SURYA.co.id, BANGKALAN - Puncak musim kemarau membuat kebutuhan air bersih di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, terus meluas.
Hingga pekan keempat Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan mencatat 25 desa di tujuh kecamatan telah terdampak kekeringan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan kondisi pada awal Juli 2026.
Saat itu, BPBD Bangkalan baru mencatat 20 desa terdampak di empat kecamatan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangkalan Arif Rachman Surya Atmaja mengatakan, perluasan wilayah krisis air membuat distribusi bantuan terus dilakukan secara bertahap.
Tambahan bantuan air bersih telah dialokasikan untuk Desa Delembeh Dajah dan Desa Batangan di Kecamatan Tanah Merah serta Desa Bangsereh dan Gangsiyan di Kecamatan Sepulu.
"Besok kami akan mengirim bantuan air bersih sebanyak dua tangki masing-masing 5.000 liter ke Desa Batonaong di Kecamatan Arosbaya," ungkap Arif Rachman kepada SURYA.co.id, Selasa (25/8/2026).
Perluasan kekeringan membuat wilayah distribusi air bersih BPBD Bangkalan kini mencakup tujuh kecamatan, yakni Tanah Merah, Sepulu, Kwanyar, Kokop, Arosbaya, Blega, dan Geger.
Di Kecamatan Tanah Merah, bantuan telah disalurkan ke lima desa, yaitu Pangeleyan, Padurungan, Pacentan, Batangan, dan Delembeh Dajah.
Kecamatan Kwanyar tercatat memiliki satu desa penerima bantuan, yakni Morombuh.
Sementara di Kecamatan Kokop, bantuan didistribusikan ke Desa Durjan, Tramok, Bendeng Laok, Bendehsoleh, serta Tramok.
Di Kecamatan Arosbaya, empat desa telah mendapatkan bantuan, yakni Batonaong, Ombul, Glagga, dan Panden Lanjeng.
Untuk Kecamatan Blega, bantuan diberikan kepada Desa Bates dan Panjelinan.
Sedangkan di Kecamatan Sepulu mencakup Gunelap, Saplasah, Kelbung, Bansereh, Klapayan, dan Ganseyan.
Adapun di Kecamatan Geger, distribusi bantuan dilakukan untuk Desa Banyoning Dajah.
"Total sekarang ada 25 desa terdampak kekeringan. Selain dari kami, pengiriman juga dilakukan secara bergantian oleh Palang Merah Indonesia Bangkalan dan PDAM Bangkalan," jelas Arif.
BPBD Bangkalan mengantisipasi kondisi kekeringan masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Berdasarkan prakiraan cuaca yang diterima BPBD dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode Agustus hingga September 2026 merupakan puncak musim kemarau.
Karena itu, BPBD tidak hanya memusatkan perhatian pada pemenuhan kebutuhan air bersih.
Ancaman kebakaran lahan juga menjadi perhatian selama kondisi cuaca panas dan kering.
Arif mengatakan, BPBD meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan jalur poros nasional.
Asap akibat kebakaran lahan dikhawatirkan mengganggu jarak pandang dan keselamatan pengguna jalan.
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah sepanjang akses Suramadu sisi Madura.
"Panasnya terik sampai September nanti, kami memang siaga kebakaran lahan karena asap bisa mengganggu pengendara. Terutama di pinggir jalan nasional seperti di sepanjang akses Suramadu sisi Madura," papar Arif.
Selain menghadapi dampak kemarau di daratan, BPBD Bangkalan juga mengingatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan, untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum melaut.
Kondisi angin yang kencang dan gelombang laut yang tinggi dinilai berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran.
"Saat ini angin sedang kencang dan gelombang air laut tinggi," pungkas Arif.
BPBD Bangkalan mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi cuaca dan mengutamakan keselamatan, baik dalam memenuhi kebutuhan air selama kemarau maupun saat menjalankan aktivitas di laut.