TRIBUNJATIM.COM - Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali mengingat kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani akhlak dan perjalanan hidupnya.
Secara tradisi, Maulid Nabi diperingati pada 12 Rabiul Awal.
Namun, peringatan tersebut bukanlah tradisi yang muncul pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Dalam sejarahnya, peringatan Maulid berkembang beberapa abad setelah Rasulullah wafat dan kemudian mengalami penyesuaian dengan tradisi masyarakat Muslim di berbagai wilayah.
Baca juga: Kumpulan Contoh Sambutan Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 untuk Acara Sekolah hingga Lingkungan Rumah
Sejumlah sumber sejarah menyebut tradisi Maulid mulai dikenal dalam lingkungan pemerintahan Islam pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-11 Masehi, dikutip dari Baznas.go.id.
Dari Mesir, tradisi tersebut kemudian berkembang ke berbagai kawasan dunia Islam. Bentuk pelaksanaannya pun beragam, menyesuaikan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat di Asia, Afrika, hingga Eropa.
Dalam praktiknya, Maulid tidak hanya diisi dengan kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah. Masyarakat Muslim juga menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak kegiatan keagamaan dan sosial.
Pengajian, pembacaan sirah Nabi, selawat, pemberian makanan, sedekah, hingga kegiatan sosial menjadi sejumlah aktivitas yang kerap digelar dalam peringatan Maulid.
Salah satu tokoh yang memiliki kaitan dengan perkembangan tradisi Maulid adalah Muzhaffaruddin Gökböri, penguasa Irbil di wilayah yang kini berada di Irak, dikutip dari https://kotasemarang.baznas.go.id/.
Pada masa pemerintahannya, peringatan Maulid disebut digelar secara besar-besaran dengan rangkaian kegiatan keagamaan dan sosial.
Peringatan Maulid juga menjadi pembahasan di kalangan ulama. Terdapat perbedaan pandangan mengenai bentuk dan hukum pelaksanaannya.
Sebagian ulama memandang Maulid dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW selama kegiatan yang dilakukan tidak bertentangan dengan syariat.
Imam Jalaluddin al-Suyuti, misalnya, membahas persoalan Maulid dalam Husnul Maqsid fi Amalil Maulid. Pembahasannya mengaitkan kegiatan tersebut dengan berbagai amalan baik, seperti membaca Al-Qur'an, berselawat, dan mengikuti pengajian.
Pandangan mengenai Maulid juga dikaitkan dengan Imam Ibn Hajar al-Asqalani melalui pembahasan dalam Fath al-Bari. Meski demikian, konteks dan rincian pandangan tersebut perlu dipahami secara menyeluruh.
Di sisi lain, tidak terdapat perintah secara eksplisit dalam Al-Qur'an maupun hadis untuk menjadikan Maulid sebagai perayaan khusus. Peringatan tersebut juga tidak dilakukan ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Karena itu, bentuk peringatan Maulid yang berkembang saat ini merupakan tradisi yang muncul kemudian dan berbeda-beda di setiap daerah.
Di sejumlah tempat, Maulid diisi dengan kajian dan pembacaan kisah kehidupan Nabi. Sementara masyarakat lainnya memilih mengadakan selawat, ceramah agama, sedekah, pembagian makanan, maupun kegiatan sosial.
Pada 2026, Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Menjelang peringatan tersebut, masyarakat mulai menyiapkan berbagai kegiatan sekaligus membagikan ucapan Maulid melalui media sosial.
Salah satu bentuk yang dapat digunakan adalah poster Maulid Nabi.
Poster bertema Maulid dapat berisi ucapan selamat, pesan mengenai keteladanan Rasulullah SAW, informasi kegiatan, maupun ajakan untuk memperbanyak selawat.
Media visual tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Poster bisa dibagikan melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, dan platform media sosial lainnya.
Selain dibagikan secara digital, poster Maulid Nabi juga dapat dicetak untuk dipasang di masjid, sekolah, pesantren, atau lingkungan masyarakat sebagai bagian dari dekorasi kegiatan.
Dengan demikian, poster tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi.
Konten tersebut juga dapat menjadi pengingat agar momentum Maulid Nabi diisi dengan kegiatan keagamaan dan sosial yang positif serta sesuai dengan nilai-nilai Islam.