TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nama mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menguat dalam bursa calon Rais Aam PBNU menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur.
Said Aqil dinilai memiliki modal pengalaman, kemampuan konsolidasi, serta rekam jejak dalam menangani berbagai persoalan internal maupun isu keumatan yang menjadi tantangan NU.
Baca juga: Mukti Ali Soroti Konflik Internal Jelang Muktamar NU: “Boro-Boro Pikirkan Isu Global”
Penilaian tersebut disampaikan Tokoh Senior NU KH Adnan Anwar. Ia mengaku memiliki pengalaman berinteraksi cukup lama dengan Said Aqil, termasuk ketika Said Aqil memimpin PBNU selama dua periode.
"Saya mengikuti kabinetnya Pak Said. Saya juga lama berinteraksi dengan beliau. Setahu saya, dalam dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said itu relatif aman. Nggak ada masalah," kata Adnan dalam diskusi bertajuk Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU yang digelar Suluh Nahdliyin di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Enam Hari Menuju Muktamar NU di Jombang, Gus Ipul Pastikan DPT Rampung
Menurut Adnan, kemampuan menjaga stabilitas organisasi menjadi salah satu modal penting yang perlu dipertimbangkan dalam memilih Rais Aam PBNU.
Dia mengatakan, berbagai persoalan dalam organisasi tetap muncul selama kepemimpinan Said Aqil. Namun, persoalan tersebut dinilai dapat diselesaikan tanpa berkembang menjadi konflik yang mengganggu keutuhan organisasi.
"Artinya Pak Said itu figur yang konsolidator. Sosok yang pengalaman, kemudian beliau juga berinteraksi dengan masalah geopolitik. Itu sangat penting," bebernya.
Adnan menilai pengalaman tersebut relevan dengan posisi Rais Aam yang tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam persoalan keagamaan internal NU, tetapi juga membawa pandangan organisasi dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan dan global.
Selain kemampuan konsolidasi, Adnan juga menyoroti karakter Said Aqil yang dinilai tidak hanya mengambil posisi dari balik meja ketika menghadapi persoalan.
Menurut dia, Said Aqil dikenal sebagai figur yang turun langsung untuk mencari penyelesaian ketika muncul persoalan yang berpotensi menimbulkan polemik di kalangan warga NU.
Salah satu yang dicontohkannya adalah ketika muncul polemik mengenai nasab Ba'alawi. Saat itu, kata Adnan, Said Aqil turut memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut sehingga polemik dapat diredam.
"Selama kepemimpinan Kiai Said, tidak pernah ada keributan, karena semua masalah bisa dibereskan," ujarnya.
Baca juga: Muktamar NU dan Kewajiban Membuka Laporan Keuangan
Adnan mengatakan kemampuan menyelesaikan persoalan tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang menurutnya penting dalam melihat figur yang akan menduduki posisi Rais Aam.
Terlebih, posisi Rais Aam PBNU merupakan jabatan yang memiliki peran sentral dalam menjaga arah keagamaan sekaligus marwah organisasi.
Meski menilai Said Aqil memiliki keunggulan dari sisi pengalaman dan konsolidasi, Adnan menyadari terdapat sejumlah nama lain yang juga disebut-sebut dalam bursa Rais Aam PBNU, dua di antaranya yakni KH Ma'ruf Amin dan KH Miftachul Akhyar.
Menurut Adnan, Ma'ruf Amin juga merupakan figur yang memiliki pengalaman panjang, baik di lingkungan NU maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara untuk Miftachul Akhyar, Adnan menyoroti dinamika kepemimpinan NU dalam beberapa tahun terakhir yang diwarnai konflik antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Dia menilai konflik tersebut menjadi catatan yang perlu diperhatikan dalam menentukan figur Rais Aam berikutnya.
"Kalau memecat, kebahayanya kan personifikasi individu. Seolah-olah NU itu menjadi urusan individu. Itu implikasi bahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah. Itu kan belum pernah terjadi ya," tegasnya.
Adnan mengatakan, dinamika internal dalam organisasi NU sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Namun, mekanisme penyelesaian konflik dan rekonsiliasi menjadi hal penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Ia mencontohkan, dalam sejarah kepengurusan NU pernah terdapat pengurus yang diberhentikan. Namun, persoalan tersebut pada akhirnya dapat diselesaikan melalui rekonsiliasi.
"Peristiwa pecat-memecat itu jarang terjadi. Di sepanjang kami di PBNU dulu ya, tidak ada pecat-memecat," tegas Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) tersebut.
Penilaian terhadap rekam jejak para kandidat Rais Aam mencuat menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur.
Pemilihan Rais Aam sendiri memiliki mekanisme tersendiri melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Karena itu, nama-nama yang muncul dalam bursa belum dapat dimaknai sebagai kepastian mengenai siapa yang akan menduduki posisi Rais Aam.
"Pengalaman, kemampuan menjaga konsolidasi, serta kecakapan menghadapi persoalan internal dan eksternal menjadi sejumlah kriteria penting yang perlu diperhatikan dalam menentukan pemimpin tertinggi di jajaran Syuriyah PBNU," tandasnya.
Sebagai informasi, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang.
Agenda besar nahdliyin ini bakal dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Beberapa nama yang dikabarkan turut meramaikan bursa Caketum PBNU antara lain petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH M. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), dan KH M. Zaim Chasbullah (Gus Zaim).
Selain itu, muncul pula nama ulama terkemuka lainnya seperti KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), serta KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).