Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Bara Api Gambut di Way Kambas Lampung Timur
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 24, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menerpa kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung. 

Baca juga: Kebakaran Hutan Way Kambas Padam, Kemenhut Perkuat Proteksi Kesehatan Gajah

Karakteristik lahan gambut yang kering serta menyimpan bara di bawah permukaan tanah membuat api terus meluas dan sulit dipadamkan sepenuhnya.

Hingga Senin (24/8/2026), tim gabungan dari Balai TNWK, TNI, Polri, BPBD, hingga masyarakat setempat masih berjibaku menahan laju si jago merah agar tidak terus merembet ke kawasan permukiman warga. Kepala Balai TNWK, MHD. 

Zaidi mengatakan, berdasarkan pemetaan di lapangan, kebakaran tercatat mulai melonjak sejak Sabtu (21/8/2026) hingga Minggu (22/8/2026) di wilayah Braja Harjosari dengan area terbakar mencapai 673,4 hektar.

Meski sempat berhasil dipadamkan pada jam 19.00 WIB oleh 230 personel gabungan, titik api baru kembali muncul pada Minggu (23/8/2026) di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur, menyeberangkan api ke lahan seluas 100,74 hektar.

Zaidi, menjelaskan bahwa kendala utama pemadaman adalah kondisi tanah gambut yang tetap menyimpan bara api meski permukaan atas tampak sudah padam.

"Kemarin kita sudah berhasil melaksanakan pemadaman sampai jam 02.00 tengah malam bersama Pak Dandim dan Pak Kapolres. Sampai pagi hari pun kondisi api sebenarnya sudah padam. Namun karena lahan gambut dan tidak terdeteksi di bawah permukaan, ditambah cuaca angin kencang, api muncul kembali dan langsung membesar," ujar Zaidi, Senin (24/8/2026).

Saat ini fokus penanganan terbagi menjadi dua sektor utama:

  • Sektor Utara (Braja Kencana): Menjadi titik paling krusial dan mengkhawatirkan. Hembusan angin kencang membuat kobaran api terus menjalar ke arah utara dan barat, membatasi efektivitas pemadaman manual.
  • Sektor Selatan (Karang Anyar): Pergerakan api relatif lebih terkendali karena terhadang sekat bentang alam berupa rawa di sisi timur dan sungai di sisi barat.

Untuk mengamankan sektor selatan dari ancaman perembetan ke permukiman, sebanyak 20 personel Batalyon Yonif dikerahkan di bawah panduan Kepala Resort TNWK.

Menyiasati keterbatasan panjang selang pemadaman yang baru mencapai 800 meter, tim lapangan menerapkan taktik suplai air berantai (estafet).

Air diambil dari sungai menggunakan mesin Alkon menuju tandon penampungan sementara, lalu didorong mesin bertekanan tinggi milik Balai TNWK ke pedalaman hutan.

Tim mengoptimalkan pemadaman fisik pada sore hari saat angin mulai mereda. Dia menegaskan penanganan karhutla ini menjadi prioritas lintas instansi untuk meminimalkan dampak ekologis terhadap satwa dilindungi di TNWK.

Penyebab awal munculnya titik api saat ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. "Sebanyak 12 unit jet shooter disiagakan di sektor barat yang sudah padam untuk 'menyuntikkan' air langsung ke dalam lapisan gambut guna mematikan sisa bara tersembunyi," tutupnya.  (Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.