BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang berencana menjadikan Festival Nganggung sebagai agenda pariwisata tahunan sekaligus mengusulkannya masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.
Rencana tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Pangkalpinang Yan Rizana usai pelaksanaan Festival Nganggung 2026 di kawasan Masjid Raya Tuatunu, Pangkalpinang, Selasa (25/8/2026).
Yan mengatakan, Festival Nganggung tahun ini menjadi momentum untuk mengangkat tradisi lokal dalam kemasan kegiatan pariwisata yang lebih besar.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perayaan budaya dan keagamaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi salah satu agenda unggulan Kota Pangkalpinang.
"Harapannya ini agenda tahunan kita, agenda tahunan Pemerintah Kota Pangkalpinang, yang setiap tahun pelaksanaannya ada kreativitas, ada inovasi terus didalamnya," kata Yan kepada awak media, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, Pemkot Pangkalpinang selanjutnya akan mengajukan Festival Nganggung kepada Kementerian Pariwisata agar dapat menjadi salah satu event dalam KEN.
"Sehingga nanti kami akan mengajukan juga ke Kementerian Pariwisata ini menjadi event kita. Mudah-mudahan nanti menjadi KEN kita juga," ujarnya.
Festival Nganggung 2026 sendiri digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengusung tema "1000 Pintu 1000 Dulang".
Pelaksanaan tahun ini dibuat lebih besar dengan menyatukan perayaan Nganggung dari sejumlah masjid di kawasan Tuatunu.
Yan menjelaskan, sebelumnya perayaan Maulid Nabi dengan tradisi Nganggung di Tuatunu umumnya digelar secara terpisah di masing-masing masjid.
Tahun ini, seluruh dukungan tersebut dipusatkan di Masjid Raya Tuatunu.
Sedikitnya tiga masjid utama terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Masjid Al-Ikhlas, Masjid Muhajirin dan Masjid Al-Aqsha. Selain itu, sekitar 40 masjid di kawasan Tuatunu turut memberikan dukungan.
"Artinya inilah kita merepresentasikan kebersamaan kita, 1000 Dulang dan 1000 Pintu," ujarnya.
Yan mengatakan, jumlah dulang yang terkumpul dalam Festival Nganggung tahun ini diperkirakan bahkan melebihi angka 1.000.
Namun, pihaknya tidak melakukan penghitungan secara khusus terhadap jumlah dulang yang dibawa masyarakat.
"Insya Allah, sebetulnya lebih dari 1.000. Tapi kami tidak menghitung," katanya.
Ia menjelaskan, angka 1.000 dalam tema festival bukan semata-mata menunjukkan jumlah dulang, tetapi menjadi simbol banyaknya masyarakat yang terlibat dalam tradisi tersebut.
Penyatuan perayaan di Masjid Raya Tuatunu juga menjadi pembeda dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.
"Kalau tahun kemarin hanya dirayakan satu pintu, itu cuma di satu masjid. Dan ini kita menyatukan semua masjid yang ada di sini di Masjid Raya Tuatunu," ujarnya.
Yan menambahkan, untuk saat ini Festival Nganggung masih difokuskan di kawasan Tuatunu sebagai salah satu kawasan yang memiliki kekuatan tradisi Melayu dan budaya Nganggung.
Kedepan, pihaknya membuka peluang agar perayaan serupa dapat dikembangkan di kawasan lain di Kota Pangkalpinang sehingga gaung tradisi tersebut semakin luas.
Di sisi lain, Yan menegaskan bahwa tradisi Nganggung sendiri telah memiliki status sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014.
"Karena itu, pengembangan Festival Nganggung sebagai event pariwisata diharapkan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga nilai dan bentuk tradisi yang diwariskan masyarakat," pungkasnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)