TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Barat masih belum menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Kondisi cuaca yang cenderung kering membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Kalimantan Barat, Sutikno, mengatakan berdasarkan citra satelit cuaca hingga pukul 06.00 WIB, secara umum belum terlihat adanya pertumbuhan awan konvektif yang signifikan di wilayah Kalbar, Selasa 25 Agustus 2026.
"Hingga pukul 06.00 WIB, citra satelit cuaca secara umum menunjukkan bahwa tidak terdapat pertumbuhan awan konvektif," kata Sutikno, Selasa 25 Agustus 2026.
• Patroli Siang Polsek Meranti Sapa Warga, Polisi Ingatkan Kamtibmas dan Bahaya Kabut Asap
Meski sebagian besar wilayah masih berpotensi mengalami cuaca kering, BMKG Kalbar mencatat adanya peluang hujan dengan intensitas ringan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data terbaru BMKG Kalbar, hujan ringan berpotensi terjadi pada pukul 07.00 hingga 22.00 WIB di beberapa kabupaten/kota.
Wilayah yang berpotensi mengalami hujan ringan tersebut meliputi Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Kapuas Hulu, Sekadau, Sintang, Sambas, dan Mempawah.
Namun, potensi hujan yang hanya terjadi secara lokal belum cukup untuk menghilangkan ancaman karhutla. Kondisi lahan yang masih kering tetap dapat meningkatkan risiko munculnya dan meluasnya kebakaran.
"Karhutla masih perlu untuk diwaspadai hingga tiga hari ke depan," pungkas Sutikno.
BMKG Kalbar mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih relatif kering.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
22 Agustus 2026
Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, terdapat 2.842 hotspot di Kalimantan Barat yang terdeteksi pada 22 Agustus 2026 pukul 00.00–23.00 WIB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.475 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 281 titik kepercayaan tinggi, dan 86 titik kepercayaan rendah.
Sebaran hotspot berdasarkan kabupaten/kota sebagai berikut:
Ketapang: 1.377 hotspot.
Sanggau: 247 hotspot.
Kubu Raya: 245 hotspot.
Kayong Utara: 224 hotspot.
Sintang: 145 hotspot.
Landak: 130 hotspot.
Melawi: 130 hotspot.
Sekadau: 123 hotspot.
Kapuas Hulu: 85 hotspot.
Bengkayang: 83 hotspot.
Sambas: 24 hotspot.
Mempawah: 17 hotspot.
Singkawang: 12 hotspot.
Pontianak: tidak terdeteksi hotspot.
Ketapang menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 1.377 titik.
Dari jumlah tersebut, 1.170 merupakan hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah, 155 kepercayaan tinggi, dan 52 kepercayaan rendah.
Selain data harian BMKG tersebut, dalam rapat penanganan karhutla pada 22 Agustus, BNPB melaporkan pemantauan satelit selama 24 jam mendeteksi 198 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, 3.100 hotspot kepercayaan menengah, dan 406 hotspot kepercayaan rendah di Kalbar.
Konsentrasi utama disebut berada di Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, Sintang, dan Sambas.
23 Agustus 2026
Data SIPONGI Kementerian Kehutanan per 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB menunjukkan penurunan sangat signifikan. Jumlah hotspot Kalimantan Barat tercatat hanya 28 titik.
Sebarannya terdiri dari:
Ketapang: 16 hotspot.
Melawi: 11 hotspot.
Kubu Raya: 1 hotspot.
Kabupaten/kota lainnya: tidak tercatat hotspot.
Dengan demikian, total hotspot Kalbar pada 23 Agustus mencapai 28 titik, dengan Ketapang masih menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak.
Penurunan jumlah hotspot tersebut belum berarti ancaman karhutla dan asap telah berakhir.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut asap masih terlihat meskipun api permukaan tidak tampak. Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih banyak.(*)