Ledre Laweyan Ibu Sri Martini, Kuliner Legendaris di Gang Sempit Solo Sejak 1984
Garudea Prabawati August 25, 2026 11:38 AM

 

 

TRIBUNNEWS.COM – Kampoeng Batik Laweyan tak hanya menjadi sentra batik di Surakarta, Jawa Tengah.

Di sepanjang jalan utama kampung maupun di dalam gang-gang sempitnya, terdapat berbagai hal unik dan menarik lainnya.

Salah satunya berada di dalam gang kecil Jalan Setono RT 02/RW 02, Kampoeng Batik Laweyan, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Hanya beberapa meter dari pintu masuk gang, kemudian berbelok ke kiri dengan berjalan kaki, suara desis wajan panas disertai aroma makanan menguar dari salah satu teras rumah warga.

Di tempat sederhana itu, Ledre Laweyan Ibu Sri Martini telah bertahan sejak 1984.

Kuliner berbahan dasar ketan, parutan kelapa, dan pisang tersebut hingga kini masih dibuat dengan resep yang diwariskan sang pendiri kepada generasi berikutnya.

Berawal dari Sebuah Wajan

Susilo (50), pemilik Ledre Laweyan Ibu Sri Martini, merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha tersebut setelah ibunya wafat.

Sebelum membuat ledre, sang ibu lebih dahulu berjualan batik jarik. Saat berjualan, sang ibu juga kerap membawa serta kedua anaknya yang masih kecil.

“Ibu dulu juga jualan batik sebenarnya. Mulai muda, jual batik jarik. Kulakan di Laweyan terus dijual ke Ambarawa. Bawa dagangan pakai tangan, ngajak saya sama kakak saya juga, masih kecil-kecil. Terus naik bus,” terang Susilo saat ditemui Tribunnews pada Senin (24/8/2026).

Hingga suatu ketika, juragannya di Ambarawa merasa kasihan. Ia kemudian memberikan sebuah wajan dan menyarankan agar sang ibu tidak lagi berjualan.

Wajan tersebut disimpan selama bertahun-tahun, sementara sang ibu terus memikirkan wajan tersebut akan digunakan untuk apa.

LEDRE LAWEYAN - Suasana Ledre Laweyan Ibu Sri Martini di Jalan Setono No. 158 RT 02/ RW 02, Kampoeng Batik Laweyan, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Surakarta pada Senin (24/8/2026) (mg/Dhesti Qorita Ayun)
LEDRE LAWEYAN - Suasana Ledre Laweyan Ibu Sri Martini di Jalan Setono No. 158 RT 02/ RW 02, Kampoeng Batik Laweyan, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Surakarta pada Senin (24/8/2026) (mg/Dhesti Qorita Ayun) (Tribunnews.com/(mg/Dhesti Qorita Ayun))

Hingga pada 1984, muncul ide untuk membuat ledre khasnya. Dari situlah usaha Ledre Laweyan mulai dirintis.

“Mulai 80-an sampai 84 itu ibu mikir, pakai ini (wajan) untuk apa? Dan akhirnya ini (Ledre Laweyan), 1984 mulai buat ini,” ujar Susilo.

Resep yang Dipertahankan Puluhan Tahun

Puluhan tahun berjalan, resep dasar Ledre Laweyan masih dipertahankan. Bahan, bumbu, hingga rasa masih mengikuti resep yang dibuat sang ibu.

“Dari mulai resep… bumbu, bahan, rasa sampai sekarang masih sama,” katanya.

Perubahan baru dilakukan pada bagian topping. Jika dahulu ledre yang dibuat hanya menggunakan pisang, kini tersedia beberapa pilihan lainnya, seperti pisang cokelat, pisang keju, serta pisang cokelat dan keju.

Untuk harganya, satu buah ledre dibanderol mulai Rp3.500 hingga Rp4.500, tergantung topping yang digunakan.

Meski terdapat tambahan topping, resep dasar dan cita rasa ledre tetap dipertahankan.

Ketan, Kelapa, Pisang, serta Dimasak Manual

Ledre Laweyan dibuat dari bahan yang sederhana, yakni ketan, parutan kelapa, dan pisang. Tidak ada tambahan minyak maupun gula dalam adonannya.

Susilo menjelaskan, rasa manis pada ledre berasal dari pisang jenis pisang raja. Sementara itu, minyak untuk proses memasak berasal dari parutan kelapa yang mengeluarkan minyak ketika terkena panas.

“Bahannya itu ketan, parutan kelapa, pisang raja. Kita nggak pakai minyak, nggak pakai gula. Kan manisnya, manis pisang. Minyaknya dari kelapa dalam ketan, kalau kena panas keluar minyaknya,” jelas Susilo.

Adonan dasar terbuat dari campuran ketan dan parutan kelapa yang telah dikukus.

Setelah memastikan wajan sudah panas, adonan tersebut dibentuk menjadi bola, kemudian dipipihkan tepat di atas alat masak tersebut.

Selanjutnya, pisang raja yang telah dilumatkan secara manual menggunakan garpu diratakan di atasnya.

Tak lupa ditambahkan taburan topping sesuai pesanan.

Ledre kemudian dimasak hingga matang sebelum dilipat. Hasil akhirnya berupa tekstur luar yang garing kecokelatan, dipadukan dengan tekstur bagian dalam yang empuk.

Proses tersebut terlihat sederhana, tetapi membutuhkan waktu dan tenaga karena seluruhnya dibuat secara manual.

Tak hanya itu, tingkat panas yang tepat pada wajan juga menjadi salah satu kunci agar ledre tidak lengket saat dimasak.

“Jadi harus pakai wajan yang panas. Kalau wajannya nggak panas, lengket nanti,” ucap pria berusia 50 tahun tersebut.

Meskipun begitu, cara pengolahan manual yang sederhana ini tetap dipertahankan hingga sekarang.

Tersembunyi di Gang dan Punya Cabang Usaha

Lokasi Ledre Laweyan berada di dalam gang kecil dan memanfaatkan teras rumah sebagai tempat berjualan.

Pembeli yang datang akan mencatat pesanan terlebih dahulu di kertas yang telah disediakan.

Jika antrean panjang, pembeli dapat berkeliling Kampoeng Batik Laweyan sambil menunggu pesanannya selesai.

Ledre Laweyan buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk hari libur, jadwal operasionalnya tidak selalu tetap.

Selain di Laweyan, kini Ledre Laweyan dengan resep Ibu Sri Martini juga dijual di Jalan Kalingga IV No. 7 RT 07/RW 02, Banyuagung, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta.

Dari sebuah wajan, lahirlah usaha Ledre Laweyan yang telah berjalan puluhan tahun. Resep unik yang dibuat sang ibu masih menjadi dasar pembuatan hingga sekarang.

Di tengah kawasan Laweyan yang dikenal sebagai kampung batik, Ledre Laweyan menjadi salah satu kuliner sederhana yang tersembunyi di balik gang sempit sekaligus menyimpan cerita perjalanan sebuah usaha yang mampu bertahan sejak 1984 hingga kini.

(Mg/Dhesti Qorita Ayun)

Penulis adalah peserta magang dari Universitas Sebelas Maret.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.