secara instan.

Nurjannah mengawali usaha tersebut pada 2017 dari garasi rumah dengan modal dan peralatan yang masih terbatas.

Ide membuat kecap muncul dari pemikiran sederhana bahwa produk seperti kecap juga seharusnya dapat diproduksi oleh pelaku usaha dalam negeri.

Seiring berjalannya waktu, pesanan dalam jumlah besar mulai berdatangan. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan baru bagi Nurjannah dalam mengembangkan usahanya.

Dukungan keluarga dan anak-anak muda yang bergabung dalam tim produksi menjadi salah satu kunci hingga usaha tersebut mampu berkembang.

Nurjannah bersama tim juga melatih para anak muda agar memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bekerja.

Dengan latar belakang pendidikan gizi, ia menilai proses produksi kecap sebenarnya tidak membutuhkan teknologi luar biasa maupun peralatan yang sangat canggih.

Meski begitu, ia mengakui perjalanan memasarkan produk di dalam negeri juga tidak selalu mudah.

Saat ini, kapasitas produksi kecap Oishii mencapai sekitar 2.000 hingga 4.000 produk per hari.

Untuk harga, produk tersebut tetap dibuat kompetitif dengan kecap lain yang telah beredar di pasaran.

Perjalanan kecap Oishii dari garasi rumah hingga mampu menembus pasar Belanda, Jepang, Malaysia, dan Arab Saudi menjadi gambaran bahwa produk UMKM lokal Kabupaten Bekasi memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.